
Amuba Pemakan Otak, Jarang tapi Fatal
Oleh Erry Yulia Siahaan
“Amuba pemakan otak”, demikian sebutan untuk makhluk mikro ini. Mendengar namanya saja kita tentu ngeri, bahkan bikin panik.
Bernama Latin Naegleria fowleri, makhluk ini memang bisa menginfeksi otak. Begitu makhluk ini masuk bersama air yang terkontaminasi lewat hidung misalnya, ia bisa tiba di otak dan menimbulkan kerusakan pada jaringan-jaringan yang ada di sana, dengan berbagai gejala yang fatal. Infeksi otak langka akibat amuba yang bisa mengancam jiwa ini sering disebut sebagai primary amoebic meningoencephalitis (PAM).

Nama mikroorganisme bersel tunggal ini muncul lagi di ruang publik setelah adanya laporan kasus baru menjelang akhir 2022. Seorang pria yang tidak diketahui identitasnya masuk rumah sakit pada 10 Desember 2022, sehari setelah dia tiba di Korea Selatan (Korsel). Dia menjalani perawatan intensif selama berhari-hari, kemudian meninggal pada 21 Desember 2022. Lelaki berusia 50 tahun itu baru kembali dari Thailand, setelah berada di negara itu empat bulan lamanya.
Pihak kesehatan di Korsel menelusuri penyebab pasti kematian pria tersebut dengan melakukan serangkaian tes. Akhirnya, mereka menemukan infeksi Naegleria fowleri di dalam tubuh pria tersebut. Korea Times pada 29 Desember 2022 menyatakan, itu adalah kasus infeksi Naegleria fowleri pertama di Korea.
Dilansir dari berbagai media, kasus itu bukanlah yang pertama kali ditemukan di dunia. Sejak pertama kali kasusnya muncul pada 1937 di Virginia, Amerika Serikat, hingga 2018 jumlah insidensi Naegleria fowleri sudah mencapai 381 kasus di berbagai negara, yakni India, Thailand, Amerika Serikat, China, dan Jepang, ditambah kasus lain di Pakistan pada Mei 2022 dan tambahan kasus baru di AS.
Di AS khususnya, angka kasus mencapai 154 sejak pertama kali dilaporkan tahun 1962 hingga 2021, di mana 31 kasus terjadi dalam 10 tahun sejak 2012. Kasus terbaru adalah yang terjadi pada remaja laki-laki berusia 18 tahun di Nevada setelah berenang di Danau Mead di Arizona awal Oktober 2022. Dari jumlah ini, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (Centers for Disease Control and Prevention/CDC) melaporkan hanya empat orang yang berhasil selamat. Satu pasien pada 1978, dua pasien pada 2013, dan satu orang pada 2016. Salah seorang yang selamat pada 2013, yakni seorang anak laki-laki berusia 8 tahun, sempat mendapatkan pengobatan, namun itu dilakukan beberapa hari setelah gejala penyakit mulai muncul. Meskipun selamat, dia menderita kerusakan otak yang tampaknya permanen.
Sangat Jarang
Pihak Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA) sendiri belum bisa memastikan bagaimana infeksi tersebut bisa terjadi. Mereka menduga bahwa penyebab terjadinya penularan adalah karena pria itu melakukan aktivitas berenang atau menggunakan air yang telah terkontaminasi organisme tersebut.
Kasus infeksi Naegleria fowleri bersifat fatal, meskipun tergolong sangat jarang kejadiannya.
“But it is a very, very rare disease,” kata Brian Labus, ahli kesehatan masyarakat dari AS seperti dikutip dari situs the Guardian.
Infeksi terjadi langsung dari habitat di mana makhluk itu berada kepada manusia. Penularan dari manusia ke manusia dilaporkan tidak memungkinkan. Namun demikian, seperti diingatkan oleh KDCA, kehati-hatian tetap diperlukan. Masyarakat diminta menghindari aktivitas di air tawar yang hangat, yang merupakan tempat yang cocok untuk keberadaan Naegleria fowleri. Konon, suhu relatif tinggi (hingga 46 derajat Celsius) sangat cocok bagi makhluk hidup ini. Bahkan, ia bisa bertahan dalam waktu singkat pada suhu yang lebih tinggi. Ia juga bisa masuk ke manusia melalui air keran (yang terkontaminasi) sewaktu membersihkan hidung.

Di Indonesia, belum pernah ada laporan mengenai insidensi penyakit ini. Namun demikian, pengenalan dan kewaspadaan tetap diperlukan mengingat habitat Naegleria fowleri bisa ada di mana saja, terutama di air tawar yang hangat seperti danau, sungai, mata air panas, dan tanah yang hangat. Apalagi karena tingkat kematian akibat PAM bisa mencapai 97 persen.
Itu sebabnya, Rabu (22 Februari 2022) malam, Rumah Sakit Siloam Mampang, Jakarta, mengadakan acara langsung bincang-bincang dengan narasumber dr. Laura Panca Susila Tambunan, M.Kes, M.Ked(Neu), Sp.N (spesialis saraf), yang dimoderatori oleh dr. Herlita Purba. Acara itu, yang bertajuk “Harus Tau, Penyebab Dan Gejala Infeksi Amoeba Pemakan Otak”, bertujuan mengedukasi masyarakat untuk mengenali protozoa yang telah merenggut nyawa di berbagai negara, mengetahui cara penularannya, dan mewaspadai.
Fatal
Meskipun tergolong sangat jarang, infeksi Naegleria fowleri bersifat fatal. Angka kematiannya di AS mencapai 97 persen.
Biasanya gejala PAM mulai dirasakan sekitar lima hari setelah infeksi, namun bisa terjadi kapan saja pada rentang 1-12 hari setelah masa inkubasi. Sedangkan kematian bisa terjadi dalam hitungan hari (lima hari). Ada juga yang mengatakan, kematian bisa terjadi dalam waktu 1-18 hari.
Gejalanya berupa sakit kepala, demam, muntah, sulit bicara, tegang di bagian leher, seperti dialami oleh pasien di Korsel. Menurut situs insider.com, gejala pusing hebat dan tegang leher merupakan salah satu indikasi meningitis. Gejala lain berupa kebingungan, halusinasi, kejang, kurang perhatian terhadap orang-orang sekitarnya, kehilangan keseimbangan. Tegang leher, kejang, dan koma biasanya disusul kematian. Begitu gejala awal muncul, biasanya penyakit berkembang secara cepat dalam hitungan hari yang kemudian membawa pasien pada kematian. Begitu cepat, sehingga pasien sudah lebih dulu meninggal sebelum diagnosis sempat ditegakkan.

Bisa Dicegah
“Tingkat kematiannya 97 persen, tetapi kemungkinannya untuk bisa dicegah 99 persen,” ujar Dennis Kyle, guru besar penyakit menular dan biologi seluler yang juga Direktur the Center for Tropical and Emerging Global Diseases di the University of Georgia, sebagaimana diberitakan oleh situs the Guardian pada Oktober 2022.
Menurut CDC AS dan Laura, infeksi bisa dicegah dengan menghindari mandi di perairan yang diduga sebagai habitat yang cocok untuk kuman tersebut, serta mencegah air masuk ke hidung sewaktu mandi, berenang, menyelam, atau memposisikan kepala di bawah air sehingga memudahkan air masuk ke hidung. Disarankan pula untuk tidak langsung melompat ketika masuk ke air, melainkan berjalan secara wajar saja. Jadi, penting sekali melindungi hidung agar tidak kemasukan air tercemar. ***











2 komentar