
Redundant 14:
Kenali dan Waspadai
Oleh Erry Yulia Siahaan
“Mencegah lebih baik daripada mengobati.” Nasehat ini sangat mujarab jika kita ingin meminimalisir risiko terkena penyakit. Pepatah ini berlaku juga untuk merespon kasus infeksi amuba pemakan otak, yang masih menyita perhatian praktisi kesehatan khususnya dan publik umumnya. (Baca: Redundant 12: Amuba Pemakan Otak, Jarang tapi Fatal)
Sejumlah laporan dalam jurnal ilmiah mengemukakan, kasus-kasus infeksi Naegleria fowleri (nama kuman tersebut) tidak hanya terjadi di negara subtropis, seperti Amerika Serikat (AS), melainkan juga di negara tropis termasuk yang ada di Asia Tenggara. Munculnya kasus-kasus infeksi Naegleria fowleri ditengarai telah dipicu oleh adanya perubahan iklim, khususnya di negara subtropis. Suhu Bumi yang menjadi lebih panas mengakibatkan antara lain naiknya suhu air dan turunnya permukaan perairan air tawar, seperti di sungai dan danau, yang merupakan habitat yang cocok untuk pertumbuhan amuba tersebut. Populasi spesies ini bisa meningkat di air pada suhu panas, seiring dengan meningkatnya jumlah bakteri yang menjadi makanannya (Baca: Redundant 13: Gegara Perubahan Iklim)
Namun demikian, sejumlah ahli ada yang menduga, munculnya lebih banyak kasus di negara subtropis ketimbang negara-negara tropis, itu disebabkan sistem pelaporan yang jauh lebih baik di negara subtropis dibandingkan di negara tropis. Demikian pula halnya dengan kemampuan sumberdaya manusia dan peralatan untuk menegakkan diagnosa. Ini sebagaimana dimuat dalam jurnal ilmiah Front. Cell. Infect. Microbiol. Volume 12 – 2022.
Jika pendapat terakhir ini benar, kita justru perlu lebih waspada. Indonesia sebagai negara tropis dan masih berkembang, idealnya mengantisipasi kemungkinan risiko munculnya kasus di tengah masyarakat. Artinya, sosialisasi informasi sudah saatnya dimulai ke masyarakat, tidak harus menunggu ada kasus dulu, baru bergerak. Apalagi, data menunjukkan, bahwa dari 381 kasus yang dilaporkan pada tahun 1962-2018, sebanyak 182 kasus sudah dapat dipastikan menderita PAM, termasuk yang ada di Asia Tenggara. Meskipun kasus PAM di Asia Tenggara hanya ditemukan di dua negara, yaitu Thailand dan Vietnam, bukan berarti negara-negara lain di kawasan ini, termasuk Indonesia, bebas risiko. Sebab, lingkungan yang hangat merupakan habitat yang cocok untuk pertumbuhan Naegleria fowleri, yang berarti pula bahwa negara-negara tropis seperti Indonesia bisa menjadi tempat dengan risiko tinggi untuk kasus sejenis.
Klasifikasi
Organisme ini dinamakan Naegleria fowleri sesuai dengan nama penemunya, Malcolm Fowler, ahli patologi Australia di Rumah Sakit Anak Adelaide, yang merupakan penulis pertama dari serangkaian laporan kasus primary amoebic meningoencephalitis (PAM) pada 1965. Laporan itu mengidentifikasi tiga infeksi fatal yang terjadi pada 1965 dan satu kasus pada 1961, yang kemudian amuba penyebabnya teridentifikasi sebagai spesies baru dan lalu diberi nama Naegleria fowleri.
Kasus pertama di AS terjadi pada 1962 di Florida dan dimuat dalam laporan 1966. Investigasi lanjutan terhadap sampel-sampel jaringan otopsi pada kasus-kasus sebelumnya akhirnya menemukan bukti bahwa infeksi PAM sudah ada sejak kasus di Virgina tahun 1937.
Amuba masuk dalam Kingdom Protista, karena tidak diklasifikasikan sebagai hewan, tumbuhan, atau jamur. Amuba adalah organisme bersel tunggal dan eukariotik sederhana yang biasa ditemukan di alam, khususnya di badan-badan air tawar yang hangat seperti danau, sungai, mata air panas, debit air hangat dari industri atau pembangkit listrik, air sumur panas bumi, kolam renang yang tidak dirawat dengan baik atau diklorinasi minimal (di bawah residu 0,5 mg/m3), pemanas air, juga tanah (termasuk sedimen di dasar danau, kolam, dan sungai) serta pipa yang terhubung ke air keran. Bahkan, juga pada tinja. Hal ini dapat dilihat baik pada tahap amoeboid atau flagelata sementara (salah satu stadium dalam tahap perkembangan amuba).
Naegleria fowleri termasuk ke dalam Filum Percolozoa, Kelas Heterolobosea, Ordo Schizopyrenida, Famili Vahlkampfiidae, Genus Naegleria. Sebenarnya, Naegleria fowleri secara teknis tidak termasuk amuba sejati, melainkan organisme amoeboid alias bisa berubah bentuk sehingga mirip amuba. Secara karakterisik ia dinamakan ameboflagellata karena mempunyai bentuk amoeboid sekaligus flagellata dalam siklus hidupnya. Mikroorganisme pemakan bakteri ini hidup bebas di alam dan dapat menjadi patogen, menyebabkan infeksi otak yang sangat jarang, tiba-tiba, parah dan biasanya fatal, yang disebut naegleriasis atau PAM.
Patogen
Naegleria fowleri diketahui sebagai satu-satunya spesies Naegleria yang menginfeksi manusia. Spesies ini hidup di habitat air tawar dengan memakan bakteri. Namun, dalam kasus yang jarang terjadi, amoeba dapat menginfeksi manusia dengan masuk ke hidung (melalui aspirasi dalam bentuk trofozoit) sewaktu manusia melakukan aktivitas yang berhubungan dengan air, misalnya berenang atau pada saat mengambil air wudhu. Begitu berada di hidung, amuba berjalan ke otak dan menyebabkan infeksi otak parah yang disebut PAM dengan risiko kematian 97 persen.
Ada tiga tahap siklus hidupnya, yakni trofozoit ameboid, biflagellata, dan kista. Hanya bentuk tropozoit (berukuran 7-20 µm) yang dijumpai pada manusia. Seperti halnya amuba lain, spesies ini memiliki ektoplasma dan endoplasma. Dalam endoplasma terdapat 1 inti vesikular dengan kariosom yang besar, dinding inti berbutir kromatin, serta vakuola kontraktil dan vakuola makanan. Pada stadium ameboid, bentuk amuba ini tidak teratur, lonjong atau membulat dengan ukuran rata-rata 29µ. Pseudopodium tunggal yang dikeluarkan meluas ke satu arah.
Pada stadium flagellata, spesies ini berbentuk lonjong seperti buah pir dan mempunyai 1 inti vesikular, 1 vakuola kontraktil di bagian posterior, dan dua flagel sama panjang. Fase ini hanya ditemukan beberapa jam saja, kemudian berubah menjadi fase amoeboid lagi. Pada stadium kista, spesies ini berbentuk bulat atau lonjong, mempunyai satu inti dan berukuran 10µ – 14µ. Pada dindingnya terdapat beberapa lubang yang digunakan untuk eksistasi. Daur hidup amuba ini belum diketahui dengan jelas.


Segala Usia
Spesies ini bisa menyerang segala usia. Dari anak-anak sampai orang dewasa. Korbannya adalah mereka yang berenang di air yang terkontaminasi. Dilaporkan, infeksi bisa juga terjadi melalui inhalasi debu yang terkontaminasi. Gejala awal PAM bisa muncul dalam rentang 1-14 hari setelah kuman masuk tubuh. Selanjutnya, bisa muncul gejala seperti kebingungan, kurangnya perhatian terhadap orang-orang dan sekitarnya, kehilangan keseimbangan, kejang, dan halusinasi. Setelah awal gejala, penyakit berkembang dengan cepat dan biasanya menyebabkan kematian dalam waktu 3-7 hari.
Perjalanan penyakit biasanya sangat cepat. Seringkali penderita meninggal sebelum diagnosa berhasil ditegakkan. Selain melihat gejala dan tanda klinis, untuk membantu penegakan diagnosa, bisanya dilakukan uji laboratorium dengan menginkubasi tropozoit dalam air bersuhu 37°C untuk memperoleh bentuk flagellate. Selain itu, bisa dilakukan teknik kultivasi, yakni menanam spesimen pada media agar yang berisi bakteri Eschericia coli pada suhu kamar. Juga, dengan pemeriksaan hematologi terhadap cairan spinal untuk melihat banyak atau tidaknya neutrofil dan eritrosit PCR (polymerase chain reaction).
Untuk terapi, dokter biasanya memberikan Amfoterisin B. Sementara metronidazol, klorokuin, emetin dan sejumlah antibiotika diketahui tidak efektif untuk pengobatan PAM. Hanya ada dua penderita yang pengobatannya berhasil, yaitu seorang dengan amfoterisin B 1 mg/kg berat badan/hari IV dan 0,1-1,0 mg intratekal 2 kali sehari; seorang lagi diberi amfoterisin B dengan dosis tinggi ditambah mikonazol dan rifampisin. Penderita PAM biasanya memiliki prognosis buruk, artinya kemungkinan besar meninggal, karena bagian otaklah yang diserang.
Pencegahan
Sifatnya yang termofilik menimbulkan dugaan bahwa spesies ini berhubungan pula dengan musim. Yakni, musim yang memungkinkan suhu air menjadi lebih hangat, misalnya musim panas atau musim kemarau.
Dengan mengetahui habitat kesukaannya dan kapan kecenderungan bertambah banyak populasinya, kita menjadi lebih mudah mengantisipasi tindakan pencegahan.
Mengingat berbagai kasus terjadi setelah mengunjungi perairan air tawar, kita mengetahui bahwa risiko tinggi bisa ada pada tempat-tempat seperti area rekreasi air dan badan-badan air seperti danau, sungai, dan sumber air panas. Tindakan awas juga diperlukan pada situs lain yang bisa menjadi habitat spesies ini, sebagaimana disebutkan di atas, yaitu air dari industri atau pembangkit listrik, air sumur panas bumi, kolam renang yang tidak dirawat dengan baik, pemanas air, tanah (termasuk sedimen di dasar danau, kolam, dan sungai), pipa yang terhubung ke air keran, dan tinja.
Mengenali bahwa organisme ini bisa masuk melalui aspirasi hidung, kita menjadi tahu bahwa perlu tindakan melindungi hidung bilamana kita melakukan aktivitas di air yang mungkin terkontaminasi, misalnya ketika berenang dan menyelam. Kita tidak perlu memposisikan kepala di bawah air yang memudahkan air masuk tubuh melalui hidung. Kita tidak perlu berlompatan ketika masuk ke air, karena ini bisa memicu terjadinya cipratan air yang bisa masuk ke hidung.
Kita juga perlu menghindari tindakan menggali, atau mengaduk, sedimen di air tawar yang dangkal dan hangat. Amuba (terutama dalam bentuk kistanya) lebih cenderung hidup di sedimen di dasar danau, kolam, dan sungai. Jika setelah berenang di tempat-tempat seperti disebutkan di atas ada gejala sakit kepala, demam, atau muntah, kita perlu segera mencari pertolongan medis. Gejala awal PAM bisa terjadi kapan saja antara rentang 1-12 hari (ada yang menyebutkannya 1-14 hari).
Termofilik
Kita juga perlu mengenali sifat spesies ini untuk meminimalisir risiko terinfeksi. Naegleria fowleri menyukai panas (termofilik). Melalui pengujian terhadap suhu air dari danau dan sungai yang terkait dengan beberapa kasus PAM, para ilmuwan mengetahui bahwa suhu yang disukai spesies ini biasanya lebih tinggi dari 80°F (30°C), bahkan sampai 115°F (46°C). Namun demikian, diduga bahwa amuba ini juga bisa hidup di air dengan suhu di bawah 80°F. Makin kecil suhu, kemungkinannya untuk ditemukan di air makin berkurang. Tetapi, kemungkinannya tetap besar untuk ditemukan pada sedimen danau atau sungai pada suhu yang jauh lebih rendah daripada suhu normal yang lazim buat menemukannya dalam air. Pada suhu lebih tinggi dari 115°F (46°C), spesies ini masih bisa hidup tetapi tidak lama.
Bentuk trofozoit dan kista dapat bertahan dalam hitungan menit ke jam pada suhu 122–149°F (50–65°C), di mana kista lebih tahan daripada tropozoit. Dalam lemari es, trofozoit mati dengan cepat, sedangkan kista (sekalipun sensitif terhadap titik beku) dapat bertahan hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan pada suhu dingin di atas titik beku. Suhu yang lebih dingin cenderung menyebabkan Naegleria fowleri menjadi kista di sedimen danau dan sungai. Bentuk kista memberikan perlindungan yang lebih baik terhadap suhu air yang membekukan.
Bentuk trofozoit dan kista dilaporkan sensitif terhadap disinfektan seperti klorin dan monokloramin. Klorin adalah disinfektan umum untuk mengolah air minum dan kolam renang. Sensitivitas Naegleria fowleri terhadap klorin tergolong sedang, kurang-lebih sama dengan sensitivitas jenis kista lain (kista dari Giardia intestinalis yang juga patogen yang bisa ditularkan melalui air). Dari uji inaktivasi terhadap Naegleria diketahui, air keruh membutuhkan waktu disinfeksi yang lebih lama atau konsentrasi disinfektan yang lebih tinggi dibandingkan air yang lebih jernih.
Diketahui pula, Naegleria fowleri tidak bertahan hidup di air laut dan belum terdeteksi di air laut. ***
Sumber: Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, Balitbangkes Baturaja, Front. Cell. Infect. Microbiol. Vol. 12-2022, dan sumber lainnya.


