
Redundant 13:
Gegara Perubahan Iklim
Oleh Erry Yulia Siahaan
Amuba pemakan otak, sebutan untuk organisme bersel tunggal Naegleria fowleri, kembali menyita perhatian setelah beberapa kasus baru muncul dan menyebabkan kematian. Antara lain kasus yang dilaporkan tahun lalu pada seorang remaja di AS pada Oktober dan pria berusia 50 tahun di Korea Selatan pada Desember. Sejak pertama kali ditemukan pada 1937 di AS, sudah lebih dari 300 kasus yang dilaporkan yang meliputi berbagai negara. (Baca: Amuba Pemakan Otak, Jarang tapi Fatal)
Cukup banyak ulasan, tulisan, pembahasan mengenai hal ini. Baik dari segi kebaruan informasi maupun dari aspek lain, khususnya medis. Belum banyak yang membahasnya dari aspek lingkungan. Kalaupun ada, sebatas mengatakan penyakit itu muncul lagi karena perubahan iklim. Dalam versi lebih panjang, munculnya kasus-kasus baru amuba pemakan otak disebabkan oleh pemanasan global, kelebihan populasi global, dan peningkatan aktivitas industri.
Perubahan Iklim
Isu perubahan iklim sudah cukup lama sebenarnya digulirkan untuk mendapatkan perhatian seluruh dunia. Di mana-mana istilah ini mengalami redundansi dengan dua sisi. Pada satu sisi, perubahan iklim sebagai redundansi (disuarakan terus-menerus padahal intinya sama) memang diperlukan, supaya masyarakat dunia tetap ingat dan awas. Pada sisi yang lain, perubahan iklim sebagai redundansi (pengulangan kejadian sebagai akibat aktivitas manusia) justru idealnya tidak terjadi alias dicegah. Manusia sebaiknya lebih mengontrol aktivitas yang bisa memicu perubahan iklim.
Menurut Enviromental Protection Agency (EPA), perubahan iklim adalah perubahan iklim secara signifikan yang terjadi pada periode waktu tertentu, atau perubahan suhu yang drastis, curah hujan, pola angin, dan lain sebagainya. Menurut situs indonesiabaik.id, perubahan iklim sebagai fenomena pemanasan global disebabkan oleh terjadinya peningkatan gas rumah kaca (GRK) pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu.
Bahan bakar fosil – batu bara, minyak, dan gas – diyakini merupakan penyumbang lebih dari 75 persen emisi GRK global dan hampir 90 persen dari seluruh emisi karbon dioksida, demikian informasi dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB). Emisi tersebut berasal dari berbagai kegiatan manusia, seperti polutan dari pabrik dan kendaraan, pembabatan hutan dan pengalihfungsian lahan, serta gaya hidup manusia yang terlalu konsumtif.
Emisi GRK menyelimuti Bumi dan membuat panas matahari terperangkap sehingga membuat permukaan Bumi menjadi lebih panas. Pada 10 tahun terakhir (2011-2020), kata PBB, pemanasan itu mencapai titik paling tinggi. Sejak 1980an, Bumi menjadi lebih panas dari dekade ke dekade. Suhu yang lebih hangat dari waktu ke waktu mengubah pola cuaca dan mengganggu keseimbangan alam yang biasa. Ini menimbulkan banyak risiko bagi manusia dan semua bentuk kehidupan lainnya di Bumi. Badai hebat menjadi lebih sering terjadi, permukaan air laut makin hangat dan makin tinggi, sejumlah spesies makhluk hidup punah, pangan terancam, kemiskinan, banjir, dan risiko terhadap kesehatan menjadi lebih besar.
Ancaman Kesehatan Terbesar
PBB mencatat bahwa perubahan iklim adalah satu-satunya ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia. Polusi udara, penyakit, peristiwa cuaca ekstrem, pemindahan paksa (akibat banjir dan badai), beban terhadap kesehatan mental, serta meningkatnya kelaparan dan gizi buruk menjadi beban yang meningkatkan insidensi berbagai penyakit. Setiap tahun, faktor lingkungan merenggut nyawa sekitar 13 juta orang. Perubahan cuaca yang ekstrem bahkan berisiko memperluas penyakit, mempersulit penanganan kesehatan, dan meningkatkan angka kematian.
Berbagai penyakit menjadi lebih sering muncul akibat perubahan iklim, khususnya yang bersifat infeksius atau menular. National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases (NCEZID) AS dalam laporannya menyebutkan contoh-contoh penyakit yang bisa dipicu kemunculannya oleh adanya perubahan iklim, antara lain infeksi Lyme, virus West Nile, antraks, dengue, anaplasmosis, penyakit akibat jamur seperti Valley fever dan histoplasmosis, rabies, salmonellosis, dan lainnya.
Dengue misalnya, tidak lagi hanya langganan negara-negara tropis seperti Indonesia, tapi kasusnya sudah ada di Eropa, kawasan empat musim yang yang dikenal relatif lebih dingin. Turis dari Jerman membawa pulang nyamuk eksotis ke negaranya. Nyamuk-nyamuk ini tidak lagi menghilang setelah musim semi seperti biasanya, melainkan bisa bertahan akibat suhu musim dingin yang kian hangat dan durasi musim dingin yang lebih singkat. Ini kondisi yang ideal bagi nyamuk, demikian dilansir dari situs DW.
Amuba Pemakan Otak
Sejumlah ahli berkeyakinan bahwa perubahan iklim memicu munculnya kejadian amuba pemakan otak beberapa tahun terakhir ini. Setidaknya begitu pendapat mereka seperti dilansir dari berbagai situs seperti E&ENEWS.
Kasusnya tidak saja muncul dari kawasan yang secara epidemiologis memang dinilai memungkinkan, tetapi sekarang muncul di negara atau daerah yang sebelumnya tidak lazim. Di AS, misalnya, kasus bisa muncul di utara dan barat Amerika yang sebelumnya justru dianggap tidak mungkin memunculkan kasus infeksi Naegleria fowleri.
Penelitian oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS pada 2021 menemukan, meskipun tingkat infeksi relatif stabil, amuba telah berpindah dari negara bagian Selatan ke negara bagian Utara dan Barat seperti Nebraska, Iowa, Minnesota, Indiana, Maryland, dan California Utara. (Peta CDC menunjukkan sebagian besar kasus selama 60 tahun terakhir di negara bagian AS selatan, dipimpin oleh 39 kasus di Texas dan 37 di Florida.) Ini menunjukkan bahwa perubahan iklim meningkatkan jumlah amuba yang mampu bertahan hidup di daerah yang sebelumnya mereka tidak bisa.
Pihak CDC AS mengatakan, infeksi Naegleria fowleri yang semula terbatas di negara-negara bagian AS sebelah selatan seperti Texas dan Florida, kini “bukti menunjukkan bahwa jangkauan Naegleria fowleri meluas ke utara, yang mungkin merupakan akibat dari perubahan iklim dan suhu yang lebih hangat.”
Dengan meningkatnya suhu udara, suhu air di danau, sungai, dan perairan lain menjadi lebih tinggi, sementara permukaan air mungkin lebih rendah. Ini memberikan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi amuba untuk tumbuh dan berkembang biak. Makhluk kecil tersebut bisa ditemukan pada air bersuhu 25-46 derajat Celcius.
“Permukaan danau yang lebih rendah, suhu udara yang lebih hangat, lebih banyak orang yang rekreasi, ini pemicu yang baik sekali,” kata Charles Gerba, ahli mikrobiologi dari University of Arizona.
Meninggalnya remaja berusia 18 tahun Oktober lalu akibat infeksi amuba pemakan otak di AS, yang diyakini terinfeksi setelah berenang di Danau Mead, Arizona, tidak membuat ditutupnya kawasan yang berada di Taman Nasional itu. Mengingat kasusnya yang sangat jarang, pihak Taman Nasional bekerjasama dengan Kantor Kesehatan Masyarakat AS tetap membolehkan masyarakat berenang di Danau Mead. Namun, masyarakat tetap diingatkan untuk waspada terhadap risiko ketika berenang di air tawar yang hangat. Masyarakat diingatkan untuk tidak melompat ketika masuk ke air, menyelam, terutama pada musim panas, menutup hidung atau tetap menjaga kepala berada di atas air, menghindari mengaduk-aduk sedimen di air yang dangkal dan hangat.
Mikroorganisme tersebut memang normal berada di alam, yakni di perairanair tawar seperti danau, sungai, dan mata air panas. Perubahan iklim bisa menyebabkan suhu udara makin panas. Kekeringan telah menyusutkan air danau menjadi hanya 27 persennya. Sedimen atau endapan yang sebelumnya tertutup dan padat menjadi terkuak. Kondisi ini sangat cocok untuk mendorong pertumbuhan amuba, apalagi jika suhunya cocok untuk perkembangannya.
“Risiko manusia untuk terinfeksi lebih mungkin terjadi saat air menghangat di atas 86 derajat Fahrenheit (30 derajat Celcius), karena saat itulah amuba menjadi cukup umum untuk menginfeksi manusia,” jelas Gerba.***
Sumber foto: PBB (1, 2), DW (3), iStockphoto/Dr_Microbe (4)









1 komentar