
Redundant 25: Lutung di Kebun Sanchi
Oleh Erry Yulia Siahaan

Makhluk kecil berbulu kuning itu berdiri bengang-bengong di salah satu sisi di pinggiran kebun. Ketika didekati, ia tidak lari. Kelihatan jinak.
Tiur (bukan nama sebenarnya) tidak berniat membawanya ke pondokan. Namun, binatang itu mengikuti terus langkah Tiur, hingga akhirnya Tiur mengulurkan tangan. Pelan-pelan, sambil mengamati apakah ada perlawanan dari binatang itu. Ternyata, tidak. Tidak lama, Tiur sudah menggendongnya.
Pagi itu, Rabu (8 Maret 2023), Tiur dan suami sedang berada di area puncak, melakukan kegiatan rutin mereka. Seminggu sekali mereka ke sana, untuk meninjau kebun sacha inchi (biasa disingkat “sanchi”) yang sudah mereka mulai sejak tahun lalu. Sebagian lahan sudah ditanami, sebagian lagi sedang digarap. Itu sebabnya, suami-isteri itu berusaha untuk rutin meninjaunya. Sekalian mengambil kacang-kacang yang sudah siap dipetik, juga dedaunan. Kacang-kacang itu akan dikeringkan dan diperas untuk diambil minyaknya. Sementara daunnya dikeringkan untuk dibuat teh.
Sacha inchi (Plukenetia volubilis) adalah kacang inka atau kacang gunung, yaitu kacang yang berasal dari hutan tropis amazon. Kacang yang disebut “kacang sejuta manfaat” itu kini sudah dibudidayakan di China, Vietnam, Malaysia, Thailand, dan baru-baru ini di Indonesia. Sacha inchi, menurut situs Kemdikbud, sangat kaya akan asam lemak seperti omega 3, omega 6, dan omega 9 yang sangat bermanfaat bagi kecerdasan anak. Selain itu, kacang sanchi memiliki nilai ekonomis yang relatif tinggi. Satu liter minyak sanchi bernilai jual hingga jutaan rupiah.
Redundansi Nyasar
Ini sudah keberapa kali ada lutung nyasar, masuk ke perkebunan. Petugas kebun, yang adalah penduduk setempat, menganggap itu pemandangan biasa. Mereka tidak menangkap makhluk-makhluk itu, tetapi tetap mengamati. Jangan sampai binatang itu merajalela di kebun dan merusak.
Lutung nyasar ternyata merupakan redundansi. Dikatakan “nyasar”, karena ia berada di suatu tempat yang bukan rumahnya. Disebut redundansi, karena kejadiannya sudah banyak dilaporkan di Tanah Air.

Sebagaimana diberitakan oleh media massa pada 2020, seekor lutung Jawa nyasar di permukiman warga di Desa Sumur Jomblangbogo, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Detik.com mengatakan, saat ditemukan dan diamankan warga pada awal Juni 2020, kondisi hewan itu cukup memprihatinkan. Tanggal 9 Juni sore, binatang itu dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah ke Taman Safari Indonesia (TSI) IV di Batang.


Pada 26 Februari 2019, seekor lutung merah (Presbytis rubicunda) nyasar di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DKD) Kabupaten Kobar dan sempat membuat suasana menjadi kacau. Lutung lompat ke luar gedung dan akhirnya mangkal atau mondar-mandir di atap dan pohon di sekitar gedung. Bahkan, seperti diberitakan oleh Okezone.com, hewan itu sempat masuk ke gudang, keluar lagi dan masuk ke area parkiran di sebelah kantor sebelum akhirnya kembali lagi ke atap dan pohon. Pihak Penyelamatan dan Evakuasi Korban Damkar dan Satpol Kobar kemudian berkoordinasi dengan BKSDA SKW 2 Kalteng di Pangkalan Bun untuk evakuasi lanjutan.

Pada 3 Oktober 2010 malam, seekor Lutung (Trachypithecus auratus) nyasar dari hutan ke perladangan hingga akhirnya masuk permukiman di Kampung Kubang Desa Pasir Datar Indah, Kecamatan Cicaringin, Kabupaten Sukabumi. Pada 6 Oktober, seperti dimuat pada akun Facebook @ Kusukabumiku mengutip Jurnalbogor.com, lutung itu dilepasliarkan ke habitat aslinya di Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) di Sub Blok Cimanaracun Resort Situ Gunung Desa Gede Pangrango Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi.
Tertarik
Sebagaimana respon masyarakat di mana ada lutung yang nyasar, Tiur tertarik untuk memegang, menggendong, memberi makan, mengajak bicara, mengamati, dan sebagainya. Tiur membawa makhluk mungil itu ke pondokannya.
Saya mengetahui cerita lutung nyasar itu dari foto yang diposting oleh Tiur di status WhatsApp (WA) miliknya pada pagi hari. Saya hanya melihat sepintas dan belum berkomentar jauh, karena ada kegiatan yang menanti saya.
Namun, ketika sore harinya saya membuka WA lagi, di grup sudah ada puluhan chat yang belum saya baca. Biasanya, grup itu tidak seramai itu. Saya heran dan tertarik. Ketika saya buka, ternyata ada foto-foto dan video kiriman dari Tiur tentang lutung itu, yang kemudian mengundang respon cukup ramai di grup.

Awalnya, seorang teman mengaku sedang mencari minyak sanchi. Tiur langsung merespon. Kebetulan dia sedang berada di kebunnya. Dia memang menjual minyak sanchi. Jadi, foto-foto tentang tanaman sanchi, baik daun, biji, maupun minyaknya segera meluncur di WA merespon kebutuhan teman itu. Tiur juga ikut mengirimkan foto-foto dan video mengenai si lutung.
Dalam video, Tiur mengajak bicara hewan itu sambil mengelus-elusnya.
“Ikut ya ke Bogor,” kata Tiur sambil membelai si lutung yang ditaruh ditangannya. “Bagaimana? Mau kan?”
Si lutung nampak menikmati belaian Tiur. Matanya sebentar-sebentar terpejam. Nikmat dirasanya karena disayang-sayang.
Karena mempunyai kesibukan yang harus dikerjakannya di kebun dan sekitarnya, Tiur melilitkan rantai di kaki si lutung. Maksudnya, supaya tidak berkeliaran. Rantainya kecil, sesuai dengan kaki hewan itu yang begitu mungil.

Kasihan
Respon terhadap tampilan si lutung, rata-rata mengungkapkan ketertarikan. Ada yang bilang “lucu”. Ada yang mengingatkan agar Tiur berhati-hati, jangan sampai tergigit. Ada yang mengatakan, dibawa saja dan jangan lupa divaksin. Kalau perlu, giginya dikikir.
Yang menganjurkan agar si lutung dibawa saja, berharap bahwa hewan itu bisa diperlihatkan ke anak-anak, yang diperkirakan banyak yang belum pernah melihat langsung spesies itu. Sama halnya dengan kejadian di Pekalongan. Seperti diberitakan oleh Detik.com, lutung yang nyasar di Desa Sumur Jomblangbogo itu ternyata bisa menjadi sumber pembelajaran bagi anak-anak, untuk mengenal tampilan fisik salah satu hewan yang berstatus dilindungi itu.
Selain itu, ada juga yang merasa kasihan karena pasti lutung kecil itu lepas dari induknya karena berkeliaran. Pasti induknya sedang mencari-cari.
Akhirnya, saya sampai pada chat dari seorang teman yang cukup disegani, yang meminta Tiur melepaskan si lutung kembali ke hutan.
“Lepasin, Dik. Lutung bukan hewan peliharaan. Kembalikan dia ke habitatnya di hutan,” kata teman itu. Tiur langsung patuh.
“Oh iya, ya. Berarti aku harus pisah ya,” tandas Tiur. “Hiks hiks hiks …..” Tiur menirukan bunyi anamatopoeia untuk sebuah tangisan dengan menuliskan “hiks…hiks…hiks…”.
Saya sangat setuju dengan pendapat teman itu. Saya akhirnya nimbrung.
“Kasihan, dirantai,” kata saya. “Makhluk alam liar, bukan domestik atau piaraan.”
“Hati-hati loh, ntar disita … wkwk…,” tambah saya, dengan menambahkan tulisan “.. wkwk..” untuk menimbulkan suasana santai.
“Jadi ingat cerita Lutung Kasarung,” timpal saya. “Makhluk jejadian dari ‘atas’ dan pas di bumi bertemu putri. Si lutung berubah menjadi pangeran. Mereka pun kawin dan sama-sama memerintah di kerajaan.”
“Awas makhluk jejadian … wkwk….,” kata saya lagi.
Di akhir chat, saya mengatakan pesan yang agak serius. Bahwa, lutung adalah hewan yang dilindungi. Bahwa hewan ini suka nyasar, misalnya muncul di perkebunan dan di permukiman warga, itu disebabkan habitatnya yang menyempit. Banyak area hutan yang dikorbankan untuk perkebunan, permukiman, jalan, dan lainnya. Sehingga, habitat untuk spesies-spesies di alam liar yang biasa hidup di hutan, termasuk lutung, berkurang.

“Bye, Mona”
Mengembalikan spesies alam liar yang nyasar ke “rumah” mereka, sungguh suatu langkah bijak. Tidak “menggusur rumah” mereka, itu luar biasa.
Dengan melepas kembali ke alam liar, kita memberi kesempatan kepada si lutung untuk bertemu kembali dengan induk dan kelompoknya. Untuk tinggal kembali di alam yang memang cocok buat kehidupannya. Selain itu, kita ikut melestarikan spesies yang statusnya dilindungi.
Lutung adalah tipe hewan yang suka berkelompok atau hidup bergerombol. Satu gerombolan biasanya terdiri dari 5-20-an ekor yang dipimpin oleh hewan jantan. “Rumah” bagi lutung adalah hutan. Di hutan, lutung tahu persis makanan kesukaannya, seperti dedaunan, buah-buahan, dan kuncup bunga. Kegiatannya sehari-hari adalah bergelayutan. Berlompatan dari satu pohon ke pohon lain, biasanya dengan berkelompok. (Terbayang, bukan? Betapa asyik dan berbahagia hewan-hewan itu di “rumah” mereka. Seperti kata pepatah, “Rumahku istanaku”.)
Memang, seperti pernah saya katakan dalam tulisan saya, makhluk hidup itu memiliki daya beradaptasi, yang merupakan salah satu dari sembilan ciri-ciri makhluk hidup. Namun, adaptasi membutuhkan perjuangan, jasmani dan psikis. Bukan sesuatu yang instan atau seperti sulap. Melainkan, membutuhkan proses dan proses itu membutuhkan waktu. Artinya, hewan juga bisa stres kalau kurang bisa beradaptasi.
Mona (nama dari Tiur buat si lutung) pun begitu. Sepintas, mungkin kita melihatnya senang berada bersama kita. Namun, ketika kakinya mulai dirantai, kita menjadi kurang bisa memastikan, apakah ia tetap di sana karena suka atau terpaksa.
Tidak butuh waktu lama bagi Tiur untuk memahami dan akhirnya melepaskan Mona.
“Sudah saya kembalikan ke habitatnya,” kata Tiur. “…hiks…hiks…”
Saya dapat memaklumi. Saya berkata: “Sedih ya. Makin lama sama kita, makin sulit melepasnya.”
“Iya, benar,” jawab Tiur.
Ucapan yang sama bermunculan dari saya dan teman-teman yang lain. “Bye, Mona.” ***







