
Redundant 30:
Singkong Goreng Merekah
Oleh Erry Yulia Siahaan

Tulisan ini terinspirasi dari Abah dan singkong goreng merekah.
Abah adalah pedagang gorengan di dekat rumah. “Alhamdulillah,” kata Abah setiap kali ada yang singgah.
Awalnya saya terperangah. Luar biasa, pikir saya. Tapi, lama-lama saya bisa melihat hal itu sesuatu yang lumrah bagi sosok Abah.
“Alhamdulillah,” kata Abah dengan wajah cerah, begitu melihat saya mendekat tadi pagi, Rabu (15 Maret 2023). Padahal saya belum lagi sampai di sampingnya, untuk melihat barisan gorengannya.
“Mau yang mana, Bu,” tanya Abah sambil tersenyum. Saya girang mendapatkan keramahan itu.
“Biasa, singkong goreng,” jawab saya dengan pesimis, karena gorengan Abah menipis. Padahal, baru pukul setengah sepuluh pagi. Kalaupun Abah bilang “ada” dan akan digoreng, saya tahu bahwa saya tidak mungkin menunggu singkong itu selesai diproses. Sebab, saya mengejar acara jam 10.00 di rumah duka Sentra Medika, Cibinong. Saya juga sebenarnya diet minyak, jadi mau membeli singkong goreng untuk sekadar mengganjal perut, sebab belum sempat sarapan. (Pagi ini banyak yang harus saya kerjakan. Maklum, dua hari ini saya keluar rumah dari pagi sampai malam. Senin mengikuti wisata rohani di Cipanas. Selasa pergi besuk, melayat, dan langsung mengikuti ibadah sektor.)
“Alhamdulillah. Habis, Bu,” kata Abah dengan senyum merekah, tak kalah meriah dengan singkong gorengnya yang selalu laris-manis.
“Ya sudah, yang ada saja,” tutur saya. Abah kembali mengatakan, “Alhamdulillah.” Sementara isteri Abah tumben tidak kelihatan. Mungkin di rumah.

Cuci Darah
Singkong goreng merekah merupakan salah satu pengingat saya pada mendiang suami. Dua kali seminggu, saya dan anak-anak mengantarnya ke rumah sakit di Bogor untuk cuci darah. Perjalanannya lumayan panjang, 20 kilometer lebih, dari rumah. Sebenarnya, ada rumah sakit yang lebih dekat. Kami berserah, mengikuti saja tempat mana yang disukai dan dirasakan nyaman pelayanannya oleh suami saya. Meskipun, sering terjadi, dalam seminggu bisa 4-5 kali ke rumah sakit, untuk kontrol dan HD. Semua kami syukuri dan kami bawa dalam sukacita.
Pelayanan cuci darah atau biasa disingkat dengan sebutan “HD” (kepanjangan dari hemodialisa) bisa berlangsung 4-5 jam, belum termasuk persiapan sebelum dan setelah HD. Persiapan yang saya maksud seperti menunggu dulu tempat tidur dirapikan sehabis dipakai pasien lain (kalau mendapatkan trip kedua), menanti perawat selesai membereskan mesin dan alat-alat, menjalani pengukuran tensi darah, menimbang berat badan dan menuliskannya pada lembar isian di meja perawat, menyerahkan berkas/dokumen, dan sebagainya. Ini belum termasuk waktu untuk antre di bagian pendaftaran dan treatment pasca-HD, seperti pengukuran tensi darah ulang, menimbang berat badan pasca-HD, dan tindakan lain.
Sehabis cuci darah, pasien mesti dipastikan “aman” untuk pulang. Dalam artian, tensi darahnya tidak terlalu tinggi (biasanya maksimal dipatok 180/100, yang artinya 180 mmHg untuk tekanan sistolik atau tekanan darah ketika jantung memompa darah ke seluruh tubuh atau saat berkontraksi, sementara 100 mmHg untuk diastolik atau tekanan darah saat janting relaksasi). Juga, pasien tidak mengeluh pusing atau lemas, tidak memperlihatkan indikasi yang mengkhawatirkan berdasarkan pengamatan klinis.
Setiap pasien bisa memunculkan kondisi berbeda selama dan sehabis HD. Namun, biasanya, tensi darah akan menjadi lebih tinggi daripada sebelum HD. Jika terlalu tinggi, pasien tidak diperbolehkan pulang dulu, melainkan disuruh berbaring lagi setelah diberi obat, sembari diamati perkembangan kondisinya. (Terjadi beberapa kali, pasien HD dilarikan ke instalasi gawat darurat atau langsung dirawatinapkan)
Karena dibutuhkan waktu lama untuk mendampingi pasien, biasanya pendamping sudah mempersiapkan bekal dari rumah, baik untuk pasien maupun mereka sendiri. Namun, cukup sering mereka membeli makanan dari sekitar rumah sakit. Terutama yang kebagian trip pertama, yang sehabis subuh biasanya sudah harus berangkat menuju rumah sakit.
Selain membeli makanan pokok yang mengenyangkan, biasanya para pendamping juga membeli makanan ringan, termasuk gorengan. Terutama ibu-ibu. Biasanya, pendamping bergantian menitipkan belanja pada pelanggan lain, sebab tidak semua pasien mau ditinggal oleh anggota keluarganya. Saya termasuk yang sangat membatasi keluar ruang HD, karena kondisi suami suka dropped (gula darah suka tiba-tiba anjlok).
Gorengan di depan rumah sakit laris manis. Baru digoreng, sudah langsung masuk ke dalam plastik dan dibawa pelanggan. Sering terjadi, pelanggan sudah antre menunggu di dekat gerobak, padahal pesanannya masih digoreng, bahkan masih mentah.

Singkong Goreng
Salah satu jenis gorengan yang terlaris adalah tahu krispi sebagai runner-up dan singkong goreng merekah sebagai the best seller. Waaaahhhh, yang disebut terakhir ini jangan ditanya lagi bagaimana larisnya. Rasanya enak. Lebih enak dari singkongnya Abah, menurut saya. Harganya terjangkau, seribu rupiah. Lebih murah dari gorengan Abah.
Tidak jarang pelanggan menjadi kecewa. Sudah jauh-jauh turun dari lantai 6 rumah sakit atau sudah berjalan kaki dari perkantoran sekitar, mereka ternyata tidak menemukan singkong goreng merekah yang diincar. Selain karena kehabisan, Pak Dede memang tidak selalu membawa singkong.
“Singkongnya lagi jelek-jelek, Bu,” kata Pak Dede. “Mending nggak usah, daripada nanti pelanggan kecewa.”
Waduh, sampai sebegitunya Pak Dede menjaga mutu dagangannya, pikir saya. Jarang-jarang saya menemukan pedagang kecil berpikiran bisnis seidealis Pak Dede. Saya salut.
Saya juga bertambah ilmu tentang jurus memilih singkong yang bagus. Yaitu pilih singkong yang masih terlihat baru dan tampak mudah dipatahkan (yang bisa diartikan teksturnya empuk), pilih yang kulit luarnya terdapat bagian yang mengelupas dan berkulit ari merah muda. Juga, hindari memilih singkong yang ada bekas sayatan pisau karena itu memungkinkan singkong menjadi kurang segar dan mempengaruhi hasil olahan.
Kalau gagal bertemu singkong goreng merekah, ya alternatifnya tahu krispi dan jenis lain seperti sukun goreng, tempe, ubi, dan tahu biasa. Sukun goreng berada di peringkat ketiga. Maklum, tersebar kabar bahwa manfaat sukun sungguh dahsyat. Ada yang menyebutkan bahwa sayuran yang rasanya lembut itu mengandung beragam dan banyak nutrisi, serta memiliki belasan keuntungan, termasuk untuk perkembangan otak anak.
(Saya katakan “sayuran” karena sukun memang termasuk jenis sayuran, meskipun banyak yang menyebutnya sebagai “buah”. Sukun berasal dari pohon berbunga dengan nama latin Artocarpus altillis. Termasuk ke dalam famili murbei (sering dianggap sebagai jenis mulberry), sukun berasal dari Kepulauan Pasifik Barat dan Semenanjung Malaya.)
Minta Resep
Cukup banyak yang bertanya kepada Pak Dede cara membuat singkong goreng renyah. Terutama ibu-ibu. Maklum, para ibu seperti saya ingin sekali bisa menyajikan makanan sederhana dan murah tapi enak dari dapur. Singkong goreng salah satunya.
Ternyata, membuat singkong goreng seenak yang dijual Abah dan Pak Dede, tidak semudah yang dibayangkan dan tidak segampang kita menyebutkan namanya. Singkong goreng fenomenal itu tidak sekadar dikupas, dibersihkan, dipotong-potong, dibubuhi garam sedikit, lalu digoreng. Atau, seperti resep dari abang saya pada tahun 2007 silam, singkong direbus dulu sebentar dengan bawang putih halus, ketumbar, dan garam sebelum ditiriskan dan digoreng. Sebab, kalau memang demikian, tidak ada yang nekat bertanya kepada pedagang mengenai resep dagangannya.
Sepanjang yang saya amati, Pak Dede hanya tinggal mencemplungkan singkong dari waskom ke kuali. Jadi, ternyata singkong-singkong itu sudah diproses dari rumah.
“Sebenarnya gampang, tapi agak ribet juga, Bu,” kata Pak Dede yang masih saya tunggu penjelasan detailnya. Sebab, Pak Dede super sibuk dan saya mesti lekas-lekas kembali ke ruang HD menengok suami yang saya titipkan sebentar kepada perawat.

Resep Online
Puji Tuhan. Sekarang ini, kemajuan teknologi dan informasi membawa banyak kemudahan di mana-mana. Termasuk buat para ibu yang gemar memasak.
Begitu meng-klik kata “singkong goreng merekah”, dalam hitungan tidak sampai satu detik (tepatnya 0.38 detik), sebanyak 66.700 situs sudah siap diakses. Luar biasa. Begitu banyaknya, sampai-sampai saya sendiri bingung, mana resep yang benar (jadi mirip kebingungan seputar rumor, makin banyak info beredar, makin besar kemungkinan beritanya simpang-siur).
Syukur, yang namanya resep masih tergolong informasi aman (asalkan jangan ada saja bahan-bahan berbahaya yang terselip di antara rincian bahan, alat, dan cara membuat).
Saya mengklik salah satu situs, yaitu BrilioFood. Saya tertarik pada nama situs ini. Resep berjudul “singkong goreng empuk merekah, bisa jadi ide jualan” itu menyebutkan rincian bahan dan cara membuatnya.
Bahan-bahan yang diperlukan adalah 1 kg singkong, 3 siung bawang putih, haluskan, 1/2 sendok teh ketumbar bubuk, garam secukupnya, kaldu jamur secukupnya, air es untuk merendam. Cara membuatnya adalah: (1) Siapkan baskom. Isi dengan bawang putih halus, ketumbar bubuk, garam, dan kaldu jamur. (2) Cuci bersih singkong yang sudah dipotong-potong. Rebus dalam air mendidih selama 15 menit. Tiriskan. (3) Masukkan singkong panas yang sudah direbus ke dalam baskom. (4) Siram dengan air es sampai terendam. Biarkan sampai singkong merekah. (5) Setelah merekah, goreng dalam minyak panas di atas api sedang sampai garing.
Resep ini mirip-mirip dengan resep pada situs lain. Yang menjadi pembeda antara lain ada yang menambahkan kunyit dan meniadakan kaldu jamur (seperti resep di CookPad yang ditulis oleh Indah Yulianti @cook_6118557 dari Probolinggo pada 2017).
Kunci penting di sini, yang membedakannya dari resep abang saya, adalah diperlukannya air es untuk merendam singkong yang sudah direbus. Singkong dibiarkan dalam air es sampai merekah.
Demikianlah kisah mengenai singkong goreng renyah yang sudah menjadi bagian dari redundansi dalam hidup saya. Bahkan, menjadi pengingat ketika ada momen-momen penting sebagai kenangan. Misalnya, hari ini, yang merupakan Hari Ulang Tahun Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) Ke-8.
Tentang Pak Dede, saya sudah beberapa bulan ini tidak berjumpa. Tentang Abah, kami masih suka bersua di dekat rumah. ***










