(Tip Haji) Bawalah Sabar Sebanyak Bulu Di Badan

Haji/Umroh, Terbaru, YPTD11 Dilihat

(Tip Ibadah Haji) Bawalah Sabar Sebanyak Bulu di Badan

Catatan Thamrin Dahlan

Labbaik Allahumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, laa syariika lak…

“Aku penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat, dan kekuasaan adalah milik-Mu.”

Kalimat talbiyah itu bukan sekadar lantunan lisan. Ia adalah panggilan jiwa. Panggilan untuk datang, berserah, dan kembali menjadi hamba yang utuh di hadapan Allah SWT.


Sabar, sabar, dan sabar…

Itulah petuah para tetua saat kami akan berangkat menunaikan ibadah haji tahun 1994. Mereka tidak berkata cukup sepuluh kali sabar, tetapi lebih dalam dari itu:

“Bawalah sabar sebanyak bulu di badan.”

Sebuah ungkapan sederhana, namun sarat makna. Karena di Tanah Suci, kesabaran bukan sekadar sikap—ia adalah kebutuhan. Dengan bekal sabar yang berlimpah, insyaAllah hati tetap tenang, tidak mudah panik, dan mampu menghadapi berbagai ujian selama menjalankan ibadah.


Sabar sejatinya adalah bunga dari taqwa.
Dan taqwa adalah bekal utama menuju Baitullah.

Allah SWT berfirman:

“…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa…”
(QS. Al-Baqarah: 197)

Dari taqwa lahirlah kesabaran sejati. Sebuah keyakinan bahwa apa pun yang terjadi adalah kehendak Allah SWT. Tugas kita hanyalah menyikapi dengan ikhlas dan penuh keimanan.


Empat puluh hari di Tanah Suci, bagi sebagian orang terasa panjang. Namun bagi yang menjalaninya dengan hati yang hadir, itulah hari-hari terindah dalam perjalanan hidup.

Alhamdulillah, saat itu saya diberi amanah sebagai petugas kesehatan haji (TKHI), mendampingi satu kelompok terbang berjumlah sekitar 450 jamaah. Mereka datang dari latar belakang yang beragam—ada yang muda dan kuat, ada pula yang lanjut usia dan perlu dipapah.

Di situlah pelajaran sabar mulai diuji.


Sejak di Asrama Haji Pondok Gede, ujian pertama telah hadir. Jamaah diminta melaporkan obat-obatan yang dibawa. Sebagian memahami, sebagian lagi belum mengerti pentingnya informasi tersebut.

Padahal, bagi petugas kesehatan, data itu sangat penting—terutama untuk jamaah dengan penyakit kronis yang masuk kategori risiko tinggi (RT).

Di sinilah sabar pertama digunakan.
Menghadapi pertanyaan berulang, kebingungan jamaah, bahkan keluhan—semuanya dilayani dengan senyum.

Karena melayani jamaah haji bukan sekadar tugas…
tetapi ibadah.


Perjalanan sembilan jam di udara menjadi ujian berikutnya.
Ada yang mual, muntah, pusing, hingga tidak nafsu makan.

Tas obat selalu melekat. Kaki terus melangkah menyusuri lorong pesawat. Walau lelah, pelayanan tidak boleh berhenti.

Sabar kedua terpakai.


Setibanya di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, ujian kembali hadir. Banyak jamaah kebingungan menghadapi proses imigrasi.

Bahasa menjadi kendala.
Dokumen sering tertukar.
Kecemasan mulai terlihat.

Namun di situlah keindahan itu muncul…

Dengan kesabaran, semua bisa dilalui.
Dengan ketulusan, semua terasa ringan.


Sesungguhnya, perjalanan haji bukan hanya perjalanan fisik.
Ia adalah perjalanan jiwa.

Ujian kesabaran akan terus hadir—di pemondokan, di Masjidil Haram, di Arafah, Muzdalifah, hingga Mina.

Namun justru di sanalah letak kemuliaannya.


Haji adalah panggilan.
Tidak semua orang mendapatkannya.
Namun setiap yang dipanggil, harus mempersiapkan diri.

Bukan hanya biaya…
tetapi juga taqwa dan kesabaran.


Mari luruskan niat…
Mari bersihkan hati…
Mari siapkan diri memenuhi panggilan Ilahi.

Karena ketika hati telah terpanggil,
maka lisan akan bergetar:

Labbaik Allahumma Labbaik…


BHP, 10 Dzulka’dah 1447 H
Thamrin Dahlan

 

 

Tinggalkan Balasan

1 komentar