
Lansia Berwisata, Serunyaaa ….
Oleh Erry Yulia Siahaan

Piknik bersama lanjut usia (lansia) ternyata seru juga. Walau cuma ke satu lokasi, hanya beberapa jam di sana, perencanaannya dadakan, tidak ada permainan meriah selazimnya jalan-jalan, momennya tetap layak dikenang.
Kehebohan sudah terlihat sejak sebelum berangkat. Pagi itu, Senin (13 Maret 2023), ketika saya turun dari angkot dan mau menyeberang, dari kejauhan sudah terlihat bis kuning berlabel besar “Marpaung” terparkir di samping gereja.
Sebagian lansia duduk di teras gereja. Ada yang sudah mengambil seat di bis, dengan menaruh tas atau jaket.
Sementara menunggu yang lain, lansia yang sudah tiba bergaya di depan kamera handphone. Ada yang selfie sendiri, ada yang minta dijepret solo, dan ada yang bergaya bareng teman dengan beragam pose. Teh dan kopi sudah beredar. Koster gereja, Namboru Ratna (demikian saya memanggilnya), luar biasa. Pagi-pagi sudah datang dan membuatkan teh-kopi, padahal dia ikut piknik hari itu.

Talas kukus dari termos merah panitia pun beredar. Juga ongol-ongol dari omprengan seorang lansia perempuan.
Keberangkatan yang semula dijadwalkan tepat pukul 07.00, baru terlaksana sekitar pukul setengah delapan. Peserta berkumpul dulu di teras gereja, dicek kehadirannya, dan berdoa bersama, dipimpin oleh Pdt. M Nainggolan.

Perkenalan
Begitu bis meluncur, pemandu wisata, Simson Sony Marpaung memperkenalkan diri. Dia juga memperkenalkan nama supir (Mas Oyon) dan kenek (Bang Toyib). Nama-nama itu segera disambut respon meriah dalam bis.
“Nanti jangan sampai nggak pulang ya, Pak,” terdengar suara dari beberapa kursi, disambut tawa. Ternyata dahsyat juga lagu “Bang Toyib”, pikir saya. Sampai-sampai lansia pun mengenalnya.
Marpaung kemudian menjelaskan fasilitas yang tersedia. Bis ber-AC itu dilengkapi dengan dua layar monitor karaoke di depan dan di belakang, yang langsung terkoneksi ke YouTube. Peserta piknik boleh memesan lagu apa saja. Bebas. Marpaung membantu di dekat supir untuk memilihkan link lagu yang diminta.
Dalam bis tersedia toilet. Tujuannya, untuk memfasilitasi lansia jika sewaktu-waktu butuh “ke belakang” dalam perjalanan. Sayangnya, toilet itu relatif sempit dan kurang nyaman bagi lansia. Apalagi bila dipakai saat bis berjalan. Penumpang mesti berjalan dari kursinya ke arah belakang, pelan-pelan, berpegangan di punggung-punggung kursi yang dilewati. Di dalam toilet, lansia juga harus berpegangan kuat-kuat karena merasakan toilet itu seperti bergoyang-goyang.
Dalam bis tersedia dispenser air panas untuk membuat teh, kopi, dan cokelat. Di setiap tempat duduk, tersedia colokan untuk mengisi ulang baterai handphone.

Menyanyi
Perjalanan berlangsung cukup santai, tapi ramai. Sekitar 20 lagu membahana dalam bis, belum termasuk lagu-lagu yang setengah tayang dan langsung dibatalkan, karena kurang diselerai. Lagu-lagu dilantunkan lewat suara dua orang yang masing-masing memegang mikrofon, lalu disambut oleh yang lain. Begitu ramainya sambutan itu, membuat suara yang menyanyi dengan mikrofon seakan tenggelam.
Bis terus melaju, membawa 37 penumpang, belum termasuk Marpaung dan tim. Beberapa lansia sengaja bangun dari tempat duduk, lalu berdiri di lorong bis yang sempit bersama yang lain, ikut bernyanyi sambil bergaya-gaya. Ketika lagu-lagu bertempo dan berirama riang diputar, para lansia menari, diselingi tawa di sana-sini.

Saya sempat heran melihatnya. Memang ada yang dikenal pendiam dan tetap diam selama perjalanan. Namun, ada yang tanpa disangka-sangka langsung ikut meramaikan suasana pagi itu. Geli juga dalam hati. (Ternyata, bukan saya saja yang merasakan hal yang sama. Saat ibadah, pendeta juga menyatakan kesan yang sama.)
Lagu yang diputar beragam. Semua lagu adalah dalam bahasa Indonesia dan Batak. Temanya ada yang rohani, ada yang pop. Ada yang serius, ada yang jenaka. Ada yang tentang relasi dengan Tuhan, relasi anak dengan orangtua, atau perihal romansa anak muda.
Seorang peserta tiba-tiba meminta diberikan kesempatan untuk bercerita. Lucu juga ceritanya. Intinya, ada perbedaan antara piknik lansia di kampung halaman dengan yang di kota.
“Kalau di huta, langsung tercium bau Afitson di bis,” katanya, disambut ledakan tawa dari peserta yang rata-rata dari generasi yang cukup kenal dengan Afitson, balsam yang sudah ada sejak dulu di Indonesia. Huta adalah istilah Batak untuk kampung halaman.
Mikrofon kemudian dipindahtangankan, karena peserta yang lain minta acara menyanyi dilanjutkan.


Wisata Rohani
Piknik hari itu bertajuk Wisata Rohani. Sudah diniatkan, lansia ke sana bukan untuk hura-hura, tetapi makin mendekatkan diri kepada Tuhan. Dengan menikmati alam ciptaan Tuhan, peserta menyadari betapa mengagumkan karya Tuhan. Jika ciptaan Tuhan saja sudah begitu mengagumkan, bagaimana pula dengan Allah, sebagai Pencipta. Peserta diharapkan semakin mampu merefleksikan diri. Betapa patut semua bersyukur dan memuji Tuhan atas segala pemberian-Nya, untuk semua yang diijinkan-Nya terjadi dalam hidup.
Dengan usia yang bertambah, seseorang diharapkan kian berhikmat. Tidak lupa mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, dalam mengerjakan keselamatan diri dan keluarganya dalam takut pada Tuhan.
Sebagaimana layaknya wisata rohani, tentu saja ada ibadah. Kami tiba di Taman Bunga Nusantara, Cianjur, sekitar jam 09.30. Begitu turun dari bis, kami berfoto bersama di depan pintu masuk, lalu berjalan memasuki taman, menuju salah satu pondokan yang sudah disediakan sebagai tempat kami beribadah. Pondokan ini juga menjadi posko kami sampai piknik selesai.

Ibadah dipimpin oleh Pdt. M Nainggolan. Dalam sesi renungan, Nainggolan menggarisbawahi ucapan filsuf Yunani, Heraclitus, bahwa segala sesuatu pasti berubah. (Baca: Usia dan Perspektif Heraclitus). Nainggolan mengingatkan jemaat soal usia, yang satu saat akan berhenti, dan pada saat berhenti itu yang tinggal adalah pertanyaan, apakah hidup sudah menjadi berkat bagi orang lain ataukah belum. Ini seperti diingatkan melalui lagu “Hidup Ini Adalah Kesempatan” yang beberapa kali diputar menemani perjalanan, pergi dan pulang.
Usai ibadah, ada sesi diskusi untuk beri-dengar saran demi kemajuan perkumpulan lansia ke depan. Juga ucapan terima kasih untuk Ompung Flo selaku donatur perjalanan, yang ikut hadir saat itu. Acara berlanjut dengan makan siang, berkeliling taman, dan acara bebas.

Peserta berkeliling dengan mobil wira-wiri (shuttle) berupa bis kecil terbuka yang dilengkapi panduan informasi taman berupa rekaman suara. Harga tiket Rp 20.000 per orang.
Tiga bis berjalan beriringan mengelilingi taman, seperti Taman Perancis, Air Mancur Bermusik, dan Taman Jepang. Bis beberapa kali berhenti untuk mendapatkan spot foto yang baik, misalnya di Taman Jepang dan Green House, sebelum akhirnya perjalanan berujung di pool di dekat Topiari Merak.
Di Green House, kami tidak masuk ke dalam. Hanya mengambil beberapa foto saja di luar, termasuk berpose di bawah pohon Kigelia africana, yang buahnya mirip sosis, berwarna krem, bergelantungan. Pohon kekar dari Afrika Selatan ini, yang disebut juga sausage tree atau pohon mentimun, cukup banyak ditemukan di area Taman Bunga Nusantara.

Menempati tanah seluas 35 hektar, Taman Bunga Nusantara merupakan tempat yang cocok untuk mengambil foto, apalagi bila bunga-bunga sedang bermekaran. Spot foto mencakup antara lain Taman Air, Taman Mawar, Taman Perancis, Taman Labirin, Taman Bali, Taman Palem, Taman Jepang, Menara Padang, Green House, Danau Angsa, dan Topiari Merak.

Hari itu, tampakan Taman Bunga Nusantara tidak seindah seperti yang selama ini muncul di foto-foto. Sebab, banyak tanaman yang sedang tidak berbunga.
Acara selanjutnya, bebas. Boleh pribadi, boleh berkelompok. Foto-foto pun dimulai lagi. Menjadi menarik, karena lansia perempuan terlihat kompak, dengan pakaian senada, berupa selendang phasmina berkancing depan, yang sepekan sebelumnya didapatkan sebagai souvenir pada acara ulang tahun ke-70 Ompung Dion.

Lansia ada yang kembali ke posko. Tampak beberapa lansia pria sudah duduk-duduk di sana. Ada yang berbincang-bincang, ada yang duduk di terpal bermain catur. Seru. Yang bermain catur adalah pasangan sekaligus lawan setia di gereja. Mereka surprised bahwa panitia tidak lupa membawakan catur buat mereka.
Ompung Flo
Ide piknik muncul karena ada donasi dari Ompung Flo buat perkumpulan lansia. Semula, para lansia bersepakat pergi ke Taman Mini Indonesia Indah. Namun, ketika bertemu lagi beberapa hari kemudian, atas saran dari panitia, para lansia menyetujui untuk ke Taman Bunga Nusantara.
Ompung Flo (Nyonya Siagian boru Purba) sudah beberapa kali mengalokasikan budget buat perkumpulan-perkumpulan di gereja. Tahun lalu, Ompung Flo menyokong kunjungan rohani paduan suara Debora ke Solo. Dalam waktu dekat, sejumlah agenda perjalanan sudah disusun untuk beberapa kelompok di gereja kami. Agenda tersusun akan diakhiri dengan kegiatan bersama anak-anak dari panti asuhan.

Mengapa mau menyumbang begitu banyak dana?
“Uang banyak untuk apa kalau bukan untuk berbagi,” kata Ompung Flo yang ikut bersama rombongan dalam bis, duduk di belakang supir. “Berkat dari Tuhan itu kan bukan hanya untuk kita sebenarnya, tetapi untuk orang lain juga.”
Konon, semua anaknya sudah mempunyai rumah. Kecukupan mereka terpenuhi dengan baik. Jadi, kata Ompung Flo, soal materi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kami meninggalkan Taman Bunga Nusantara sekitar pukul 4 sore. Rencana mampir di kebun teh dibatalkan, karena terkendala parkiran. Kami langsung menuju rumah soto dan rehat sejenak di sana sambil menikmati soto bogor. Ada juga yang memilih Bakso Malang.
Setelah membeli oleh-oleh, rombongan meluncur pulang, ke Cibinong, disambut hujan. Hujan berkat, kami biasa menyebutnya demikian. ***







