
Dear mantan, kamu berhak meragukan apa yang disajikan di dalam ruang publik? Karena di dalam ruang publik ada begitu banyak hal yang harus kamu ragukan!
Ada 3 hal yang perlu kamu ragukan! Let’s check this out!
1. Kebenaran itu relatif
Kebenaran itu ibarat kecantikan yang bersifat relatif. Hari ini saya mengatakan kaulah cinta pertama dan semoga menjadi cinta terakhirku. Esok hari, kamu mendengar celotehku di akun media sosialku yang berirama perselingkuhan. Dan lusa, antara saya dan kamu beradu pendapat. Layaknya, polemik di dalam ruang publik, mengenai manfaat dan efek samping dari penggunaan fasilitas umum negara.
Dear mantan, saya tak mau kamu terus terluka dengan manipulasi apapun dibalik wacana penguasa di dalam ruang publik. Please, ngertian saya!
Dear mantan, apakah kamu tak ingat para filsuf Yunani kuno, terutama kaum Sofis yang menjual pengetahuan untuk menutupi kebenaran umum? Saya harap, alam bawah sadar kamu mulai dibangkirkan lagi ya!
Ahhhhhh, kamu kok enggak paham, ya? Okeylah! Saya harap pendekatan Algoritma Google yang berkaitan dengan jurusan kamu bisa mengena. Kamu kan tahu bahwa Algoritma Google selalu berubah setiap waktu. Nah, kebenaran di ruang publik juga seperti itu!
Lalu, mengapa kamu masih saja menerima wacana di ruang publik dengan mentah-mentah? Seolah-olah mulut kamu seperti seorang bayi yang hanya mau menerima makanan dari orangtuanya.
Dear mantan, saya tak mau kamu disakiti! Meskipun sekarang kita dipisahkan oleh waktu dan ruang. Namun, bayangan kamu masih saja tersimpan di salah satu sudut hatiku. Karena kamu pernah berakrobat di sudut istimewa itu.
2. Siapa pun tak akan berani menelanjangi diri di ruang publik
Dear mantan, apakah kamu mau rahasia kita terungkap di dalam ruang publik? Tentu kamu tak mau kan? Nah, sama saja seperti wacana yang belakangan ramai diperbincangkan oleh Media Massa seputar atribut negara.
Kamu pasti saja merogok kocek di ATM kan? Hanya karena tak mau rahasia kita terungkap di Media Massa, kamu rela melakukan apa saja untuk melindungi rahasia kita kan?
Dear mantan, saya salut dengan kamu. Tapi, saya juga merasa dilema. Di mana hatiku sebenarnya tak mau berbohong, karena kebenaran. Tapi, demi gengsi, saya juga mendukung kamu untuk menutupi rahasia kita di ruang publik.
3. Jika kebenaran terungkap, maka tak ada seni dalam politik
Seni menyembunyikan kebenaran di ruang publik sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Itulah yang terjadi di dalam kehidupan percintaan kita.
Jika kamu mengungkapkan rahasia kita, maka tak ada seni untuk saling melempar senyum di dalam ruang publik.
Jalan terbaik antara saya dan kamu adalah terus menikmati budaya kamuflase (menyamarkan) kebenaran dengan hal lain yang sepadan.
Dear mantan, kamu berhak untuk meragukan apapun yang berlabel cinta dan kebenaran di dalam ruang publik. Karena kebenaran itu bersifat relatif, siapa pun tak berani menelanjangi diri dan tak ada seni dalam dunia politik.
Dear mantan, hanya ini kegelisahan yang tak bisa saya pendam, tentang rahasia kita di dalam ruang publik. Maafkan saya, bila nada aksara saya mengagetkan kamu. Pergilah kasih kejarlah kebenaran, dan jangan melupakan rahasia kita di dalam ruang publik yang belum terungkap.














Ternyata mantan masih mantab juga buat bahan tulisan
Heheheh bertemu lagi Pak Kate. Salam hangat