
Oleh Hariyanto
Kemendikbud merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Adapun penjelasan mengenai framework pembelajaran abad ke-21 menurut (BSNP: 2010) adalah sebagai berikut:
- (a) Kemampuan berfikir kritis dan pemecahan masalah (Critical-Thingking and Problem-Solving Skills), mampu berfikir secara kritis, lateral, dan sistemik, terutama dalam konteks pemecahan masalah; (b) Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (Communication and Collaboration Skills), mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai pihak;
- (c) Kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah (Critical-Thingking and Problem-Solving Skills), mampu berfikir secara kritis, lateral, dan sistemik, terutama dalam konteks pemecahan masalah; (d) Kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama (Communication and Collaboration Skills), mampu berkomunikasi dan berkolaborasi secara efektif dengan berbagai pihak;
- (e) Kemampuan mencipta dan memperbaharui (Creativity and Innovation Skills), mampu mengembangkan kreativitas yang dimilikinya untuk menghasilkan berbagai terobosan yang inovatif;
- (f) Literasi teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communications Technology Literacy), mampu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan kinerja dan aktivitas sehari-hari;
- (g) Kemampuan belajar kontekstual (Contextual Learning Skills), mampu menjalani aktivitas pembelajaran mandiri yang kontekstual sebagai bagian dari pengembangan pribadi, dan (h) Kemampuan informasi dan literasi media, mampu memahami dan menggunakan berbagai media komunikasi untuk menyampaikan beragam gagasan dan melaksanakan aktivitas kolaborasi serta interaksi dengan beragam pihak.
Dengan demikian , pembelajaran saat ini tidak terlepas dari kemajuan IT dengan berbagai fungsinya untuk memajukan peradaban manusia. Kepintaran dalam menggunakan tehnologi, juga menjadi tantangan untuk menjadikan “pintar” dalam karakter baiknya. Sehingga kurikulum disusun selalu mengedapankan terbentuknya karakter dalam hal ini Profil Pelajar Pancasila.
Seseorang di abad 21 ini tidak hanya dituntut kemampuan berpikir kritis, namun juga mampu bekerja sama , berkolaborasi dan berkomunikasi dengan baik dengan berbagi pihak. Sehingga kurikulum merdeka (kumer) sekali lagi mementingkan prioritas pembelajaran Literasi dan Numerasi.
Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah sebuah terobosan belajar di lapangan dengan berbagai disiplin ilmu untuk mewujudkan berbagai karakter Pancasila. Projek ini juga sekaligus mempraktikkan pembelajaran sesuai zamannya. Sebuah konsep pembelajaran yang dikembangkan di Amerika dan disebarluaskan ke seluruh dunia tentang keterampilan abad 21 dan core subject 3R.
Pada skema yang dikembangkan oleh p21 diperjelas dengan tambahan core subject 3R. Dalam konteks pendidikan, 3R adalah singkatan dari reading, writing dan artithmatik, diambil lafal ”R” yang kuat dari setiap kata.
Dari subjek reading dan writing, muncul gagasan pendidikan modern yaitu literasi yang digunakan sebagai pembelajaran untuk memahami gagasan melalui media kata-kata. Dari subjek aritmatik muncul pendidikan modern yang berkaitan dengan angka yang artinya bisa memahami angka melalui matematika.
Dalam pendidikan, tidak ada istilah tunggal yang relevan dengan literasi (literacy) dan angka (numeracy) yang dapat mengekspresikan kemampuan membuat sesuatu (wrighthing). 3R yang diadaptasi dari abad 18 dan 19 tersebut, ekuivalen dengan keterampilan fungsional, literasi, numerasi dan ICT yang ditemukan pada sistem pendidikan modern saat ini. Selanjutnya, untuk memperjelas fungsi core subject 3R dalam konteks 21st century skills, 3R diterjemahkan menjadi life and career skills, learning and innovation skills dan information media and technology skills. Sebagian penjelasan tentang keterampilan menurut Trilling dan Fadel, adalah sebagai berikut:
1. Life and Career Skills
Life and Career skills (keterampilan hidup dan berkarir) meliputi (a) fleksibilitas dan adaptabilitas/ Flexibility and Adaptability, (b) inisiatif dan mengatur diri sendiri/Initiative and Self-Direction, (c) interaksi sosial dan budaya/Social and Cross Cultural Interaction, (d) produktivitas dan akuntabilitas/Productivity and Accountability dan (e) kepemimpinan dan tanggungjawab/Leadership and Responsibility.
Keterampilan Hidup dan Berkarir (Trilling dan Fadel (2009:48) antara lain
- Fleksibilitas dan adaptabilitas: Siswa mampu mengadaptasi perubahan dan fleksibel dalam belajar dan berkegiatan dalam kelompok
- Memiliki inisiatif dan dapat mengatur diri sendiri: Siswa mampu mengelola tujuan dan waktu, bekerja secara independen dan menjadi siswa yang dapat mengatur diri sendiri
- Interaksi sosial dan antar budaya: Siswa mampu berinteraksi dan bekerja secara efektif dengan kelompok yang beragam
- Produktivitas dan akuntabilitas: Siswa mengelola proyek dan menghasilkan produk
- Kepemimpinan dan tanggungjawab: Siswa mampu memimpin teman-temannya dan bertanggung jawab kepada masyarakat luas
Nah dari ciri ini, kita semua akan mengetahui bahwa kurikulum merdeka sebenarnya sudah memasukkan kriteria dan aspek ketrampilan yang hendak dicapai. Dari sini juga kita harus sudah memehami bahwa kumer sangat memerlukan perubahan midset pelakunya. Sudah siapkah Guru dan Siswa menjalaninya. ?
Blitar, 27 Juli 2022
Hariyanto










