Refleksi Diri 2026 dan Waktu yang Tak Bisa Menunggu

Humaniora, Terbaru, YPTD32 Dilihat

Tidak terasa 15 tahun hari-hari pensiun yang sudah kulalui menginjak Tahun Baru 2026 ini. Rasanya seperti kemarin tapi ternyata waktu berlalu begitu cepat, berganti detik, berganti menit, berganti hari, berganti bulan dan berganti tahun.

Tahun Baru faktanya adalah berkurangnya jatah usia satu tahun. Hal itu artinya saat-saat kematian lebih cepat setahun dari sebelumnya. Malah bisa saja terjadi sebelum setahun itu Malaikat Izrail sudah hadir persis di depan pintu rumah.

Ternyata waktu tidak bisa dilawan, dia akan terus berjalan tanpa bisa dihentikan sedetikpun. Untuk apa aku harus termangu mengeluh dalam kesia-siaan karena nyatanya tidak bisa memaksa waktu untuk menunggu.

Dalam 15 tahun terakhir ini sejak aku pensiun sudah berapa banyak rekan-rekan kerja pergi mendahului pulang ke HaribaanNya. Belum lagi teman-teman masa sekolah atau kuliah yang sudah meninggal lebih dulu.

Tahun 2022 yang lalu masih teringat dalam kenangan ketika Ketua Panitia Reuni 5o Tahun SMP mengumumkan berapa jumlah teman-teman seperjuangan pada masa SMP yang sudah mendahului.

Tahun 2024, justru giliran Beliau sendiri yang wafat meninggalkan teman-temannya juga para sahabat dekatnya. Akhirnya kita memang akan pulang juga ke Rumah AbadiNya.

Orang bijak pernah berkata bahwa satu-satunya kepastian dalam kehidupan ini adalah kematian. Benar kematian tidak bisa ditunda atau dipercepat karena setiap kita sudah memiliki jadwal yang sudah ditetapkanNya. 

Teringat Firman dalam Kitab SuciNya bahwa sehari bersamaKu sama dengan Seribu Tahun dari hari-hari yang kamu jalani selama di Dunia. Artinya sehari di Akhirat sama dengan 1000 tahun di Dunia. Pantas saja waktu di dunia ini begitu cepat berlalu.

Kini aku sudah saatnya lebih banyak termenung dalam renungan panjang dengan menghasilkan titik-titik cahaya kebenaran yang selama ini jauh dalam jangakauan karena diri ini terlalu kotor.

Pada tahun 2026 bagiku adalah titik usia ini yang sudah ada di kepala Tujuh, melebihi 7 tahun usia wafatnya Rasulullah SAW yaitu 63 tahun dimana beberapa orang bijak mengatakan bahwa itu berarti sudah mendapatkan bonus selama 7 tahun.

Apa arti sebuah angka yang menunjukkan usia tanpa diikuti dengan kesungguhan dalam menyadari keberadaan diri yang sejati di Dunia ini?

Tentu saja sangat bermakna dalam angka-angka tersebut tidak hanya sekedar bilangan yang bisa dihitung, tetapi juga bilangan yang menggambarkan kualitas kehidupan yang sudah dilalui.

Untuk itu maka hadirlah sebagai hamba Allah yang mengabdi kepada Dia Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Hadirlah sebagai hamba Allah yang selalu tunduk kepada KehendakNya, selalu sabar kepada TakdirNya, selalu syukur kepada PemberianNya.

Tahun kini sudah berganti dengan rutinitas yang diulang mengikuti kuasa alam di Cakrawala yang beredar menurut jalan-jalan yang sudah ditentukanNya.

Setiap pergantian tahun selalu ada pertanyaan apa resolusi tahun depan? Sementara resolusi tahun kemarin banyak yang sudah tidak lagi digubris apalagi dievaluasi.

Membicarakan setiap kesulitan yang dihadapi pada tahun kemarin, ternyata banyak yang mampu diatasi dengan baik. Tentu ujungnya rasa syukur terpanjat ke atas Langit Sana dimana Allah Yang Maha Tinggi Ber Ada.

Untuk tahun depan cukuplah sebuah harapan tidak perlu terlalu tinggi. Namun harapan itu adalah keinginan kuat bagi setiap langkah senantiasa selalu dalam BimbinganNya, dalam LindunganNya.

Waktu terus berjalan tidak bisa menunggu setiap keluhan apapun. Dalam ketidak berdayaan itu, waktu juga terus berlalu hanya meninggalkan jejak-jejak perkataan dan perbuatan yang tercatat dalam arsipNya.

Setiap tahun akan terus berganti dari waktu ke waktu. Kita sesungguhnya hanya sedang menunggu kapan saatnya waktu itu berhenti di ujung nafas kehidupan terakhir. Selamat tahun baru, selamat membuka catatan dengan lembaran baru.

Salam bahagia @hensa17.

Tinggalkan Balasan