Lebaran adalah momen yang selalu identik dengan makanan yang melimpah. Dalam pikiran kita ketika mendengar kata Lebaran pasti yang terbayang adalah ketupat, opor, rendang, hingga kue kering bergula seperti nastar dan kastengel.
Bagi orang dewasa ini adalah pesta kuliner yang harus dinikmati. Mungkin bagi mereka yang sudah memiliki pantangan terhadap jenis makanan, lupakan khusus pada hari Lebaran dan tak apalah sehari ini bisa menikmati surga kuliner.
Namun tidak semua dari kita bisa menikmati aneka kuliner Lebaran yang berlimpah tersebut, terutama bagi anak-anak. Mereka justru bisa terjebak pada pilihan makanan yang tidak tepat.
Pada momen itu bisa jadi anak-anak lebih banyak ngemil kue kering daripada makan makanan utama yang berkarbohidrat. Akibatnya pada saat mereka tiba waktunya makan, anak-anak tidak mau makan karena sudah kenyang dengan gula dan tepung dari kue-kue.
Dalam jangka panjang akibatnya anak-anak semakin susah makan karena mereka hanya mau makanan tertentu, seperti camilan yang gurih atau manis.
Keadaan ini sangat mengkhawatirkan karena bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang anak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk menerapkan cara yang tepat agar anak-anak tetap mau makan yang bergizi seimbang.
Jika kita tidak segera mengantisipasi keadaan tersebut maka anak-anak akan mengalami kondisi yang disebutĀ Picky EatingĀ pada saat Lebaran.
Picky eating adalah perilaku anak-anak balita yang pilih-pilih makanan kesukaannya saja dan cenderung menolak jenis makanan baru yang justru dibutuhkan oleh mereka sebagai nutrisi utama.
Apa yang menyebabkan anak-anak pilih-pilih makanan pada saat Lebaran? Hal itu terjadi karena pada momen lebaran ada kecenderungan pola makan berubah karena banyaknya jenis makanan.
Anak-anak yang terbiasa dengan jadwal makan teratur, tapi saat Lebaran, jadwalnya jadi tidak teratur karena kesibukan acara silaturahim keluarga.
Begitu pula pada momen lebaran ini biasanya banyak sekali kue-kue yang manis dan gurih. Bagi anak-anak aneka camilan berupa kue kering, cokelat, dan keripik gurih lebih menggoda daripada nasi dan lauknya.
Hak tersebut yang membuat anak-anak menjadi terbiasa dengan rasa manis dan gurih, sehingga menolak makanan lain terutama makanan utama seperti nasi dan lauk pauknya.
Apalagi pada momen Lebaran tersebut aneka variasi makanan sangat banyak sehingga membuat anak-anak bingung dalam memilih makanan. Mereka kahirnya hanya memilih makanan yang mereka sukai saja seperti camilan kue.
Untuk menghindari anak-anak kita menjadi seorang picky eater maka beberapa upaya bisa kita lakukan. Misalnya berusaha membatasi anak-anak dalam mengonsumsi kue kering bergula dan camilan gurih.
Mereka harus mengurangi camilan bergula karena jika konsumsi berlebihan, maka bisa menyebabkan penurunan nafsu makan anak. Dengan camilan bergula perut mereka sudah kenyang sehingga membuat mereka malas mengonsumsi makanan utama.
Akhirnya kita sebagai orang tua harus ketat mengawasi anak-anak saat lebaran agar tidak terlalu banyak mengonsumsi camilan kue bergula atau yang gurih. Alihkan perhatian anak-anak dengan camilan sehat seperti buah potong, keju, atau yogurt.
Kita sebagai orang tua harus menjaga pola makan anak-anak tetap teratur. Pada saat Lebaran, jangan sampai mengubah jadwal makan mereka.
Biasanya pada saat Lebaran, jadwal makan anak-anak seringkali berubah karena sibuk kunjungan ke rumah keluarga atau sibuk menerima tamu yang datang. Dalam keadaan ini anak-anak malah lebih banyak mengonsumsi camilan kue.
Dengan tetap mempertahankan jadwal makan utama anak-anak seperti sarapan, makan siang, makan malam, maka anak-anak tidak terjebak dalam momen Lebaran yang hanya mengandalkan camilan.
Ada baiknya sebelum pergi bersilaturahim keluarga, anak-anak sudah makan sarapan dengan gizi seimbang. Hal ini penting agar mereka tidak terjebak hanya ngemil di rumah orang lain.
Mengganti camilan kue lebaran dengan camilan sehat di antara jam makan misalnya pisang, telur rebus atau buah-buahan segar seperti apel, mangga, semangka. Semoga bermanfaat.
@hensa17.








