Refleksi Diri: Menjalani Hidup Ini ternyata Sederhana

Humaniora, Terbaru, YPTD54 Dilihat

Menjalani hidup ini ternyata sederhana. Apakah benar demikian? Aku harus bisa menjawab makna dari kata sederhana tersebut. 

Mungkin jawabannya bisa saja hanya sekedar menjadi refleksi diri. Atau itu hanya menghibur diri karena menjalani hidup ini saja sudah terlalu berat.

Dalam pikiranku mengendap sebuah kalimat gamang bahwa hidup ini saja sudah susah kenapa harus dibikin rumit, maka lebih baik sederhanakan saja.

Orang bijak pernah berkata bahwa hidup yang sebenarnya itu dimulai pada usia 40 tahun. Aku tidak tahu siapa yang pertama kali ngomong seperti itu yang jelas itu adalah kalimat bijak yang merujuk pada filosofi.

Makna filosofisnya adalah pada usia 40 tahun adalah sebagai titik awal dari kehidupan yang lebih matang, menemukan rasa sadar diri, dan semakin terasa bahwa hidup ini bermakna.

Pada usia matang itu biasanya manusia memiliki stabilitas emosional dan mungkin juga finansial, serta pola pikir bijak yang didapat dari pengalaman hidup sejauh ini.

Konsep ini juga diperkuat dalam konteks ajaran agama, di mana pada usia 40 tahun merupakan usia dewasa yang penuh dengan kematangan dan kebijaksanaan dalam berpikir, berkata dan berbuat.

Bisa menjadi momen untuk refleksi diri, menjalani tobat, dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Sang Pencipta. Pada usia itu adalah saatnya yang tepat untuk memahami bisa menerima diri sendiri secara lebih dalam dan lebih fokus. .

Begitu juga sudah saatnya untuk meninggalkan pikiran tentang ekspektasi orang lain. Fokus saja pada kebahagiaan diri sendiri yang nyata dijalani. Saatnya tidak butuh lagi validasi dari siapapun. Lebih percaya pada diri sendiri dalam menata ruang kehidupan.

Momen tepat untuk merenungkan jati diri dengan memperbanyak bersyukur, memahami arti ibadah, memahami arti dari sosok seorang hamba di depan Khaliqnya.

Kesadaran sosok individu seperti tersebut tentu saja tidak semudah menuliskannya dalam sebuah artikel seperti ini. Jauh lebih sulit saat menjalaninya dalam kehidupan yang nyata. .

Namun ada sebuah referensi suci dalam Kitab Allah yang menyebutkan FirmanNya bahwa “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu”.

Jujur bagiku FirmaNya ini selalu menjadi pegangan dalam menjalani seluruh aktivitas kehidupan ini. Kalimat dalam penyampaiannya sangat sederhana tetapi memahami makna terdalamnya tidak sederhana karena membutuhkan ilmu.

Iya sangat jelas semua yang kita kerjakan dalam hidup ini butuh ilmunya. Bagaimanapun untuk bisa memahami Firman-FirmanNya dalam Kitab SuciNya juga butuh ilmu dan hanya karena PetunjukNya semua ilmu tersebut mampu diserap.

Beribadah dalam hal ini adalah sebagai bentuk penghambaan dan pengakuan atas KebesaranNya, serta sebagai jalan bagi semua mahlukNya untuk meraih kebahagiaan dan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat.

Hal itu juga memberikan pemahaman bahwa Allah itu Maha Esa, tidak ada yang menyamaiNya. Maha Terdahulu dan Maha Terkemudian. Maha Kekal dan Abadi serta Maha Berkuasa atas segala sesuatu yang di langit dan di bumi serta di antara keduanya.

Dengan memahami rujukan Firman Allah satu ini, maka semakin dirasakan betapa hidup ini sangat sederhana yaitu menjadi hambaNya yang selalu mengabdi dalam seluruh sendi kehidupan ini.

Meskipun tidak mudah menerapkannya dalam keseharian tetapi FirmanNya sebagai rujukan harus bisa dijalankan mungkin dari hal-hal kecil dulu.

Menyederhanakan hidup ini cukup memahami dua kunci yaitu selalu ingat bahwa pada usia 40 tahun adalah awal kehidupan yang sebenarnya. Kemudian selalu bisa memahami bahwa Tuhan menciptakan hambaNya semata-mata hanya untuk beribadah kepadaNya.

Apakah sesederhana itu? Entahlah tapi paling tidak ini hanya sebuah cermin refleksi bagi diri sendiri. Bukan untuk siapa-siapa.

Salam bahagia @hensa17.

Tinggalkan Balasan