Artikel Lomba Blog Guru
Hari : Rabu
Tanggal : 10 Februari 2021
Nama : Juni Hidayati, S.Pd
Unit Sekolah: SMPN 2 Gemuh

DAFTAR NILAI SENJATA GURU DI KELAS
Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional pasal 1 ayat 1 berbunyi pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Selanjutnya pasal 3 menegaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi waga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Penilaian kurikulum 2013 meliputi 3 aspek, antara lain: aspek ketrampilan, aspek pengetahuan, dan aspek sikap dan perilaku. Penilaian kurikulum 2013 merupakan penilaian otentik, yaitu penilaian yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari input, proses, dan output. Penilaian dilakukan secara edukatif, artinya penilaian mendidik dan memotivasi guru dan peserta didik. Penilaian kurikulum 2013 mempunyai nilai positif, antara lain guru menjadi lebih memahami murid secara individu. Bagi siswa daftar nilai merupakan cermin diri yang dapat memacu semangat belajar. Siswa dapat mengetahui perkembangan prestasi melalui daftar nilai.
Melaksanakan penilaian kurikulum 2013 cukup melelahkan, tetapi hasilnya cukup memuaskan, mengingat penilain yang dilakukan secara komprehensif. Aspek pengetahuan, jenis penilaian yang disajikan dapat beraneka ragam. Penilaian yang diambil dapat ditentukan sesuai materi pelajaran dan karakter siswa. Sekolah dengan input siswa bagus jenis penilaian akan berbeda dengan sekolah yang input siswanya kurang bagus. Pendekatan pengajaran berbeda antara siswa yang memiliki IQ tinggi dan siswa yang memiliki IQ rendah. Penilaian disesuai dengan cara belajar siswa. Misalnya pelajaran IPS, mengajar siswa yang kurang pandai dapat digunakan metode menghafal. Penilaian yang diperlukan berarti ulangan lisan. Sementara bagi siswa dengan kepandaian yang cukup tinggi metode yang digunakan adalah metode pengayaan materi, siswa diminta mencari materi yang lebih luas daripada buku paket. Penilaian untuk siswa yang memiliki IQ tinggi dapat menggunakan teknik bermacam-macam, bisa menggunakan penilaian presentasi, produk, maupun proyek. Semakin pandai siswa maka semakin beraneka macam teknik penilaian yang dapat digunakan.
Penilaian aspek sikap dan perilaku sangat ditekankan pada kurikulum 2013. Salah satu alat penilaian yang sering saya gunakan untuk menilai karakter siswa adalah jurnal mengajar. Ketika ada siswa yang “menjengkelkan” ketika di ajar di kelas, maka segera saya tulis di jurnal. Hal ini saya lakukan untuk bukti tertulis nilai sikap dan karakter siswa tersebut. Pada kesempatan lain, jika siswa tersebut “berulah” maka catatan tersebut saya berikan kepada siswa tersebut. Ketika catatan jelek siswa tersebut diketahui oleh siswa yang bersangkutan. Siswa tersebut tunduk menyadari bahwa perbuatannya selama ini tidak baik. Ketika siswa tersebut menyadari bahwa akhlaknya kurang terpuji, maka saya memberi nasehat untuk seluruh siswa, tidak hanya siswa tersebut. Bahwa manusia diciptakan mempunyai satu mulut dan dua telinga adalah sesuai kodratnya masing-masing. Artinya manusia harus lebih sering mendengar daripada berbicara. Dengan begitu, maka kekerasan untuk memperbaiki karakter siswa tidak diperlukan lagi. Siswa disentuh dengan daftar nilai untuk mengingatkan bahwa nilainya masih sangat jauh dari standar dan harus terus diperbaiki.
Sebagian besar siswa yang mempunyai nilai jelek biasanya siswa tersebut “nakal” di kelas maupun di sekolah. Siswa yang rajin akan sibuk mengerjakan tugas dari guru, sementara siswa yang “nakal” cenderung malas mengerjakan tugas, akhirnya nilainya menjadi jelek. Daftar nilai hendaknya selalu dibawa guru ketika mengajar di kelas. Hal ini penting dilakukan untuk merekam segala tingkah laku siswa. Jika perlu kamera dapat digunakan untuk merekam tindakan siswa di kelas. Kemampuan akademik siswa tertuang dalam daftar nilai. Ketika siswa mengerjakan tugas dari guru. Maka guru harus mengontrol kegiatan siswa melalui daftar nilai. Siswa yang malas dan siswa yang rajin akan terlihat di daftar nilai.
Pada waktu penerimaan raport, maka nilai harian direkap, diolah dengan nilai Ulangan Tengah Semester dan Ulangan Semester kemudian diberikan kepada orang tua atau wali siswa. Nilai tersebut merupakan cerminan kemampuan siswa. Peroleha nilai kurikulum 2013 terbagi dalam tiga aspek bidang akademik tertuang dalan nilai pengetahuan. Nilai tugas, proyek, maupun pekerjaan rumah dapat dituangkan dalam nilai ketrampilan siswa. Perilaku dan karakter siswa tertuang dalam nilai sikap dan perilaku. Daftar nilai merupakan bukti otentik ketika terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Misalnya seorang anak yang dianggap pandai tetapi nilainya jelek. Ketika dirunut dalam daftar nilai ternyata siswa tersebut sering menyepelekan tugas dari guru. Sepandai apapun siswa tersebut, tetapi kalau tidak pernah mengerjakan tugas dari guru maka nilainya tidaka akan bisa bagus.
Kasus pemukulan guru yang dilakukan sekolah siswa terhadap gurunya merupakan hal yang sangat memprihatikankan. Setelah diselidiki ternyata siswa tersebut tidak terima ketika tidur saat pelajaran berlangsung, sang guru menegur siswa tersebut dengan menorehkan cat dipipinya. Si anak tidak terima dengan perlakuan guru, kemudian mencari celah yang memungkinkan dia membalas sakit hatinya. Pembalasan sang murid ternyata membawa maut bagi sang guru. Menurut hemat penulis, sebaiknya guru tersebut tidak gegabah memberikan hukuman bagi siswa dengan menorehkan cat ke pipi siswanya. Jika saja guru tersebut melihat “track record” anak tersebut. Daftar nilai dapat dijadikan senjata guru untuk menghadapi siswa tersebut. Jurnal guru juga dapat dijadikan pedoman ketika guru memberikan sanksi kepada siswa yang mempunyai karakter yang kurang baik. Satu siswa dengan siswa yang lain perlu penanganan yang berbeda. Anak perempuan dengan anak laki-laki juga membutuhkan penanganan yang berbeda. Siswa yang mempunyai kelakukan baik dan siswa yang mempunyaik kelakuan buruk juga membutuhkan penanganan yang berbeda. Pengalaman penulis untuk siswa yang memiliki catatan khusus memerlukan pendekatan yang berbeda. Terkadang penulis membiarkan saja siswa yang memiliki catatan khusus “tidur” di kelas, karena dengan dia tidur justru pembelajaran menjadi kondusif. Perlu kerja sama dengan guru BK untuk menangani siswa seperti itu. Guru tidak perlu melakukan tindakan fisik untuk menghukum siswa, cukup daftar nilai saja yang berbicara.










