Suara hati emak-emak ketika anaknya sekolah Online (PJJ)

Suara Hati Emak -Emak Ketika Anaknya Sekolah Online ( PJJ )
Oleh: Khoirul Anwar

Pandemi Covid-19 di Indonesia di awali ditemukannya dua orang yang dinyatakan positif, yaitu dua wanita yang berasal dari kota Depok Jawa barat. Akhirnya menyebar luas sampai ke seluruh propinsi di Indonesia. Pada tanggal 15 Maret 2020 Pemerintah secara resmi mengumumkan kebijakan penutupan sekolah untuk seluruh jenjang pendidikan dari PAUD sampai Perguruan Tinggi. Sejak saat itu secara langsung atau tidak langsung pembelajaran dilakukan secara Online /Daring atau dikenal dengan istilah Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ ). Pemberlakuan PJJ menimbulkan berbagai macam reaksi dan tanggapan baik dari para guru, siswa maupun masyarakat pada umumnya. Meskipun PJJ terdapat beberapa kelebihan, namun tidak sedikit juga memiliki kelemahan.

Dari berbagai tanggapan tentang PJJ yang sudah berjalan satu tahun lebih ( Maret 2020 – sekarang Agustus 2021)
Penulis disini sengaja hanya menampilkan sisi suara/tanggapan ibu-ibu yang notabene banyak menjadi sorotan dan terdampak lebih “dahsyat” dibanding dengan kaum lelaki. Kalangan “emak-emak” disebutnya memang lebih banyak disorot karena mereka itulah tonggak utama di rumah yang menemani anak-anak dalam PJJ khususnya siswa di tingkat Sekolah dasar ( SD ). Komentar “emak-emak ini ada yang tergolong pedas/ kritis ada juga yang standar. Berangkat dari banyaknya komentar emak-emak tersebut penulis sengaja menghadirkan tulisan dengan tema “ Suara hati emak-emak ketika anaknya sekolah Online”.

Seperti sudah kita maklumi bersama, pada saat berlangsungnya sistem pembelajaran dari rumah atau PJJ banyak pihak telah mengalami kegundahan dan kegelisahan. Ibu-ibu sudah barang tentu menjadi bagian utama yang mengalami hal tersebut. Sebagian besar emak-emak yang memiliki anak bersekolah di tingkat SD mengalami kegundahan yang sama yaitu anak mereka melaksanakan sekolah Daring, maka kondisi psikologis emak-emak mengalami “Darting” alias Darah Tinggi. Maksudnya akibat dari anaknya sekolah online/model daring ibunya banyak yang mengalami tekanan darah tinggi. Hal ini terjadi karena hampir setiap hari para emak tadi harus disibukkan dengan mendampingi dan mengajari anaknya dalam mengerjakan dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah yang diberikan oleh guru. Karena si anak kebanyakan masih belum mengerti apa yang dijelaskan atau diajarkan oleh gurunya melalui online atau virtual. Si anak kebanyakan malu, segan, tidak berani, atau tidak mau bertanya langsung ke gurunya. Sehingga berakibat ibunya lah yang menjadi sasaran terakhir bertanya. Akibatnya ibu juga lah yang harus membimbing , mengajari dan menyelesaikan tugas-tugas guru.

Selanjutnya pada saat ibu mengajari anaknya mengerjakan tugas-tugas sekolah, seringkali ibu kurang / bahkan tidak begitu paham dengan materi yang ada. Hal ini menyebabkan ibu-ibu itu terpaksa belajar dan membaca buku/materi tersebut. Hal ini terkadang membuat ibu-ibu makin lelah dan terbawa emosi, karena mungkin faktor usia atau karena faktor kelelahan dari seorang ibu yang seharian mengerjakan tugas-tugas rumah. Dari keadaan itulah yang akhirnya memicu terjadinya keributan/perselisihan mulut bahkan tidak jarang “berantem mulut” antara ibu dan anak dalam hal menyelesaikan tugas PJJ dari guru. Itulah yang membuat emak-emak menjadi darting/darah tinggi.

Khusus ibu-ibu yang menyekolahkan anaknya di sekolah swasta, ceritanya lebih tragis dan memilukan. Bagaimana tidak membuat “Darting” emak-emak kambuh, tugas anaknya dari sekolah yang banyak mengajari adalah dia sang ibu di rumah dengan berbagai macam cara ( baca buku, cari di google, tanya ) tetapi SPP/bayaran sekolah tetep jalan terus dan tidak ada pemotongan atau keringanan. Hal ini nyata terjadi hampir di semua sekolah swasta di Indonesia khususnya level Sekolah Dasar ( SD ).

PJJ ini juga membuat banyak ibi-ibu di Indonesia khusunya yang anaknya masih duduk di bangku SD makin gerah dan sewot, karena selama PJJ berlangsung seringkali pekerjaan dapur tidak selesai atau terganggu, itupun masih ditambah lagi permasalahan harus berfikir untuk membeli kuota untuk PJJ besok atau untuk satu minggu ke depan. Bahkan emak-emak sekarang sering bingung antara beli kuota atau bahan dapur.

Dari beberapa permasalahan emak-emak tersebut, yang sudah pasti terjadi dan tidak bisa dielakkan serta banyak yang mengalami adalah anak-anak sekarang menjadi kecanduan Gadget. Hal ini terjadi karena anak-anak dipaksa menggunakan Gadget cukup lama. Dari jam 06.30 sampai 11.30 ( saat PJJ ) dan sore atau malam hari saat mengerjakan tugas-tugas atau PR dari sekolah.
Sejujurnya dari lubuk hati yang paling dalam emak-emak adalah mereka pengen keadaan kembali normal seperti semula sebelum terjadi pandemi covid-19.

Itulah sekelumit suara hati dari emak-emak ketika anaknya melakukan kegiatan PJJ atau sekolah Online.
Semoga tulisan ini dapat menyadarkan kita semua akan pentingnya kerjasama antara sekolah, masyarakat dan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan pendidikan, demi kemajuan dan berhasilnya dunia pendidikan Indonesia.

Penulis sadar bahwa masih banyak kelemahan dan kekurangan dari tulisan ini, untuk itu kritikan dan masukan sangat kami harapkan demi perbaikan ke depan. Bravo guru Indonesia.

Tangerang Selatan, 22 Agustus 2021

Tinggalkan Balasan