
Kepercayaan masyarakat di Desa Pacar, Manggarai Barat, tak dapat dipisahkan dengan kultur agraris yang memiliki keterkaitan yang erat antara alam dengan seluruh kehidupan ciptaan. Kepercayaan akan keterkaitan unsur-unsur itu nyata dalam berbagai bentuk.
Setiap simbol dalam upacara adat pada masyarakat di Desa Pacar juga memberikan makna tersendiri. Dari sekian simbol dalam ritual adat tersebut hadir sebagai proses inkulturasi dari suatu tradisi dan juga sebagai eksistensi dalam suatu entitas dan/atau komunitas.
Dan pada tulisan kali saya akan memaparkan 2 (dua) jenis ritual agraris, Benso Rasi dan Randang, yang sampai saat ini masih eksis dan dipraktikkan oleh masyarakat di Desa Pacar.
Upacara Benso Rasi dan Randang adalah jenis ritual yang dilakukan ketika memasuki masa tanam dan mengawali masa panen. Tujuan diadakannya kedua ritual ini ialah untuk meminta berkat dan perlindungan kepada Mori Jari Dedek (Tuhan Sang Mahapencipta), roh leluhur dan juga restu alam.
Sekiranya benih (padi) dan/atau bibit tanaman perkebunan yang hendak ditanami itu kelak akan tumbuh subur dan berbuah serta dijauhkan dari hama wereng atau ancaman gagal panen.
Dalam doa-doa asli orang Pacar secara eksplisit disebutkan nama Tuhan dan roh leluhur. Roh leluhur di sini dipercayai sebagai mediator dan/atau perantara doa-doa yang dipanjatkan ke hadirat Tuhan Yang Mahapencipta. Karena itu nama leluhur sering diucapkan dalam doa.
Dalam pelaksanaan upacara Benso Rasi dan Randang diikutsertakan juga hewan kurban seperti mbe (kambing) dan juga manuk lalong agu manuk bakok (ayam jantan hitam dan putih).
Dalam ritual adak (adat) masyarakat di Desa Pacar, bulu ayam juga memiliki arti, misalnya bulu ayam putih melambangkan keputihan hati, bersih dan suci. Sementara ayam bulu hitam sebagai wujud penyesalan dan simbol rekonsiliasi dengan segenap alam ciptaan.
Kepercayaan orang Pacar tak dapat dipisahkan dengan kultur agraris yang memiliki keterkaitan yang erat antara alam dengan seluruh kehidupan ciptaan. Tanah, gunung, air mempunyai relasi yang tak terpisahkan dan menyatu dengan kehidupan semua makhluk.
Kepercayaan akan keterkaitan unsur-unsur itu nyata dalam berbagai bentuk. Hal ini menjadi kosekuensi logis dalam kepercayaan-kepercayaan asli (baca: animisme dan fetisme) nenek moyang orang Pacar.
Ritual Benso Rasi dan Randang
Ritual adat Benso Rasi dan Randang pada dasarnya diadakan secara langsung di sawa/uma (lahan sawah/perkebunan) dan satu sisi bisa juga dilakukan di dalam sekang (pondok kebun) jika situasi dan kondisi tidak memungkinkan.
Lebih lanjut, kedua ritual tersebut dipimpin langsung oleh tu’a teno (orang yang dipercayakan atau dituakan dalam kampung itu). Selama kedua ritual itu berlangsung, tu’a teno juga akan tampil sebagai torok (penutur) sembari memegang ayam jantan berbulu putih/hitam.
Setiap satu bait torok selesai, ia mencabut bulu ayam sehingga ayam itu mengeluarkan suara. Pada waktu yang sama sang pemilik kebun beserta keluarga yang lain duduk bersila di sekitar tu’a teno tadi.
Kalimat torok si tu’a teno tatkala memimpin ritual Benso Rasi biasanya berbunyi demikian:
“Yo Mori, agu ised pa’ang bele. Ami kudu tegi berkak dite, porong apa sot weri danak’m wua di’a cepisa agu jaga koes lite (dst).
Terjemahannya: Ya Tuhan, juga untuk para leluhur, kami anakMu meminta berkat dan perlindungan. Kiranya apa yang kami tanami kelak tumbuh dan berbuah hingga dijaga agar tidak diserang hama wereng dan binatang)”.
Dan ketika pada saat ritual Randang kalimatnya akan berubah menjadi:
“Yo Mori, agu ihe pa’ang be’le. Gami anak’m loho go’o tegi berkak dite. Perong berkak koe gami one leho-leho nggerolon. Agu porong tadang koe sangget da’at data agu sial selama pua wua weri gami ho len. (dst).
Terjemahannya: Ya Tuhan, roh leluhur dan alam, kami anakmu meminta berkat dan perlindungan, kiranya selama masa panen berlangsung ini, kami selalu di jaga, diberikan kesehatan, keselamatan hingga rezeki yang cukup. Lazimnya, doa pengantar dan/atau pembuka si penutur seperti itu. Kendati untuk melakukan torok tidak boleh dilakukan oleh sembarangan orang. Dalam hal ini hanya dilakukan oleh orang yang berpengalaman saja.
Ketika kedua ritual ini usai, sang pemilik kebun biasanya melakukan perundingan dengan si tu’a teno. Hal ini dilakukan untuk menentukan hari yang baik untuk memulai penanaman dan pemanenan (dan sepengetahuan saya, lazimnya penanaman dan pemanenan dilakukan sehari dan atau dua hari setelahnya).
Fakta lain juga menyuguhkan, bahwa masyarakat di Desa Pacar berkeyakinan bila orang yang sudah meninggal, terkhusus nenek moyang mereka mempunyai relasi intim dengan anak dan cucunya yang masih hidup di dunia.
Ada kepercayaan apabila tanaman di kebun mati hingga mengalami gagal panen itu karena arwah leluhur tidak diikutsertakan selama proses ritual. Akibatnya arwah para leluhur merasa tersinggung dan marah.
Dalam konteks itu juga, arwah para leluhur pada suatu sisi dianggap sebagai pihak yang dapat membantu dan menolong. Namun, pada sisi lain bisa menjadi pihak pemberi “bencana” bila tidak dihormati.
Masyarakat di Desa Pacar hingga kini masih berpegang teguh pada ritual agraris seperti ini. Kendati orang Pacar memang tidak pernah bertemu langsung dengan Tuhan, namun mereka meyakini dapat menemukan Tuhan dalam diri orang tuanya.
Istilah ini lebih dikenal dalam go’et; Mori ata ita le mata (Tuhan yang kelihatan).
Ritual Benso Rasi dan Randang juga merupakan simbol integral antara Tuhan dengan manusia, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Sebuah prinsip dasar sebagai jalan keluar melalui penilikan atas relasi horizontal dan vertikal.
Pendek kata, prosesi ritual Benso Rasi dan Randang pada prinsipnya tidaklah jauh berbeda. Perbedaannya hanya terletak pada kalimat doa si penutur hingga waktu diselenggarakannya ritual tersebut.
Terima kasih.
Guido untuk Inspirasiana
Pacar, 2 Juli 2020












