Menyiapkan Anak
Generasi 4.0
yang Gemar Belajar
Ayah-Bunda dan Papa-Mama Tercinta yang sedang membaca buku
ini.
Ketika saya diminta untuk membaca buku-buku ini kemudian
diminta untuk memberikan ulasan, pikiran saya segera melayanglayang mengingat kembali masa-masa tumbuh kembang kedua balita
kami.
Sebagai seorang yang berkecimpung di dunia parenting, saya
mendapati bahwa sebagian besar orang tua saat ini banyak yang
mengeluhkan betapa sulitnya mengajari anak-anak mereka (terutama
saat usia balita) mengenai pengetahuan dan kebiasaan-kebiasaan
baik yang akan menjadi bagian hidupnya kelak ketika dewasa. Tak
terkecuali juga kami sebagai orang tua.
Mengapa?
Berdasarkan pengalaman kami yang berkecimpung dalam dunia
pendidikan dan parenting, saya menemukan bahwa hal ini terjadi
*karena para orang tua mengajari anak dengan cara orang
tua belajar, bukan dengan cara anak-anak belajar.
Sebagian besar orang tua masih banyak yang
berpandangan bahwa belajar itu harus serius, duduk diam, dan dengan sistem perintah. Sementara bagi anak-anak,
belajar itu harus sambil bermain, berimajinasi, dan berdiskusi
tanya jawab*
Jadi, sepertinya tidak nyambung antara cara belajar anak dan cara
mengajar orang tuanya.
Untuk itu, kiranya perlu kita sadari segera kekeliruan ini dan mari
mulai saat ini kita coba mengajar dengan cara anak-anak belajar.
Saya masih ingat sekali ketika kedua anak balita saya belajar
mengenali huruf-huruf bacaan. Waktu itu saya membelikan video
belajar mengenali huruf alfabet yang isinya adalah memperkenalkan
huruf sambil bernyanyi, menari, dan melompat riang gembira. Kedua
anak saya senang sekali mengikutinya dan tanpa sadar mereka mulai
mengenali huruf satu demi satu mulai A sampai Z, kemudian mulai
bisa membedakan antara huruf besar dan huruf kecil.
Menurut pengalaman dan pengamatan saya, kebanyakan anak
lebih menyukai belajar sambil bergerak. Namun, sebagian lagi
ada yang menyukai belajar dengan mengamati. Jadi, kami juga
memperkenalkan huruf-huruf kepada anak kami melalui buku-buku
yang di dalamnya berisi gambar-gambar berwarna-warni berikut
permainan yang mengasyikkan.
Pada awalnya, sulit sekali mengajak anak-anak kami belajar.
Namun, setelah berhasil menemukan alat bantu yang tepat ternyata
mengajak belajar anak menjadi mudah. Bahkan, setelah itu sering kali
merekalah yang mengajak orang tuanya belajar bersama atau lebih
tepatnya mereka yang meminta diajari oleh kami.
Bagi mereka, apa yang dilakukannya itu adalah bermain. Namun,
menurut saya itu adalah proses belajar karena mereka jadi lebih cepat
memahami apa pun yang kami ajarkan. Bermain sambil belajar dan
belajar sambil bermain ternyata sangat ampuh untuk membuat anak
kita rajin belajar sampai bisa dan hafal luar kepala.
Hal yang menarik adalah anak-anak itu tidak akan pernah bosan
untuk mengulang-ngulang materi yang sama, meskipun jujur saja
sebenarnya saya yang mengajarinya sudah bosan dengan materi
tersebut. Itulah dunia anak-anak.
Jadi, saya sering termenung jika ada orang tua yang mengatakan
ada anak yang bosan belajar. Saya sering membatin, Mungkin bukan
anaknya yang bosan belajar, tapi cara belajarnya yang tidak menarik dan
tidak mengasyikkan.
Awalnya saya bertanya-tanya alasan buku-buku Healthy Kids box
set ini dibuat tebal-tebal, sedemikian kokoh dan menariknya sehingga
mungkin menyebabkan harganya relatif di atas buku-buku lainnya.
Kemudian, saya baru tahu bahwa anak-anak kita akan menggunakan
buku ini berkali-kali, membacanya berulang-ulang, dan tidak akan
pernah bosan. Jadi, bayangkan jika buku ini tidak dibuat sekokoh ini,
mungkin sebentar saja sudah sobek di sana sini atau bahkan sudah
hancur karena terlalu sering digunakan.
Saya mengamati anak saya dan anak-anak di sekolah yang kami
bangun, ternyata mereka pada umumnya adalah pembelajar visual
dan kinestetik.
Apa artinya?
Pembelajar visual adalah belajar akan lebih cepat ditangkap
dan dipahami jika dikombinasikan dengan gambar-gambar visual yang menarik. Jadi, sebelum melakukannya, mereka bisa
memvisualisasikannya dalam pikiran mereka.
Apabila mereka sudah sering memvisualisasikan apa yang mereka
baca dan lihat melalui buku maka pembelajaran kinestetik atau praktik
akan menjadi jauh lebih menarik dan mudah bagi mereka.
Selain itu, anak-anak itu juga pembelajar auditori. Apa maksudnya?
Ya maksudnya, proses belajar akan jauh lebih menarik bagi mereka
apabila ada teman yang bisa diajak diskusi atau ditanya-tanyai.
Mengapa? Karena setiap anak-anak itu menyimpan berjuta rasa ingin
tahu tentang apa saja. Otak mereka masih seperti spons kering yang
akan menyerap apa saja di sekitarnya sebagai hal menarik untuk
dipelajari. Jadi, alangkah baiknya jika ada kesempatan kita bisa
menemaninya.
Sejak kami mengenal buku-buku pembelajaran semacam ini,
kami merasa sangat terbantu dan tidak perlu lagi kerja keras untuk
mengajak anak belajar dan mengajarkan berbagai pengetahuan
dasar kepada anak-anak kami. Kami tidak perlu lagi merayu mereka
agar rajin belajar, tetapi merekalah yang terus merayu kami dengan
bertanya, “Kapan kita akan belajar lagi, Ayah?”
Ada hal penting yang perlu diketahui para orang tua. Berdasarkan
pengalaman kami, anak-anak itu, terutama para balita, memiliki
waktu belajar yang paling efektif sore hingga malam hari, yakni antara
pukul 19.00–21.00. Apalagi untuk anak-anak yang lebih dominan
otak kanannya, sering kali mereka baru on atau lebih semangat mulai
pukul 21.00–00.00. Wah, ini sebenarnya merupakan waktu-waktu
lelah orang tuanya, ya ….
Jadi, ketika menggunakan buku ini, orang tua akan tertolong
sekali. Mengapa? Karena saat mulai kelelahan dan perlu istirahat, buku ini seolah-olah mengambil alih tugas orang tua, paling tidak
sebanyak 60–80%. Mereka dapat belajar mandiri dan sisanya kita
tinggal membantu anak dan menjelaskan apa yang mereka kurang
mengerti dari buku yang mereka baca. Jika saya sudah merasa lelah,
saya sering negosiasi dengan mereka. “Oke, malam ini kita belajar
membaca, besok kita mainkan game-nya, ya ….” (Dulu, biasanya kami
janjikan waktunya pagi atau siang saat saya sedang tidak ada acara
mengajar.)
Anak-anak itu memang makhluk yang cepat sekali ingat, tetapi
sekaligus cepat sekali lupa. Jadi, apabila kita ingin mengajari anak
tentang sesuatu yang harus terus diingat maka kita harus bersabar
dan mau melakukannya berulang-ulang agar bisa menjadi kebiasaan.
Misalnya, ketika kita ingin mengajarkan magic words kepada anak
kita seperti, “Maaf, tolong, terima kasih,” anak kita mudah sekali
melakukannya, tapi mudah sekali juga melupakannya. Begitu juga
ketika kita mengajari untuk mencuci tangan, menggosok gigi, dan
sebagainya. Jadi, untuk bisa menjadi kebiasaan kita perlu mengajari
dan melakukannya berulang-ulang setiap hari.
Sebagai makhluk visual, kemampuan belajar dengan pola
pembiasaan ini akan sangat terbantu. Terutama, apabila setiap hari
atau setiap malam anak-anak bisa melihat kembali hal tersebut dalam
bentuk visual yang terdapat di dalam buku kesayangannya ini.
Saya merasa, ketika anak meminta diajari berulang-ulang
menggunakan buku ini, tanpa sadar akan tertanam secara visual
dalam benak anak kita. Bahkan, sering kali ia akan ingat sendiri bahwa
harus melakukannya, tanpa perlu diingatkan lagi.
Ketika saya mempelajari buku ini satu demi satu, saya menemukan
ada dua hal yang sangat penting di dalamnya.
1. *Buku ini disajikan dalam bahasa Inggris* Saya ingat
ketika pimpinan perusahan besar dunia yang bergerak di dunia digital
IT, pernah mengatakan kira-kira begini.
“Saya kira di zaman ini dan ke depan, dunia akan menjadi tanpa
batas (borderless). Dengan berkembang pesatnya dunia digital maka
kelak anak-anak bisa bekerja di perusahaan dari negara mana saja
dan mereka bisa tinggal di negara mana saja. Ia bisa bekerja untuk
perusahaan dari Eropa, sementara ia sendiri tetap bisa tinggal di
negaranya tanpa harus tinggal di negara tempat ia bekerja. Hampir
semua pekerjaan kelak dapat dilakukan secara on line dari tempat
mereka berada atau bahkan dari rumah mereka.”
“Perusahaan-perusahaan dari Amerika atau Eropa bisa merekrut
karyawan mereka dari negara mana saja tanpa harus terhalang
dengan aturan kewarganegaraan setempat. Jadi, sudah saatnya setiap
anak harus menguasai minimal satu bahasa internasional untuk bisa
mengakses dunia.”
Saya kira, kita semua sepakat bahwa bahasa Inggris telah lama
menjadi bahasa internasional masyarakat dunia dan akan tetap
menjadi bahasa internasional dunia.
Jadi, ketika kita mulai mengajarkan dan memperkenalkan bahasa
Inggris kepada anak usia dini, secara tidak langsung kita telah
mempersiapkan mereka untuk kelak bisa mengakses dunia.
2. *Di dalam buku ini saya menemukan juga ada
pembelajaran kesehatan* Saya jadi ingat semboyan sekolah kami
di Bali, “SAFETY & HEALTHY FIRST” keselamatan dan kesehatan
anak berada di atas segala-galanya.
Kenapa?
Ya, karena hal-hal lainnya baru bisa dilakukan kalau setiap anak
dalam keadaan sehat. Untuk itu, anak perlu dilatih dan dibiasakan
sejak dini pola hidup sehat, mulai ia bangun tidur hingga kembali ke
kamar tidur.
Jadi, mengajarkan pola hidup sehat agar menjadi habit atau
kebiasaan hidup adalah sebuah keharusan (mandatory) bagi setiap
orang tua.
Kita bisa melihat bahwa di negara-negara makmur dan maju
setiap orang memiliki pola hidup sehat. Apabila setiap anak sudah
diperkenalkan dan dibiasakan untuk menerapkan pola hidup sehat
dalam kehidupannya setiap hari maka ini akan terus terbawa hingga
mereka dewasa.
Jadi, setidaknya mulai saat ini kita bisa mempersiapkan anak kita,
seandainya kelak ia harus bekerja di salah satu negara maju di dunia.
Tidak hanya itu, harapan terbesar kita adalah anak kita akan bisa
menjadikan negaranya menjadi salah satu negara maju di dunia. (Ayah Edy)
Salam Pembelajar orang tua hebat dan guru-guru keren 💪💪🙏
Ciamis Jabar 291121
Cila Lia Berbagi, Guru Kober Rijalul Hikam







