Cerpen2 Bagian 2(selesai)

Terbaru864 Dilihat

GOJEK (Bagian 2)

Oleh: Lili Suriade, S.Pd

 

“Ibu mau ke BKD? “ Tanya pak Gojek kepadaku.

“Bukan pak, teman saya ini.” Jawab Ade.

“Oo.. Baiklah. Ayo kita berangkat Bu.” ucap si tukang gojek kepadaku.

“Uni..10 ribu ya..” teriak Ade yang kujawab dengan anggukan.

Aku memasang helm dan kemudian melaju ke kantor Badan Kepegawaian Daerah.

“BKD nya dimana ya pak?” tanyaku ketika motor mulai melaju.

“Di lokasi GOR Agus Salim Bu.” Jawab pak gojek  dengan sedikit berteriak. Bisingnya suara kendaraan di kota ini membuat telinga serasa mau pecah.

Gojek akhirnya berhenti tepat di depan kantor BKD. Setelah membayar, aku pun mengucapkan terimakasih.

Perlahan aku melangkahkan kaki ke gedung Kepegawaian tersebut. Seumur-umur, aku baru kali ini ke kantor BKD Provinsi. Lantaran selam ini kami SMA berada di bawah naungan pemerintah Kabupaten. Namun sejak januari 2017, kami SMA/SMK  pindah ke pemerintahan provinsi.

“Permisi Bu..” Aku mulai menyapa ke petugas di ruang informasi.

“Ya..ada yang bisa saya bantu bu?” Tanya petugas yang ternyata bernama Chika.

“Saya mau bertanya tentang dana Tapera pegawai. Di ruangan mana ya?.”

“O boleh. Ibu langsung aja ke ruang sebelah kiri ini, kemudian nanti belok ke kanan, setelah itu naik ke tangga lantai dua.” Jelas Tika dengan senyuman sambil menunjuk ke pintu sebuah ruangan sebelah kiri.

“Baiklah. Terimakasih ya.” Jawabku.

Aku langsung masuk ke ruangan sebelah kiri. Seperti sebuah lorong sempit kemudian aku belok ke kanan. Setelah itu barulah kutemukan tangga menuju lntai atas. Dengan perasaan yang masih bingung, ku ayun langkah menuju ke sebuah ruangan di depan tangga lantai dua.

“Silahkan masuk bu. Ibu sudah ditunggu.” Seorang pegawai muda menyambutku dengan senyuman. Aku pun langsung berkonsultasi dengan pegawai bagian Tapera.

Namun hasil konsultasiku nihil. Ternyata Taperum sudah berubah ke Tapera. Tidak ada kerja sama lagi dengan pihak BTN.

“Kita harus menuggu dulu ya bu. Nanti kalau sudah ada kebijakan baru saya akan kabari Ibu.” Ungkap pegawai itu.

“ Baiklah. Terima kasih ya.” Aku pun pamit keluar dari ruangan itu.

Sampai di luar kantor BKD, aku pun bingung lantaran tak satu pun ojek yang kulihat.

Aku pun terus berjalan mencari pangkalan ojek, namun dari kejauhan aku hanya melihat pangkalan gojek dengan jaket hijau di tubuhnya.

“Gojek..!” Aku berteriak memanggil salah satu gojek yang lewat di depanku. Namun jangankan berhenti, menoleh saja tidak. Akhirnya aku pun menelphon Ade, namun nomornya ternyata sedang sibuk.

Cuaca semakin terik, aku yang sudah sangat lelah terus saja menyeret kakiku menuju jalan raya. Keringat yang membasahi hijabku perlahan ku hapus dengan tissue. Sekitar 200 meter kemudian, aku kembali berpapasan dengan gojek .

“Stop..!” Kataku memberanikan diri menghadang gojek yang melintas dengan lambat di hadapanku.

“Kenapa ibu?”

“Saya sangat capek nih, tolong dong antar ke Dinas pendidikan.”

“Maaf Bu..tidak bisa. Ibu harus memesan secara online dulu.” Jawabnya.

“iya..saya tahu, tapi saya gak punya aplikasinya.”

“bisa didownload bu. Gampang kok.” Katanya kemudian.

“iya sih..Cuma Hp saya memorinya sudah hampir penuh. Bisa kan minta tolong?” Saya memburunya dengan penuh harap.

“Maaf bu, saya gak bisa. Kami punya aturan.” Jawabnya sambil berlalu meninggalkanku yang semakin lesu.

Ya Allah..dunia maya telah mengalahkan rasa. Gak ada lagi rasa kasihan sesama manusia, bathinku.

“Mari bu saya antar.” Seseorang berhenti di depanku.

“Kamu siapa?”

“Gojek.”

“Lho..kok bisa sih?” Tanyaku penuh heran.

“Karna saya adalah anak ibu.” Jawab Gojek itu sambil membuka helmnya.

Aku pun kaget. Ternyata dia adalah Algaza, siswaku yang sudah tamat  2 tahun yang lalu.

“Eh,,kamu Al..?” ungkapku kaget.

“iya bu. Ibu mau kemana?” tanyanya sambil menyalamiku.

“Ke kantor Dinas Pendidikan nak.”

“Ayolah naik bu.” Ungkap Al. aku pun menaiki sepeda motor Al.

Sepanjang perjalanan, aku teringat semua kenakalan yang dibuat Al ketika belajar dulu. Ternyata setiap orang bisa berubah. Al ternyata sudah semester 6 di jurusan Manajemen di salah satu Perguruan Tinggi di kota ini.

“Aku sudah semseter 6 Bu, jadi sudah tidak banyak lagi mata kuliah, makanya bisa kerja sampingan ini.” ucap Al sebelum kami sampai di Dinas Pendidikan. Aku bersyukur di dalam hati dan Betapa bangga rasanya ketika memiliki siswa yang santun, apalagi di zaman serba online ini. Ketika aku menyerahkan uang 50Ribuan Al malah menolak.

“Jangan Bu, Saya bukan gojek, saya anak Ibu.” JAwabnya dengan senyuman.

“terima kasih nak. Semoga kamu sukses.” Ucapku penuh haru.

Al kembali menyalamiku, lalu dia pun kembali melaju melanjutkan pekerjaannya.

 

Sumpur Kudus, 3 Februari 2021

Tinggalkan Balasan