Catatan Perjalanan Karimun – Tanjungpinang: Mengikuti Rapat LPTQ Provinsi

SESUAI pemberitahuan dan juga undangan,  Senin (31/08/2020) siang ini saya dan beberapa orang teman harus berangkat ke Tanjungpinang. Kami meninggalkan Kota Berazam, Tanjungbalai Karimun untuk memenuhi undangan tersebut.

Kami –utusan Kabupaten Karimun– berangkat dari Pelabuhan Domestik Tanjungbalai Karimun akan ke Tanjungpinang. Tentu juga, utusan dari Kabupaten/ Kota lain akan berada di Tanjungpinang pada hari ini. Saya (selaku Pengurus LPTQ) bersama Fahrul Rozi mewakili LPTQ karena bagian dari undangan. Lalu –utusan Pemerintah—ada Pak Iwan Dinovri (Kabag Kesra), Pak Wahyu dan Bu Iin (mereka bertiga atas nama Bagian Kesra dan Keagamaan, Setda Kabupaten Karimun) serta Pak Zamzuri (Kakankemenag Karimun) yang juga bagian dari undangan dari Pemerintah Provinsi Kepri. Dan terakhir yang ikut dalam rombongan Kabupaten Karimun adalah Pak Muhammad Tang (Asisten I) yang sekaligus menjadi pimpinan rombongan.

Kami berangkat barengan alias bersama-sama meskipun biaya masing-masing lembaga. Kami naik Kapal Dumai Line 9. Sesuai rencana, kami akan mengikuti rapat LPTQ Kabupaten/ Kota se-Kepri di Tanjungpinang. Persisnya di Aula Kantor Gubernur, Selasa, esoknya. Undangan ini adalah atas nama Pemerintah Provinsi Kepri dalam rangka persiapan MTQ Tingkat Provinsi Kepri tahun 2020 ini.

Catatan dan kesan saya, inilah perjalanan menyusuri laut dari Karimun ke Ibu Kota Provinsi Kepri, Tanjungpinang yang saya rasakan sangat nyaman berbanding beberapa kali perjalanan yang sama. Saya tak tahu, apakah teman-teman saya, atau penumpang lainnya juga merasakan apa yang saya rasakan. Menurut yang saya rasakan , lautnya tenang tanpa gelombang. Padahal biasanya perjalanan laut berdurasi empat jam lebih, itu selalu ada cabaran goyangan gelombang saat di kapal. Jadi, rasanya bagaikan berenang tanpa gelombang.

 

Bagi saya, bagi kawan-kawan saya juga –mungkin– perjalanan cukup lama menyusuri laut antara Karimun ke Tanjungpinang langsung bukanlah pengalaman baru. Jalur Karimun-Tanjungpinang yang banyak diminati adalah jalur laut (jalur langsung via transit Batam). Jalur lainnya adalah perjalanan bersambung, Karimun ke Batam melewati jalan darat. Berhenmti di Pelabuhan Sekupang lalu naik mobil ke Pelabuhan Punggur (satu jam lebih naik mobil) untuk menyeberang laut kembali ke Tanjungpinang.

 

Catatan penting yang saya rasakan dalam perjalanan kali ini adalah bersahabatnya laut. Peribahasa ‘Laut Sakti Rantau Bertuah’ yang salah satu kesaktian itu adalah gelombang laut yang menakutkan, alhamdulilah kali ini tidak ada. Bergerak dari Pelabuhan Tanjungbalai menuju Batam, lalu melanjutkan menyusuri laut Batam (Sekupang) ke Tanjungpinang alhamdulilah kami merasa tenang dan nyaman saja.

 

Terima kasih, ya Allah. Itulah ucapan yang ingin kami (saya) ucapkan untuk perjalanan kali ini. Membayangkan pengalaman waktu-waktu sebelumnya yang penuh gelombang laut, tentu saja kami sangat puas kali ini. Menurut catatan jam di tangan saya, berangkat tadi pukul 13.40 dari Karimun, kami merapat di Pelabuhan Sri Bintan, Tanjungpinang sekitar pukul 17.30. Perjalanan yang lumayan melelahkan. Kurang lebih empat jam di laut.

Selama dalam perjalanan, selain membaca berita atau informasi melalui android saya terkadang tertidur. Jika tidak, hanya melihat-lihat ke luar sana, ke laut melalui pintu kaca yang tertempel rapat di dinding kapal. Hanya pandangan yang bisa dilemparkan jauh ke laut sana.

 

Tiba-tiba teringat pulangnya, besok. Jika kembalinya kami ke Karimun tetap menggunakan jalur laut langsung, harapan saya semoga nantinya juga nyaman tanpa gelombang. Meskipun gelombang laut juga sebuah kenikmatan tersendiri berada di dalam kapal laut yang berukuran besar, tetaplah mengkhawatirkan kita sebagai penumpang. Jika harus memilih, berenang (menyerbang) tanpa gelombang pasti lebih menenangkan dengan tidak bergelombang. Tentu saja sensasi gelombang tidak dapat dirasakan. Ah, tunggu sajalah besok. Rapatnya saja, belum, bagaimana memikirkan kembali pulang?***

Tinggalkan Balasan