BAHWA bulan Ramadhan sebagai bulan mulia di dalamnya banyak hikmah kita sudah selalu mendengarnya. Para guru dan ustaz senantiasa mengingatkan kita tentang itu. Bulan Ramadhan ternyata juga mampu mengubah sikap dan tindak-tanduk kita. Katakanlah dalam beribadah, misalnya kita cenderung lebih antusias. Lebih bergairah. Itu baik-baik saja, tentunya. Antusias beribadah.
Antusiasme beribadah, misalnya terasa dan terlihat ketika gairah untuk berinfak atau bersedekah meningkat. Pembayaran zakat (tahunan) oleh muzakki juga cenderung dilakukan di bulan Ramadhan walaupun di bulan lain sebenarnya juga boleh dengan hitungan tetap satu kali dalam satu tahun. Gairah berinfak dan bersedekah di bulan mulia sangatlah baik karena pahala memberikan sebagian rezeki itu sangatlah besar di bulan ini.
Pada surah Al-Baqarah ayat 261, misalnya Allah mengumpamakan orang yang berinfak itu bagaikan menanam satu benih lalu tumbuh dan berlipat ganda hasilnya, hingga mencapai tujuh ratus kali lipat dari asalnya. Misalnya uang Rp 1000 (seribu rupiah) oleh Allah akan diblas menjadi Rp 700.000 (tujuh ratus ribu rupiah). Bagaimana besarnya ganjaran dari Allah.
Fimran Allah, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, itu bagaikan sebutir biji (benih) yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada setiap tangkai berbuah seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas, Mahamengetahui.” Nah bayangkan ganjaran yang diberikan Allah. Dari hanya satu berlipat ganda menjadi tujuh ratus.
Atas dasar firman itulah salah satunya kita tidak ragu untuk berbagi kepada fakir miskin atau kepada anak yatim, misalnya. Justeru gairah itu tumbuh, apalagi di bulan mulia, Ramadhan. Kata guru-guru dan para ustaz berpesan, tidak mungkin kita jatuh miskin karena berinfak.
Perumpamaan bagai sebutir benih menumbuhkan tujuh tangkai, dan dari tiap tangkainya menghasilkan seratus biji berarti menjadi kelipatan tujuh ratus dari setiap apa yang kita berikan. Betapa kayanya orang yang memberi. Maka layaklah kita bergairah bersedekah di bulan mulia bahkan di bulan lainnya.
Dalam posisi memberi inilah kita juga diingatkan oleh Allah untuk berhati-hati. “Memberi tetap berhati-hati,” begitulah kira-kira tepatnya pesan itu. Jangan justeru sampai hilang manfaat dari apa yang kita buat. Mengapa harus berhati-hati? Karena Allah juga yang mengingatkan dalam ayat lanjutan di atas. Di ayat 262-263 surah yang sama kata Allah, “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian dia tidak mengiringi apa yang dia nafkahkan itu dengan menyebut-nyebut dan menyakiti perasaan penerima, mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada rasa takut pada diri mereka. Dan mereka tidak bersedih hati.” Jelas sekali pesannya. Jangan sampai berbuah sakit hati. Itu artinya manfaat (pahala) dari apa yang diberi tidak akan diperoleh.
Dengan kalimat lain, mari berbagi, tapi jangan menyakiti perasaan orang yang diberi. Boleh jadi kita tidak menyadari bahwa cara kita memberi malah membuat sakit hati penerima. Contoh sederhana misalnya dengan mengumumkan, “Sumbangan anak yatim piatu atau orang miskin. Kepada para anak yatim, silakan maju,” misalnya begitu. Mengapa harus dengan suara dan pernyataan begitu gambalng menyebutkan kepada umum bahwa mereka adalah orang miskin, anak yatim, orang fakir dan lain sebagaimnay? Yakinakah kita bahwa mereka tidak akan sakit hati mendengar begitu?
Kelihatannya itu sepele. Boleh jadi niatnya juga bukan ingin memalukan. Tapi karena cara dan strategi memberinya tidak membuat yang menerima nyaman maka tetap saja itu tidak sesuai dengan tuntunan Allah di ayat itu tadi. Intinya jangan sampai membuat sakit hati, karena perasaan sakit hati itu akan menghapus kembali pahala yang Allah janjikan kepada pemberi. Artinya janji pahala sebagai balasan dari Allah tidak akan pernah didapatkan. Semoga kita selalu berhati-hati dalam memberi.***
Materi ini juga di www.mrasyidnur.gurusiana.id







