Menjaga Pahala Ibadah Agar Tidak Sia-sia (Hindari Sikap Buruk)

Edukasi, Islam, Literasi602 Dilihat

SESUNGGUHNYA setiap amal ibadah yang baik akan mendapatkan pahala dari Allah. Bahkan pahala itu akan dilipatgandakan-Nya sesuai waktu, tempat dan tingkat keikhlasan hamba-Nya saat melaksanakan ibadah. Untuk keterangan seperti itu sudah sering para ustaz menyampaikan dalam ceramahnya. Bisa pula kita temukan penjelasannya di kitab-kitab yang membahas masalah itu.

Tapi kita juga tahu kalau para ustaz dan guru-guru kita juga mewanti-wanti dan menyuruh berhati-hati. Mengapa? Karena pahala amal kebaikan tersebut bisa saja habis terkikis jika tidak dijaga dengan baik. Tidak hanya bak bunyi peribahasa, ‘arang habis besi binasa’ tapi bisa pula tukang besinya ikut binasa idsebabkan kesalahan tindakan ketika melakukan pengerjaan besinya.

Tentang kemudahan beribadah dan amal ajaran agama menerangkan kepada kita bahwa beramal satu kebaikan itu sangatlah mudah. Cukup dengan satu senyuman sudah bisa menjadi ibadah bagi kita. Justeru yang berat itu adalah menjaga dan merawatnya agar tidak habis terkikis oleh perbuatan dan tindakan sendiri. Maka wajib bagi kita menjaga dan memelihara amal-ibadah dengan tindakan-tindakan yang sejalan dengan ibadah itu.

Mari kembali kita ingat, ada beberapa hal yang dapat menghabiskan semua pahala kebaikan kita jika kita tidak berjaga-jaga dan waspada terhadap diri kita. Beberapa perkara itu adalah,

1) Sibuk dengan Aib Orang Lain;

Sibuk dengan aib (kesalahan) orang lain, artinya suka mempermaslahkan kesalahan dan kekurangan orang lain. Jeleknya itu sampai lupa aib (kesalahan) diri sendiri. Ibarat bunyi peribahasa, “Semut di seberang lautan kelihatan sedangkan gajah di pelupuk mata tidak kelihatan.” Bayangkan kekeliruan itu. Mengapa harus mencari-cari kejelekan orang lain? Peliharalah diri sendiri. Inilah kunci utama.

2) Hati yang Keras;

Hati keras maksudnya tidak mau mendengar apalagi menerima pendapat dan nasehat orang lain. Ibarat kata peribahasa, “Kerasnya hati lebih keras dari pada kerasnya batu karang.” Bayangkan, sekeras apa batu karang di laut ternyata lebih keras lagi hatinya. Keras menerima pendapat dari orang lain. Intinya sulit untuk menerima kebaikan yang disampaikan orang lain kepadanya. Ini juga akan menggerogoti pahala ibadah yang kita miliki.

3) Cinta Berlebihan Tehadap Dunia;

Maksudnya adalah cinta mati terhadap dunia. Cinta mati, artinya seolah tidak mau melepaskan dunia ini. Dia merasa hidupnya hanya di dunia saja. Orang seperti ini semua aktivitasnya akan tertuju hanya untuk kenikmatan dunia belaka. Pasti lupa akan hari esok atau hari akhirat yang abadi. Bersikap begini akan menggiring seseorang untuk melakukan tindakan berlebihan untuk urusan dunianya. Dan itu akan berpotensi merusak pahala ibadah kita.

4) Zalim Sepanjang Waktu;

Maksudnya adalah kezaliman yang tak pernah berhenti dalam hidupnya. Misalnya melakukan perbuatan maksiat. Kita tahu kalau perbuatan maksiat itu biasanya membuat kecanduan pelakunya untuk terus-menerus melakukan maksiat itu. Jika tidak segera bertaubat dan berhenti maka sulit untuk meninggalkan kemaksiatan tersebut selamanya. Itu artinya menzalimi diri selamanya. Nauzubillah.

Dari beberapa sumber yang kita baca, sesungguhnya sikap buruk yang dapat merusak pahala amal-ibadah kita masih banyak lagi. Sebutlah, misalnya lamunan yang berlebihan karena merasa hidup selamanya di dunia. Melamunkan berbagai hal yang tidak penting dan mengarah kepada kelalaian persiapan akhirat. Ada juga misalnya, kehilangan rasa malu, dan lainnya. Semoga kita bisa terhindar dan berusaha menghindari sikap-sikap buru seperti itu.***

Tinggalkan Balasan