Setelah merasa cukup lama mengabdi menjadi guru di Tanjungbatu, ternyata ambisi untuk lebih meningkat dalam status sebagai guru muncul juga dalam hati Jamel. Dua tahun pertama sebagai guru, 1985-1986 memang belum terpikir oleh Jamel untuk peningkatan karir. Bagi Jamel menjadi guru plus kerja-kerja tambahan di luar sekolah, itu cukup baginya. Itu sudah sangat membanggakan dan membahagiakannya. Itulah perasaannya. Tidak pernah berpikir, apakah ada harapan lebih tinggi sebagai guru yang nanti akan didapatkan. Misalnya menjadi Kepala Sekolah. Belum terpikirkan.
Bahwa setiap guru (PNS) akan selalau berpikir lanjutan kariernya, ternyata tidak dengan Jamel. Sekurang-kurangnya belum pada saat itu. Misalnya dari seorang guru, suatu saat nanti ingin menjadi Kepala Sekolah, atau akan pindah tugas ke tempat yang lebih baik, belum ada dalam pemikirannya di awal-awal sebagai guru. Apalagi di sekolahnya, dia merasakan tidak adanya dukungan dari Kepala Sekolahnya, Supardjo Suk. Jamel malah masih khawatir terhadap sikap Kepala Sekolah yang tidak mendukung kerja-kerja tambahan Jamel di luar sekolah.
“Bagaimana saya akan memikirkan jabatan lain? Tugas-tugas yang saat ini saja tidak mendapat apresiasi dari Kepala Sekolah saya.” Jamel masih merasa Supardjo Suk lebih sering mempermasalahkan kerja-kerja tamabahannya di luar itu dari pada memberikan pujian atau bentuk apresiasi lainnya. Bagaimana mau berpikir peningkatan karier?
Sebenarnya Jamel sudah dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah sejak awal bertugas. Sebagai sekolah baru dengan para guru dan pegawai baru juga, memang perangkat tugas itu belum ada. Jamel pun kebagian satu jabatan. Namun, Jamel menganggap itu bukanlah semacam oenghargaan. Katanya, “Walaupun saya dipercaya menjadi Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) Bidang Humas di awal sebagai guru, itu hanyalah karena terpaksa saja, menurut saya.” Jamel menganggap jabatan Waka yang diberikan kepadanya hanyalah karena kecelakaan saja. Karena tidak ada guru senior yang berijazah S1 yang bisa ditunjuk. Dua orang teman Jamel yang berijazah S1 sudah menjadi Waka, Kurikulum dan Kesiswaan. Jamel diberi kepercayaan sebagai Wakasek Bidang Humas. Tapi menurut perasaan Jamel itu hanya karena terpaksa saja.
Jamel teringat, dari guru-guru yang ada waktu itu, dia dan dua teman lainnya yang satu angkatan adalah sarjana (S1) sementara selainnya hanyalah berijazah di bawahnya, D3 bahkan D2. Maka dia bertiga, semuanya ditunjuk menjadi Wakil Kepala Sekolah. Tapi Jamel tetap merasa kalau dia hanya terpaksa saja ditunjuk oleh Kepala Sekolahnya, Pak supardjo Suk itu. “Kalau ada orang lain, mungkin saya tidak akan ditunjuk,” katanya perihal jabatannya sebagai Waka Humas SMA Negeri Tanjungbatu waktu itu.
Waktu itu, Maharni ditunjuk menjadi Wakasek Kurikulum atau Bidang Pengajaran di awal bersama dengan Kepala Sekolah waktu itu. Ali Anwar, temannya yang lain ditunjuk menjadi Wakasek Kesiswaan. Sementara Jamel sendiri ditunjuk Kepala Sekolah menjadi Wakasek Humas sekaligus sebagai pengelola Perpusatakaan Sekolah. Tapi itu tadi, dia pikir ini hanya kebetulan saja. Sampai di situ, ambisi Jamel sama sekali belum ada untuk berpikir menjadi lebih dari sekadar guru saja. (bersambaung)












Mantap. Lanjutkan pak haji