Perjalanan Cinta Seorang Guru (15)

MENYADARI gaji guru belum seimbang dengan biaya kebutuhan sehari-hari, Jamel tidak melarang keinginan isterinya untuk nyambi berjualan kue. Jamel ingat, awal diangkat, di SK pengangkatannya sebagai guru tahun itu terulis gajinya Rp 28.000 (dua puluh ribu rupiah). Tentu saja tahun 1984 itu angka yang lumayan untuk seorang guru bujangan. Tapi setelah menikah dan punya beristeri, tidaklah akan memadai meskipun juga mendapat tunjangan beras. Belum lagi setelah memiliki anak.

Setelah berdiskusi dan mempertimbangkan segalanya, Rajimawati yang sehari-hari disapa dengan Tati, isteri Jamel mencoba berjualan kue. Kue yang paling mudah membuatnya adalah kue bakwan. “Bakwan lebih mudah membuatnya, Bang,” kata isteri Jamel ketika memutuskan membuat kue. Selain membuat goreng bakwan, itu isteri Jamel juga membuat es manis. Kebetulan mereka baru saja membeli kulkas bekas (scond hand) dari Pasar Sawang, Kundur.

Setiap pagi, Jamel dan isterinya bekerja di dapur. Sebelum waktu subuh mereka bangun dan mengadon tepungnya dengan segala bumbu yang biasa untuk bakwan. Jamel dan isterinya yang sudah memiliki momongan memang butuh penghasilan tambahan. Ternyata gajinya saja sudah mulai terasa tidak mencukupi. Itu sebabnya mereka berjualan kue. Kue bakwan yang ternyata cukup laris di sekolah.

Biasanya waktu subuh masuk, mereka bergantian melaksanakan solat subuh. Dan setelah itu menggoreng bakwan dilanjutkan jika belum selesai. Sedangkan membuat es dilakukan pada malam hari atau pada jam-jam kebetulan tidak ada kegiatan.

Kue bakwan dan es manis itu dibawa Jamel ke sekolah dan dititip di kantin sekolah. Perihal berjualan kue bakwan itu Jamel memiliki kisah menarik. Dikatakan lucu, sesungguhnya bisa membuat sedih juga. Tapi Jamel dan isterinya tidak pernah menjadikan itu sebagai beban pikirannya. Catatan pengalaman menarik itu adalah tentang bakwan isterinya yang belakangan tiba-tiba sering berlebih. Di awal-awal dia menitipkan bakwan, kue bakwan buatan Tati selalu habis duluan berbanding bakwan lainnya di kantin itu. Ada dua orang lainnya yang juga membuat ke bakwan dan menitipkan pada kantin yang sama. Kue isteri Jamel selalu duluan habis.

Tapi Jamel heran. Dalam satu pekan terakhir sering bakwan isterinya masih banyak lebih. Ketika diambil dan dibawa pulang, baskom bakwan itu masih berisi beberapa buah. Bahkan pernah hampir setengahnya tersisa. Itu tidak biasa. Herannya juga sambalnya habis. Plastik tempat sambal yang dibuat isterinya sudah kosong. Hanya bakwan saja yang masih selalu berlebih.

Pengalaman ini menarik perhatian Jamel. Dia heran sekaligus sedih. “Bakwan isteriku belakangan kok sering berlebih, ya?” Itu pertanyaan dalam hatinya. Kasihan isteriku, katanya dalam lamunannya di ruang guru jika hari sudah menjelang pulang sekolah. Dia akan menemukan baskom bakwan isterinya masih tersisa banyak di dalam baskom itu.

Sesungguhnya Jamel sangat bangga selama ini. Selama isterinya berjualan bakwan itu. Penghasilan tambahan itulah yang membuat biduk rumah tangganya tidak mudah oleng gara-gara biaya hidup. Jamel dan isterinya kebetulan memiliki pesan dari ayah isterinya itu bahwa saat membangun rumah tangga jangan biasakan hidup berutang. orang tua isterinya, Abah Abdul Mutolib memesankan, dulu, ketika akan meninggalkan Pekanbaru ke Tanjungbatu supaya di rantau orang jangan pernah berutang. Termasuk utang untuk makan.

Dengan berjualan kue dan es itu terbukti membantu biaya hidup mereka yang mengandalkan gaji seorang guru PNS. Tapi kini, setelah sepekan ini ada gejala tidak lakunya kue bakwan isterinya, Jamel sedikit khawatir. Walaupun bakwan yang kurang laku itu hanya di sekolah. Sedangkan yang ditipkan di kedai, terus bertahan laris. Kue bakwan Tati sudah dikenal oleh tetangga dan orang di sekolah. Hanya, mengapa bakwan di kedai itu mulai tidak laku seperti dulu? *** (bersambung)

Tinggalkan Balasan