Jamel mencoba mencari tahu mengapa bakwan isterinya belakangan tidak laris-manis seperti selama ini? Apakah rasa bakwan buatan isterinya itu berubah? Tidak, katanya sendiri. Dia sudah bertanya keapda Tati, isterinya. “Kita tidak ada mengubah resepnya, Bang. Adonannya tetap seperti biasa. Tidak ada yang bedakan dengan bakwan selama ini.” Itu pernyataan isterinya ketika satu malam ditanyakannya. Lalu mengapa tiba-tiba berubah hasil penjualannya?
Pengalaman menumpangkan kue bakwan inilah menurut Jamel ada haru dan lucunya. Layak untuk dibentangkan kepada halayak. Alasan Jamel, pertama, lucu bercampur haru karena isteri seorang guru merangkap menjadi penjual kue walau kecil-kecilan. Sebagai perantau dari Pekanbaru, hidup di Tanjungbatu seperti itu tidaklah perlu merasa malu meski harus berjualan seperti itu. Jamel dan isterinya waktu itu memang sudah punya perinsip bahwa untuk biaya hidup tidak boleh berutang di kedai atau di mana saja. Jangan untuk alasan membeli beras, lauk-pauk atau apa saja, lalu berutang. Ini mereka pantangkan.
Itulah sebabnya Jamel dan isterinya sepakat kerja sambilan. Sambil mengurus rumah tangga isterinay berjualan. Jamel pula, sambil menjadi guru dia membawakan bakwan isterinya ke kedai-kedai di dekat rumahnya. Termasuk menumpangkan di warung kedai sekolah itu. Lagi pula, ayahanda (abah) dari isterinya (Abd. Mutalib) sudah juga berpesan untuk hal yang sama. “Jangan biasakan berutang, Nak.” Begitu pesannya sebelum mereka berangkat ke Tanjungbatu.
Karena itulah mereka mencoba berusaha kerja lain sebagai usaha penghasilan tambahan. Jika ini menyedihkan atau terasa lucu, tidaklah masalah. Jamel ingat, tidak ada rasa malu yang perlu dalam menjalankan peran tambahan sebagai penjual kue. Bahwa ada orang lain yang menyatakan perasaan simpati dan harunya kepada kami, itu tidak masalah bagi mereka. Pekerjaan tambahan seperti ini nyatanya dapat memperkuat tonggak ekonomi mereka. Istseri Jamel bahkan mampu menyisihkan sebagian hasil jualannya untuk membeli barang kemas yang dia inginkan tapi belum mampu saya belikan. Dari tabungan jualan bakwa, dia bisa membeli gelang tangan.
Tapi, kini tiba-tiba ada masalah menurut Jamel. Akhirnya dia berusaha mencari tahu penyebab berkurangnya penjualan bakwan isterinya di warung sekolah itu. Mula-mula dia menyuruh siswa membelikan bakwan. Bakwan Ibu Tati, katanya kepada siswa yang disuruhnya ke warung.
“Bu, mau beli bakwan lima bijik,” pintanya kepada Bu Arni, pemilik warung paling ujung.
“Itu, ambillah. Kantongkan sendiri masuk plastik,” jawab Bu Arni.
Dodi, siswa itu memegang salah satu mangkok bakwan dari dua mangkok yang ada. “Biasanya tiga baskom, Bu? Yang buatan Bu Tati, isteri Pak Jamel, yang mana?”
“Oh, itulah bakwan yang ada. Pilih saja.”
Lalu Dodi mengambil sejumlah yang dipesan Jamel. Dia bungkus dan mengambil sambal bakwan yang ada di situ. Inilah awal mula Jamel mengetahui mengapa bakwan isterinya tidak laku. Ketika dia memakan bakwan yang dibelikan Dodi, dia pastikan itu tidak buatan isterinya. Dia tanyakan ke siswanya, apakah tidak ada baskom lain? Dodi menjelaskan, tidak ada.*** (bersambung)











