Catatan Kopdar Kompasianer dan Penulis YPTD (2)

Edukasi, Humaniora624 Dilihat

SETELAH mendapat kepastian bahwa saya bisa ikut hadir pada pertemuan silaturrahim, Kopdar Kompasianer dan Penulis YPTD yang dilaksanakan di Aula Perpusnas Lantai IV Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta saya bersiap-siap untuk hadir ke sana. Sebelum kepastian itu, sesungguhnya saya sudah berkomunikasi intens dengan para kompasianer dan penulis YPTD (blog terbitin.id) sejak sebelumnya. Ketika saya memposting ketibaan saya di Jakarta mengikuti rombongan Kakwarcab Pramuka Kabupaten Karimun pada sore Jumat (19/08/2022) itu, beberapa orang teman membalas posting saya dengan mengatakan kiranya dapat ikut bergabung dalam acara Kopdar. Saya menjawab diplomasi saja karena takut tidak bisa. Saya harus tahu, kalau saya hadir di Jakarta karena mengikuti Kakwarcab itu.

Dari sore hingga malam, saya belum bisa memastikan akan bisa ikut. Sepulang dari Cibubur Jumat malam itu, saya mencoba bertanya ke ajudan Wabup (Wakil Bupati) yang datang selaku Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Karimun. Ono, ajudan itu belum berani memastikan, apakah ada kegiatan pada hari Sabtu (20/08/2022) itu. Saya juga tidak berani menyatakan kepada teman-teman atau panitia bahwa saya bisa ikut. Barulah subuh itu mendapat kepastian kalau Pak Wabup tidak ada agenda kegiatan hari itu. Konon, dia akan kembali segera ke Kepri karena ada tugas lain. Pagi itu pula saya memastikan kepada teman-teman akan ikut bergabung.

Sabtu pagi itu saya mencoba bertanya lebih detail, bagaimana caranya saya bisa ke Perpusnas. Saya share alamat Hotel Lumire di grup. Dan mendapat respon cukup banyak dari teman-teman. Pada umumnya menyatakan kalau hotel tempat saya menginap sangat dekat dengan Perpusnas. Saya cukup baik taksi, atau gojek atau bajaj. Dengan ongkos yang juga relatif murah. Kalau naik gojek, tinggal pencet HP dengan aplikasi yang ada. Sayapun menginstal aplikasi untuk komunikasi dengan gojek online. Aplikasi yang pernah ada sebelumnya sudah saya hapus. Singkat cerita, sebelum acara dimulai saya pun sudah hadir di Perpusnas. Saya ke sana dengan naik gojek online itu.

Sedikit ada catatan tambahan ketika saya menjelaskan Perpusnas ke gojek online. Sesampainya dia di pelataran luar Hotel Lumire dan memastikan bahwa yang dijemput itu adalah saya, kami langsung saja menuju ke Perpusnas seperti alamat yang saya sampaikan. Hanya 10-an menit atau kurang dari itu, dia mengatakan kalau alamat yang saya sebut itu sudah sampai. Itulah gedung bertingkat berwarna oranye/ kuning yang Bapak sebutkan ke saya, katanya. Saya sedikit ragu karena tahun 2019 saya pernah ke Perpusnas dalam acara TNGP (Temu Nasional Guru Penulis) Media Guru. Saat itu ingat saya gedungnya tidak berwarna seperti itu.

Saya pun kembali membuka HP. Melihat alamat yang dikirimkan teman-teman. Ternyata alamat Perpusnas yang saya berikan ke gojek itu salah. Dan kami sepakat kembali untuk biaya berikutnya. Saya minta dia mengantarkan saya ke alamat yang sesuai dengan yang dikirimkan teman-teman. Dalam waktu yang juga tidak lama, kami pun sampai. Kepada dua wanita yang ada di meja resepsion itu saya bertanya, apakah kegiatan Kopdar Kompasiana-YPTD memang di situ. Dia pastikan, benar. Bahkan dia jelaskan di lantai IV, maka saya pun naik dengan menggunakan eskalator sesuai arahan penerima tamu itu.

Sampai di lantai IV, ternyata sudah ada panitia pelaksana Kopdar. Ada Pak H. Thamrin Dahlan, CEO YPTD yang adalah panitia pelaksana. Ada Pak Edonis, ada Ibu Nani dan banyak lagi. Bersalaman dan duduk sesuai penjelasan panitia. Saya sangat bangga dan haru. Tidak saya sangka kalau saya akhirnya hadir juga di acara yang hebat itu. Kegiatan ini mengumpulkan banyak penulis hebat. Pada umumya adalah penulis blog Kompasiana yang sebagiannya kini menjadi penulis blog terbitin.id yang dikelola YPTD. Atau tetap menulis di kompasiana.com selain di YPRD. Jadi, orang kompasiana adalah orang YPTD juga. Saya, alhamdulillah ada diantara mereka.

Benar kata agama, jika Tuhan berkehendak dan mengizinkannya maka tidak satupun yang akan menghalnginya. Saya percaya itu. Saya tidak menduga sama sekali, kalau harapan saya awalnya ingin hadir, tapi mengingat besarnya biaya untuk hadir ke Jakarta, lalu saya membatalkannya, ternyata akhirnya kesampaian juga. Saya datang dalam kegiatan lain dengan biaya yang tidak harus saya mengeluarkannya, tapi saya mendapat kesempatan dan dimudahkan untuk dapat ikut dalam acara itu. Saya dapat berjumpa dengan banyak penulis hebat. Hebat bukan saja karena sudah banyak menghasilkan karya atau buku, tapi hebat karena diantara mereka ada yang usianya sudah sangat sepuh. Saya berpikir hanya Pak Thamrin Dahlan yang berusia tua setelah membuat buku berjudul ’70 Tahun Thamrin Dahlan’ ternyata di acara ini hadir seorang penulis hebat yang usianya sudah akan memasuki 80 tahun. Subhanalloh.*** (bersambung)

Tinggalkan Balasan

2 komentar