Pertanyaan yang belum terjawab oleh Jamel adalah rasa gatal di kaki bagian bawah sebelah dalam kaki kirinya itu. Saat rasa gatalnya datang, seolah ada semacam bulatan kemerahan di situ. Apakah itu kurap? Pada tempat yang berwarna merah itulah rasa gatal yang begitu gatal dirasakan Jamel. Isterinya juga tidak bisa menjawab pertanyaan Jamel itu. Mengapa selalu datang pada waktu-waktu tertentu. Tidak lama, hanya beberapa saja dan sembuh kembali.
Saat konsultasi pekan sebelumnya, Dokter Lukti hanya memberi salap untuk dioleskan. Nanti akan sembuh sendiri, katanya. Jamel mengerti itu. Karena sesungguhnya sudah beberapa bulan Jamel merasakan gatal di bagian dalam kaki kiri itu tapi dengan olesan salap sudah sembuh kembali. Masalahnya nanti muncul lagi. Sembuh dan muncul lagi. Jamel sampai berpikir, apakah itu terkena guna-guna? Untung Jamel segera istighfar. Segera dia mengembalikan segalanya kepada Tuhan. Tidak mungkin ada yang dengki, katanya. Tapi mengapa selalu ada?
Sore Sabtu, dua bulan setelah konsultasi sebelumnya, Jamel datang lagi ke rumah dokter Lukti. Ke kliniknya. Jamel ingin berobat dan curhat lagi perihal sakit gatal yang dideritanya.
“Atau karena kaus sepatu yang terlalu ketat, tak?” Isteri Jamel juga risau keluhan suaminya. Dia juag beberapa kali bertanya perihal rasa gatal yang diderita suaminya.
“Abang malah sudah tidak pakai kaus sepatu sejak beberapa bulan lalu. Itupun karena rasa gatal yang kebetulan tepat pada batas kaus sepatu itu. Tapi Abang pastikan itu bukan karena kaus sepatu.” Jamel menjelaskan kepada isterinya. Tidak mungkin karena kaus sepatu karena dia sudah beberapa bulan ini tidak memakai sepatu.
Jamel ingin berkonsultasi sekaligus ingin berobat kepada dokter berdarah keturunan itu. “Abang mau konsul lagi, Neng,” sambil pamit kepada isterinya. Sore itu dia berkunjung ke rumah Dokter Lukti. Kali ini bukan mau main tenis meja seperti hari-hari sebelumnya sering dia bermain dengan dokter itu. Ini hal penting, katanya.
“Nah, Pak Jamel, mari kita olahraga lagi,” sapa Dokter Lukti menyambut Jamel yang datang dengan vespa super putih.
“Bukan, Pak Dokter. Saya mau berobat lagi. Sekalian curhat.”
“Curhat bagaimana maksudnya, Pak Jamel?”
“Itulah, gatal di kaki saya ini tetap kambuh. Semubuh, kambuh. Sembuh, kambuh lagi.” Jamel menjelaskan dengan detail. Rasa gatal yang datang setiap satu atau dua bulan ini membuat dia risau juga. Sebenarnya sakit apa yang menimpanya, itulah yang mau ditanyakannya kepada Dokter Lukti.
Setelah menceritakan kembali awal dia merasakan kakinya gatal beberapa bulan yang lalu, dan tanpa ada sebab-sebabnya rasa gatal itu datang lagi walaupun setelah diobat dengan salap kulit sembuh. Tapi tetap datang lagi. Jamel tidak tahu mengapa begitu.
Lalu Dokter Lukti memberikan analsisinya. Dia tidak sekadar bicara dari sisi medis, tapi juga dari sisi ilmu jiwa. “Jangan-jangan berkaitan dengan pikiran Pak Jamel?” Pak Lukti menambahkan, “Penyakit pisik itu bisa juga disebabkan oleh psychis. Oleh jiwa dan perasaan kita.”
“Maksud Bapak?
“Kita sering menyebutnya disebabkan pikiran. Pikiran yang kacau. Sebenarnya itu adalah perasaan.”
“Maksud Bapak penyakit gatal ini timbul karena pikiran saya?”
“Iya, pikiran yang tidak tenang. Risau dan rasa gelisah.” Diam sebentar, lalu, “Coba Pak Jamel ingat-ingat dan kalau perlu dicatat. Ketika penyakit gatalnya datang, coba ingat apa yang Pak Jamel lakukan satu, dua atau tiga hari sebelumnya. Boleh jadi ada pekerjaan sekolah yang Pak Jamel tidak puas atau tidak senang dengan hasilnya. Lalu menjadi pikiran. Itu bisa membawa penyakit ke kita.”
Jamel termenung sambil menerawangkan pikirannya. Dia mencoba memahami penjelasan dokter itu. “Jangan-jangan karena memang saya terlalu khawatir dengan sekolah yang saya pimpin?” Kalimat ini tidak keluar dari mulut Jamel. Dia hanya mengatakannya dalam hati.
“Kalau nanti dapat jawabannya, masalah apa yang membuat beban pikiran Pak Jamel satu dua hari sebelum munculnya rasa gatal, maka itulah sebabnya. Tinggal kita berusaha untuk tidak membuat pikiran kita terbebani. Jangan berpikir pekerjaan itu akan selesai semua. Pasti ada yang akan terkendala. Kita harus menerimanya.”
Jamel termenung dengan ceramah doker yang beragama Katolik itu. Mungkin dia benar, kata Jamel. Saya terlalu terbebani oleh banyaknya pekerjaan. Fakatnya, rasa gatal ini baru setelah saya menajdi Kepala Sekolah, munculnya. Jamel seperti berbicara sendiri. Lalu dia pamit untuk kembali ke rumahnya.*** (bersambung)










