SAHABAT member YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan) nan hebat yang tergabung di blog terbitin.id yang berbahagia, izinkan saya memposting beberapa bait pantun sebagai pengisi akhir pekan kita menjelang akhir bulan Oktober ini. Kali ini saya menyusun dan memposting beberapa bait pantun dengan tema budaya dan budi bahasa.
Pantun-pantun ini juga sudah diposting di blog lainnya yang saya kelola. Jika belum sempat membacanya di blog lainnya, berkenan membacanya di blog kesayangan kita ini. Ingin saya katakana bahwa pada pantun ini tentu saja ada nilai-nilai nasihatnya. Jika tidak untuk nasihat orang lain, saya pastikan nasihat dalam pantun ini akan menjadi nasihat bagi saya sendiri.
Terima kasih, para sahabat mengunjunginya. Jika teman-teman berkenan menelusuri, membaca dan memberikan sedikit jejak kunjungannya di sini tentu saja itu adalah satu kebanggaan saya. Saya ucapkan terima kasih. Jika hari ini belum sempat membacanya, semoga nanti ada waktu untuk membacanya.
Inilah 5 (lima) bait pantun saya pekan ini,
I
Bulan dipandang nampaknya laut
Diikat sampan bawa ke hulu
Perasaan mengenang mulut menyebut
Buat kebaikan ingat selalu
II
Ditanam padi dekat selasih
Tumbuhnya satu tolong siangkan
Di antara hati dengan kekasih
Yang mana satu kita turutkan
III
Burung serindit terbang melayamg
Hinggap di batang dahannya mati
Duit ringgit dipandang orang
Jarang dipandang bahasa budi
IV
Tenang-tenang air di laut
Sampan kolek mudik ke Tanjung
Hati terkenang mulut menyebut
Budi baik tetap dijunjung
V
Ncik Mina rambutnya lebat
Dijalin tidak menutup dahi
Hidup di dunia biar beradat
Bahasa tidak berjual beli
Tbk, 17102021
Demikianlah sedikit pantun saya pada kesempatan ini untuk memberikan bekas budaya bangsa kita ini pada pikiran dan perasaan kita masing-masing.
Dipublish juga di mrasyidnur.gurusiana.id














