ADA yang khas pada acara pertemuan bulanan Ikatan Silaturrahim Haji dan Keluarga (Ishaka) 1427 hari Ahad (21/11/2021) kemarin itu. KH Syarifuddin Almakky memberikan tausiah pada acara yang diikuti anggota Ishaka 1427 itu. Tuan rumah pertemuan, Hj. Masni mengundang kiyai Syarifuddin untuk mengisi acara pertemuan. Tidak selalu ada pengajian dalam pertemuan silaturrahim Ishaka.
Oleh Bu Hj. Masni Kiyai Syarifuddin yang dipanggil juga dengan panggilan buya, itu diminta memberikan ceramah. Memang tidak terlalu lama mengingat waktu yang sudah singkat menjelang masuknya waktu zuhur. Acara pertemuannya memang dimulai pukul 11.00 sebagaimana sudah kesepakatan bersama anggota. Sementara saat ini jadwal zuhur lebih cepat dari biasanya. Sebelum pukul 12.00 waktu zuhur sudah masuk. Sementara pengajian baru dimulai pada pukul 11.20 karena harus menunggu anggota hadir lebih ramai.
Pertemuan Bulanan Ishaka yang anggotanya adalah para haji-hajjah dari beberapa angkatan –saat ini–sesungguhnya bermula dari inisiatif haji-hajjah angakatn tahun 2006/2007 M atau 1427 H silam. Anggota angkatan pertamanya sudah memasuki angka 15 tahun lamanya. Kronologi berdirinya Ishaka, ketika rombongan haji 2006/2007 yang kebetulan berasal dari Pulau Karimun, itu kembali ke Tanah Air –saat itu– mereka berinisiatif menggelar reuni silaturrahim sesama haji angakatan yang sama, musim haji 1427.
Diawali dari rumah (alm) H. Nurdang yang waktu itu didapuk menjadi ketua Ishaka. Dan sejak itu pertemuan bulanan ini terus dilaksanakan setiap bulan dengan pengecualian disebabkan beberapa alasan. Saat ini anggotanya sudah bergabung dengan para haji-hajjah angkatan sesudahnya. Hal itu mengingat sebagian anggota haji angkatan 1427 sudah meninggal dunia. Agar eksistensi Ishaka 1427 bertahan makan keanggotaannya dibuka untuk haji-hajjah angkatan lanjutan.
Setiap bulan dilaksanakan pertemuan di rumah-rumah anggota secara bergiliran dengan cara diundi. Bagi siapa nomor undiannya tercabut, maka pertemuan bulan depannya akan dilaksanakan di rumahnya atau di tempat yang ditentukan olehnya. Bulan lalu kebetulan menjadi tuan rumah adalah Hj. Adrieti dan bulan November ini di rumah Hj. Masni sebagai hasil cabutan undian bulan lalu itu.
Bu Hj. Masni mendatangkan KH. Syarifuddin Almakky sebagai pengisi acara dalam bentuk tausiah. Setelah sebagian besar anggota hadir, maka kegiatan tausiah pun dimulai. Dengan mengucapkan salam dan puja-puji kepada Yang Maha Kuasa serta bersolawat kepada baginda Rasulullah, ustaz Syarifuddin memulai ceramahnya.
“Saya bukan mau berceramah di hadapan Bapak-bapak Haji dan Ibu-ibu Hajjah, karena Bapak dan Ibu adalah orang tua-tua yang tidak pantas saya ceramahi,” kata ustaz membuka tausiahnya. “Saya hanya akan menyampaikan pesan para ulama yang hidup 1.100 tahun yang lalu. Kita tidak bisa mengundangnya lagi ke sini, tapi kita bisa membaca pesan-pesannya melalui buku karangannya ini.” Dia menunjukkan buku berbahasa Arab gundul itu. “Kita bersyukur masih dapat mengetahui dan memahami pesan-pesannya.” Begitu kiyai membuka tausiahnya sekaligus menyebutkan buku dan pengarang buku itu. Dia membawa buku yang ditulis oleh Imam Abdul Abbas bin Attok.
Menyinggung masih banyaknya kaum muslimin yang tidak fasih membaca alquran sebagai kita suci orang muslim, dia mengatakan bahwa kita mestinya sebagai muslim lancar dan fasih membaca alquran. “Bacaan kita harus bagus,” katanya. Bagi Bapak-bapak jangan sampai segan menjadi imam solat tersebab bacaan ayat-ayat alquran kita tidak bagus. “Belajarlah terus. Jangan takut jadi imam,” imbaunya di awal ceramah.
“Bapak-ibu semua adalah muslim/ muslimah yang istimewa di hadapan Allah karena sudah menyelesaikan rukun Islam kelima.” Kata kiyai lagi bahwa bagi muslim-muslimat yang sudah berkesempatan pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan haji artinya dia sudah sangat beruntung. “Banyak orang berduit, sehat dan bahkan ingin sekali ke haji, tapi belum kesampaian. Artinya panggilan Allah yang diserukan oleh Nabi Ibrahim, itu belum bisa dipenuhi oleh saudara-saudara kita yang belum berkesempatan naik haji.”
“Haji/ Hajjah yang hadir ini adalah orang yang dapat panggilan Allah untuk ke Tanah Suci, berhaji. Maka marilah sempurnakan ibadah kita dengan sebaik-baiknya. Dekatkan diri terus kepada Allah.” Lalu Kiyai Syarifuddin menjelaskan beberapa tanda orang yang dekat dengan Allah sebagaiman tercantum dalam buku yang dibawanya siang itu. Katanya ada empat tanda waliyullah yang sebaiknya kita miliki. Tanda-tanda itu bisa dan mampu seharusnya kita lakukan.
Apa saja tanda-tanda orang yang dekat dengan seperti derajat waliyullah itu? Pertama, menjaga rahasia dengan Allah. Maksudnya Allah akan memberikan hal-hal rahasia yang khusus diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Tidak boleh rahasia-rahasia khusus tersebut disampaikan ke orang awam.
Ciri kedua bahwa orang itu selalu terhubung dengan Nabi Muhammad Saw. Sebagai kekasih Allah, bagi orang-orang yang ingin hubungannya terjaga baik dengan Allah maka dia mestilah menjaga hubungan baiknya pula dengan Nabi sebagai kekasih Allah itu. Lakukanlah tindakan dan perbuatan yang pernah diteladankan oleh Muhammad sebagai bukti kita selalu menghubungkan diri kita kepada Nabi. Makan, minum, masuk rumah, keluar rumah, masuk WC, masuk masjid, bergaul atau apa saja, ikutilah cara nabi, maka tindakan dan perbuatan itu akan mendapatkan pahala dari Allah. Artinya hubungan baik kita dengan begitu akan terpelihara. Begitu pak kiyai menjelaskan.
Ciri ketiga adalah kuat menahan cercaan. Dihina, dicaci atau disakiti seperti apapun dia mampu bertahan. Tidak mudah putus asa mendapat ujian apapun. Konsistensinya dalam ibadah tidak bisa dipengaruhi oleh apapun. Itu tentu tidak mudah. Tapi bagi orang yang dekat dengan Allah akan mampu bertahan.
Lalu ciri keempat adalah bisa bergaul dengan semua orang. Bersama orang tua, anak muda atau orang-orang dewasa dan seusia dia selalu bisa menyesuaikannya. Tidak akan menimbulkan persoalan baginya jika harus bersama siapa saja. Artinya pergaulannya tidak memilih-miulih hanya orang tertentu saja. Orang kaya, orang miskin, orang berpangkat atau rakyat jelata, dia bisa. Itulah cirri waliyullah. Pak kiyai memberikan penjelasan yang sangat detail dan jelas.
Selain menyampaikan beberapa ciri orang-orang baik di mata Allah, ustaz juga mengingatkan perihal godaan dan tantangan dalam memelihara hubungan dengan Allah. Untuk itu dia mengingatkan agar tetap istiqomah dalam akidah dan jangan pernah mudah digoda apa saja yang akan merusak hubungan kita dengan Allah***












