Polisi Onta

“La..la, ma’lish, ma’lish”, “tidak, maaf!”. ku ucapkan kata ini ketika banyak orang menyegat mobil yang aku tumpangi dan dia berteriak dengan kata “camel..camel”, “onta”. Banyak sekali memang di kawasan ini para broker yang akan memberikan pelayanan penyewaan onta. Kawasan Piramida memang luas, apalagi tempat ini didukung dengan sejarahnya yang panjang pada masa Mesir kuno, sehingga wajar kalau onta masih dipertahankan di dalam kawasan itu sebagai kendaraan buat jalan-jalan.

Terus saja aku memasuki kawasan piramida tanpa memperdulikan lagi omongan-omongan para penjaja onta. Kasihan sahabatku dulu, gara-gara menuruti dan mengiyakan omongan para penyewa onta, hanya beberapa menit saja dia menaikinya untuk keliling di piramida, onta yang ditungganginya dibandrol dengan seratus pound, kebetulan waktu itu dia tidak bisa ngomong arab dan hanya bisa inggris, sehingga pemilik onta langsung ‘menekeknya’ dengan harga yang tidak wajar itu.

Aku selalu bertanya dengan arab ketika ada penawar seperti ini agar tidak di’tekek’ dengan harga. Ah, seperti biasa. Kali ini bagiku piramida terlihat biasa-biasa saja. Benar kata orang, “kullu syaiin minal biasa”, sebuah ungkapan kata dari para santri di pesantren dulu, bahwa segala sesuatu itu tergantung kebiasaan saja. Aku biasa melihat piramida. Aku biasa mengunjunginya, sehingga ketika kali ini aku melihatnya lagi, tampak biasa saja.

Bangunan itu hanya bongkahan batu-batu besar yang ditata dan terletak di gunung yang dulunya menjadi gunung batu dan dipoles dengan batu kapur dan bongkahan batunya konon katanya para peneliti itu diangkut langsung dari pusatnya di Aswan dengan menggunakan perahu di sungai nil. Justru bukan piramida yang menjadi perhatianku sepenuhnya. Aku bersama para sahabatku berjalan di jalan raya dan tanpa aba-aba, aku toleh ke belakang dari tempatku berjalan.

Eh, ternyata ada onta dan orangnya dengan seragam polisi berwarna hitam dengan ‘jogang’ ada di atas punuknya. “Ini baru perlu dibuat perhatian”, pikirku. Semuanya klasik di sini, dengan bangunan klasik zaman fir’aun, cara polisi mengaturnya juga klasik. Aku malah menikmatinya. Khufu. Piramida ini besar sekali. Aku perlu data untuk menceritakan piramida yang menjadi bangunan terbesar ini. Di internet dengan meng-klik kata ini aku akan menemukan ceritanya, entah dari wikipedia.com atau dari yang lainnya yang jumlahnya sangat bejubel.

Beruntung sekali Mesir ini, semua orang sangat tertarik dengan sejarah masa lalunya. Bahkan, salah satu jurusan favorit di universitas ternama di Cairo adalah tentang perjalanan sejarah Mesir kuno. Orang dulu pasti tidak tahu kalau mereka telah menjadi perhatian orang kini yang setiap hari selalu berfikir untuk tahu perjalanan kehidupan mereka lalu menjadikannya sebagai ilmu. Di depanku banyak sekali berdiri piramida, tidak hanya satu saja yang bernama Khufu itu yang paling sombong dibanding lainnya yang kecil-kecil.

Benar saja, dulu nenek moyang para pembangun ini dari para raja-raja selalu membangun kuburan raksasa ketika mereka hendak bertemu dengan kematian dan keturunan dari keturunan harus lebih rendah bangunannya dari pada para pendahulunya. Entah, aku juga kurang tahu, karena rasa hormat atau memang kalah pangkat sehingga tidak boleh lebih tinggi bangunan piramidanya.

Aha, beruntungnya mobil yang kutumpangi langsung masuk di kawasan piramida ini, jangan dikira, piramida merupakan kuburan raksasa dengan para polisi yang menjaganya menunggangi onta, sehingga kalau jalan kaki juga ‘kiyu’ juga. Aku bisa seenaknya naik mobil ketika payah di kaki menyapa. Sesekali ada niat untuk menaiki salah satu onta. Namun, seperti biasa, harus basa basi dulu dengan pemiliknya, karena jika langsung saja, aku takut dengan kena seratus pound seperti sahabatku dulu.

“Khomsa gineh, tashwir”. Seorang penunggang onta bersama rombongannya menghampiriku dan mulailah basa basi sekedar tanya-tanya. Sampai akhirnya mereka tahu, aku ini mahasiswa sini dan sudah tahu dengan adat istiadat orang sini, jadi jangan macam-macam dengan bermain harga seperti layaknya para bule yang oke-oke saja walaupun dicekoki dengan harga onta yang tidak masuk akal itu. “Lima pound, untuk mengambil gambar saja”, satu dollar berarti.

Okelah, lumayan juga, aku bisa mengambil foto di atas punggung onta walaupun tidak mengajaknya jalan-jalan di piramida, sekedar foto saja. Polisi onta tadi masih wira-wiri ke sana kemari dengan ontanya. Sesekali dia mencegat dan mengatur mobil pribadi dan pariwisata yang lalu lalang. Sesekali juga aku melihat mobil yang kena tilang karena salah jalan, atau memang polisi itu sengaja mencari ceperan di tengah pekerjaannya.

Asal tahu saja, tidak hanya menurutku saja, juga orang yang pernah ke piramida ini bahwa polisi di sini termasuk banyak ceperannya. Sedikit-sedikit ada kata “baksis”, hadiah, ketika ada mobil yang memasuki kawasan piramida untuk mengunjunginya, belum lagi kalau ada mobil yang dihampirinya, besar kemungkinan “baksis” paling tidak 5 pound akan masuk ke sakunya.

Di pojok-pojok bangunan piramida juga selalu ada banyak para polisi yang menjaga. Aku pernah menerobos masuk pertahanan di balik besi yang ada di depan piramida dan ingin berfoto di sana. Eh, ternyata seorang polisi pojok meneriakiku untuk keluar arena. Sambil mengobah-obahkan derijinya, dia berkata “la..la, mamnu’ dukhul”, “gak, gak, dilarang masuk!”. Terang saja, mereka banyak sekali dan aku memilih untuk minggir saja. Aku capek dan ingin pulang saja.

Pertama kali ke piramida dulu memang istimewa, tetapi kali ini tampak biasa-biasa saja. Dari dulu juga hanya batu-batu saja. Palingan istimewanya hanya ada pada foto-foto yang terpajang di facebook sambil pamer pada orang-orang yang belum pernah ke piramida dan meng’iming-imingi’nya untuk berkunjung ke sana. Itu saja. Aku keluar dan bertemu dengan polisi onta lagi. Aku tidak menyapanya dan hanya memotretnya saja sebagai kenangan.

Tinggalkan Balasan