BLITAR KOTA KELAHIRAN AYAHKU

Wisata247 Dilihat

Dokpri

Dok Pri

BLITAR KOTA KELAHIRAN AYAHKU

Liburan di awal Januari 2023, aku gunakan untuk berkunjung keluarga di Pati, Gresik, Kertosono, Kediri dan Blitar untuk lebih mempererat tali persaudaraan.

Cerita perjalananku kali ini di kota kelahiran ayahku, Blitar. Aku pergi ke Blitar bersama kakakku dan suaminya yang bertempat tinggal di Kertosono, keponakanku dan suaminya yang berdomisili di Kediri, juga putraku (mas Galaxy) dan teman putraku (mas Bagus). Perjalanan memakan waktu dua jam dari Kertosono. Sepanjang perjalanan kami melihat keindahan alam, sawah yang terbentang luas dengan padi yang masih hijau. Sungguh menyejukkan mata.

Sampai di Blitar, kami tidak langsung ke rumah Bulek Min (Bulik, nama panggilan tante di Jawa Tengah dan Timur). Namun kami menuju ke makam Bung Karno yang terletak di dekat Pasar Pon. Sudah lama kami tidak berziarah ke makam Presiden pertama RI. Sesampai disana kami menulis nama dan alamat beserta pengikut di ruang sekretariat. Kami membayar Rp.21.000,- untuk tujuh orang. Murah sekali. Aku juga membeli pin Bung karno yang sedang mengenakan peci khasnya, kemudian aku pasang di kaos merah marunku.

Kami membeli tiga plastik bunga untuk ditaburkan diatas makam Bung Karno. Kami melihat banyak pengunjung yang mengelilingi makam Bung Karno sambil berdoa. Setelah beberapa dari mereka selesai, giliran kami berdoa baru kemudian kami menaburkan bunga di atas makam Bung Karno. Kami berdoa segala kebaikan untuk Almarhum Bung Karno dan bangsa Indonesia. Kami juga berdoa untuk kami sekeluarga agar senantiasa diberikan iman Islam dan jalan yang benar.

Pada saat berdoa petugas makam membantu kami mengabadikan momen tersebut dengan beberapa foto kami yang sedang berdoa. Kami juga berfoto di depan aula makam Bung Karno dan sekitar aula yang tampak indah dengan beberapa pohon dan bunga anggrek.  Di samping dan di belakang aula terdapat bangku untuk duduk dan menikmati semilir angin dan indahnya taman.

Setelah istirahat, kami menuju pintu keluar area makam dan melalui lorong berkelak kelok dengan para penjual souvenir di sepanjang sisi lorong. Senang kami melihat berbagai pernak pernik, asesoris dan kaos bergambar bung Karno.  Sebenarnya ingin membeli beberapa kaos untuk oleh-oleh teman di kantor atau untuk kenang-kenangan sendiri namun karena suami mba Mina yang sudah merasa kelelahan berjalan, terpaksa aku berjalan lebih cepat untuk mengejarnya dan hanya sempat beli gelang dari manik-manik buatan. Keluar dari lorong kami bertemu pasar Pon.  Sepertinya lorong tersebut sengaja diarahkan ke Pasar Pon. Aku membeli beraneka dodol dengan berbagai rasa dengan harga murah. Kaos dan asesoris juga murah sekali di pasar dan di area pintu keluar makam Bung Karno Blitar.

Dokpri

Dok Pri

Selesai dari makam kami menuju rumah bulek (tante) di Blitar. Kami memasuki lorong sempit untuk mencapai rumah bulek Huri. Ketika masuk rumah bulek Huri kami hanya menjumpai anak kecil yang sedang bermain di ruang tamu. Suasana rumah sepi sekali. Ketika kami datang anak itu segera berlari ke kamar dan memberi tahu bulek Huri yang merupakan neneknya.

Kami mengikuti gadis kecil itu ke kamar bulik dan ternyata beliau sedang berbaring di atas tempat tidur lemas. Sudah beberapa hari bulek Huri sakit karena terjatuh di kamar mandi.  Bulek berusaha bangkit dari tempat tidur dan aku bantu untuk duduk. Beliau beranjak dari tempat tidur dengan dibantu tongkat dan ikut duduk di kursi di dekat tempat tidur.

Berbincang sejenak untuk melepas kerinduan yang berpuluh-puluh tahun tidak jumpa. Ada rasa bersalah jarang ke Blitar. Mungkin karena ayahku sudah tiada maka aku lebih sering ke Kediri tempat ayah ibuku dimakamkan.

Selesai dari bulik Huri kami ke bulik Min dan kami disambut dengan riang gembira oleh putri bulek Min (Dik Ana). Dik Ana berbincang-bincang tentang banyak hal ketika kami masih kecil, sementara bulek Min hanya mendengarkan sambil mengangguk dan tersenyum. Pandangannya mulai kabur namun pendengarannya masih bagus. Bulek Min yang berusia hampir 90 an masih tampak bekas kecantikannya.

Tidak lama kemudian putri dari bulik Huri (dik Sri Diyah) datang dan bergabung dengan kami, kopi darat bersama keluarga di Blitar semakin seru. Walau kami hanya disuguhi air mineral namun suasana begitu bersahabat. Kami berfoto bersama untuk  mengabadikan momen yang sangat berharga.

Untuk melengkapi perjalanan kami, destinasi terakhir adalah bertemu putri bulik Huri (dik Djumaroh) yang sedang berjualan di Pasar Legi Blitar. Dik Djumaroh terkaget-kaget melihat kami datang karena sudah cukup lama tidak berkomunikasi dan berkunjung. Sebelum kami melihat-lihat barang jualannya, kami makan siang bersama. Menu favorit adalah Rawon. Satu piring Rawon dengan daging yang cukup banyak hanya Rp. 10.000,-  Sungguh murah sekali dan rasanya super lezat karena bumbunya pas banget di lidah kami.

Sedikit berkeringat selesai makan Rawon dan minum jeruk panas. Untuk mendinginkan suhu tubuh aku dan mba Mina ke Kios dik Djumaroh. Ada kipas angin disana dan udara dari luar juga dapat masuk ke kiosnya. Barang yang di jual adalah pakaian wanita, mukena dan celana panjang. Aku membeli kebaya modern warna merah marun dan celana panjang juga pendek. Lumayan banyak aku membeli dagangannya. Barang-barang juga bagus dan murah. Kualitas juga tidak dapat diragukan (menurutku).

Setelah puas berbincang-bincang dan belanja, kamipun pulang ke Kediri, kota kelahiranku.

Nah, itulah ceritaku saat liburan di bulan Januari 2023, bagaimana dengan liburanmu?

 

Blitar, 6 Januari 2023

Nani Kusmiyati

Tinggalkan Balasan