SAHABAT JADI KELUARGA
Sabtu pagi, 13 Februari 2021 pukul 08.00, aku dan putraku berencana ke makam suami. Sahabat suami menelponku akan membantu untuk mengingatkan teman bisnis suami untuk segera membayar pinjamannya yang menunggak satu tahun lebih.
Alhamdulillah ada sahabat suami yang perduli kepada kami. Penagihan belum berhasil namun peminjam sudah menyetujui membuat perjanjian hitam diatas putih akan mengembalikan dua bulan lagi dengan jaminan sertifikat rumah. Semoga janjinya benar karena aku tidak menyukai pertengkaran atau kekerasan gara-gara utang pihutang.
Dengan sedikit lega aku dan putraku ditemani sahabat suami berangkat ke makam walau sebenarnya aku berencana pergi hanya dengan putraku. Aku menghargai kebaikan sahabat suami yang telah meluangkan waktunya untuk membantuku memenuhi pesan suami tentang hutang piutang juga menemani ke makam. Dia memberi tahuku paguyupan dari daerah suami berencana akan ikut kemakam. Aku sungguh takjub dengan ke kompakan mereka. Sebagai seseorang yang ditinggalkan pasangan sangat terhibur dengan kehadiran mereka.
Kami menuju makam dengan dua mobil. Sepanjang perjalanan sahabat suami menceritakan tentang kebaikan dan keramahtamahan suami. Sungguh senang aku mendengar pengakuan mereka apalagi suami mendapatkan tempat dihati sahabatnya.
Sesampai dimakam, ketua paguyuban memimpin tahlil dan kami mengikuti seluruh prosesi doa bersama. Rasanya ingin berlama-lama di pusaran suami. Aku ingin berkomunikasi langsung dengan almarhum suami dan putra pertamaku namun aku tidak ingin sahabat-sahabat suami menungguku lebih lama duduk disisi makam.
Kami berhenti sejenak di kedai di dalam makam. Aku persilakan sahabat-sahabat suami untuk minum kopi sambil beristirahat. Aku yakin mereka ingin berbincang-bincang satu sama lain karena ada beberapa dari mereka lama tidak bertemu satu sama lain. Aku mengira mereka memesan makanan ternyata mereka hanya sekedar minum kopi, merokok dan berbincang-bincang. Aku malu karena sudah terlanjur pesan laksa untukku dan toge goreng untuk putraku. Mereka mempersilakan aku dan putraku untuk makan. Sebenarnya aku malu tapi perutku mulai lapar karena dari pagi belum sarapan. Tidak lupa aku menyebut nama suami dan putra pertamaku dalam hati kalau aku akan makan.
Mereka memang sahabat-sahabat suami yang baik karena sangat perduli padaku dan putraku. Aku merasa memiliki keluarga baru walau baru bertemu lagi dengan mereka sejak sekian lama. Hanya bertemu dua kali pada saat arisan keluarga dan aku tidak hafal nama-nama mereka. Aku hanya familiar dengan wajah-wajah ramah mereka.
“Terima kasih Tuhan telah dipertemukan dengan orang-orang baik di kehidupan hamba. Mereka bukan satu darah dengan hamba namun mereka memang keluarga baru hamba.” Suara hatiku mengucap syukur kepada Allah SWT dengan apa yang terjadi hari ini.
Pukul dua kami meninggalkan makam. Hatiku terasa tenang dan nyaman karena dapat ziarah kemakam dengan orang-orang baik, sahabat suami yang kini menjadi keluarga baruku.
Nani Kusmiyati, S.Pd., M.M. CTMP.
Jakarta, 13 Februari 2021
LOMBA MENULIS PGRI
DAY 13






