
mirkostoedter-reading-7807231_1280
Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati
Day 9 — Jeda yang Disadari, Hati yang Kembali Ringan
(Catatan Ramadhan)
Sahur hari kesembilan saya awali dengan menu yang hangat dan menenangkan: sop wortel, buncis, dan bakso. Teh satu gelas kami nikmati berdua—saya dan putra saya—dengan porsi yang cukup dan suasana yang tenang.
Salat Subuh kami tunaikan seperti biasa. Setelah itu, putra saya berangkat bekerja. Sebagai ibu, doa senantiasa menyertainya: semoga perjalanannya lancar dan selamat hingga sampai di kantor. Saya juga berdoa agar ia dipercaya, disayangi oleh rekan kerja dan atasannya, serta setiap tugas yang diemban dapat diselesaikan dengan baik. Saya berharap hatinya bahagia—karena kebahagiaan sering kali menjadi penopang paling kuat.
Ketika rumah kembali sepi, tiba-tiba rasa malas menyelinap. Inginnya rebahan. Saya izinkan diri untuk berhenti sejenak—rebahan boleh, tetapi tidak terlalu lama. Saya beristighfar, memohon agar rasa malas segera berlalu dan digantikan dengan ketenangan. Saya berharap hari ini tetap bisa diisi dengan hal-hal yang menenteramkan hati.
Tak lama kemudian, telepon dari sahabat yang biasa merapikan rambut saya masuk. Ia adalah beautician langganan saya. Aneh tapi nyata, semangat perlahan muncul. Saya segera mandi dan bersiap salat Zuhur agar tubuh terasa lebih segar dan hati kembali berenergi.
Sambil menunggu kedatangannya, saya menghangatkan nasi dan sayur, berharap bisa dinikmati nanti saat berbuka. Tak lama berselang, sahabat saya datang. Suasana rumah pun berubah—lebih hidup dengan cerita-cerita yang mengalir ringan.
Setelah selesai merapikan rambut, kami membeli takjil dan lauk untuk berbuka. Ayam bakar dan bakso menjadi pilihan kami berdua. Sederhana, tetapi terasa pas.
Usai mendapatkan yang kami inginkan, sahabat saya pulang dengan motor. Saya kembali ke rumah dan mendapati putra saya sudah berada di rumah—ia pulang lebih awal hari ini. Ada rasa syukur yang diam-diam tumbuh: jeda hari ini berakhir dengan kebersamaan.
Hari kesembilan mengajarkan saya satu hal:
jeda yang disadari tidak membuat kita tertinggal; justru membantu kita kembali utuh.
Jonggol, Jumat, 27 Februari 2026
Nani, pecinta literasi
Self Reminder
“Tidak semua jeda adalah kemunduran; sebagian adalah cara Allah menenangkan langkah.”
“Mengakui lelah adalah awal untuk kembali kuat.”
“Doa seorang ibu sering bekerja dalam diam, namun dampaknya nyata.”







