Day 14 Menghormati Batas, Merawat Kesetiaan

Catatan Ramadhan

Ramadhan60 Dilihat

pexels-kunal-lakhotia-781256899-28674660

pexels-kunal-lakhotia-781256899-28674660

Day 14 — Menghormati Batas, Merawat Kesetiaan

Hari ke-14 Ramadhan terasa seperti ajakan untuk berdamai dengan ritme diri sendiri.
Bukan mempercepat, bukan memaksa—melainkan menyesuaikan.

Sahur dijalani sederhana, dilanjutkan dengan ibadah dan kegiatan rutin di rumah. Tidak ada agenda besar yang dikejar, namun ada kesadaran untuk tetap hadir penuh dalam hal-hal kecil: belajar bahasa Inggris, menulis Diary Ramadhan, dan merawat rumah sebagai ruang bertumbuh.

Di sela-sela hari, rasa syukur terus mengalir. Rezeki Allah SWT terasa hadir dari banyak arah—bukan hanya dalam bentuk materi, tetapi juga perhatian, hubungan, dan kesempatan berbagi.

Menjelang berbuka, putraku membawakan nasi kebuli ayam. Hidangan yang bukan sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga menghangatkan hati. Ada cinta yang diam-diam bekerja di sana.

Kejutan lain datang: dua box kurma masing-masing satu kilogram dari Kedutaan Singapura. Hampir setiap tahun, perhatian itu selalu hadir, meski para staf silih berganti. Kurma dikirim ke kantor lamaku dan diantarkan hingga ke rumah oleh anak buah—sebuah rangkaian kebaikan yang terasa seperti estafet niat baik.

Kurma itu tidak disimpan sendiri. Sebagiannya dibagikan kepada tetangga yang sering mengirim hasil bumi: ubi, singkong, dan buah-buahan. Rezeki memang menemukan maknanya saat ia berpindah tangan.

Sebagai ungkapan terima kasih, aku mengirimkan nastar kepada anak buah yang mengantarkan kurma, disertai sedikit tips untuk putrinya. Bukan tentang besar atau kecilnya pemberian, melainkan tentang menjaga alur kebaikan tetap mengalir.

Hari ke-14 mengajarkanku bahwa ibadah tidak selalu soal menambah beban.
Kadang, ia justru tentang menghormati batas tubuh, agar jiwa tidak kelelahan dan tetap setia menjalani hari-hari.

Dan hari ini, kesetiaan itu terasa tenang.

 

Jonggol, Rabu 4 Maret 2026

Nani Kusmiyati

Pecinta Literasi

 

Self Reminder

“Aku belajar bahwa beribadah juga berarti
menghormati batas tubuh,
agar jiwa bisa terus setia melangkah.”

 

 

Tinggalkan Balasan