Day 17 Belajar dari Ketulusan Seorang Guru

Catatan Ramadhan

Ramadhan18 Dilihat

pexels-shvetsa-6250942

pexels-shvetsa-6250942

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 17 — Belajar dari Ketulusan Seorang Guru

Kegiatan sahur dan berbuka hari ini berjalan seperti biasa, sederhana namun penuh rasa syukur.

Menu sahur kami pun tidak terlalu istimewa, tetapi cukup menghangatkan pagi. Untuk saya: nasi, sayur lodeh kacang dan terong, telur dadar, dua potong nugget kecil, serta air mineral.

Putra saya menikmati sahur dengan menu nasi, telur dadar, sepotong kecil ayam bakar, beberapa potong nugget, sedikit sambal yang tidak terlalu pedas, dan air mineral.

Sebelum waktu imsak tiba, kami berdua tidak lupa meminum vitamin agar tetap menjaga kesehatan selama menjalani ibadah puasa.

Pelajaran hari ini datang dari sebuah kebiasaan sederhana: berbagi catatan Ramadhan. Saya membagikan tulisan Ramadhan Day 16 kepada sahabat saya di Gunung Kidul.

Mungkin ia adalah salah satu sahabat yang paling dapat saya percaya dan andalkan. Ia selalu senang membaca, memberikan komentar, serta menyemangati saya untuk terus menulis.

Sahabat saya ini adalah seorang guru agama di sebuah SD di Gunung Kidul. Bagi saya, ia adalah sosok guru yang hebat dan berhati baik. Ia selalu berusaha hadir bagi murid-muridnya, terutama pada jam-jam sekolah ketika mereka membutuhkan bimbingan dan perhatian.

Hari Sabtu ini, di tengah bulan puasa, ia tetap mendampingi murid-muridnya berlatih drumband. Mereka sedang mempersiapkan diri untuk sebuah kompetisi yang akan datang. Melihat semangat mereka berlatih di bulan Ramadhan membuat saya merasa kagum.

Dedikasi seorang guru sering kali tidak terlihat besar dari luar, tetapi sebenarnya sangat bermakna bagi masa depan anak-anak didiknya.

Saat ini sahabat saya juga sedang melanjutkan studi S2, dengan dukungan penuh dari suami dan kedua anak tercintanya. Dukungan keluarga dan ketekunan pribadi membuatnya mampu menjalani berbagai peran sekaligus: sebagai ibu, istri, guru, dan mahasiswa.

Melihat semangatnya membuat saya semakin menghargai profesi guru. Saya merasa kagum kepada banyak guru di Indonesia yang bekerja dengan penuh ketulusan, termasuk sahabat saya ini.

Di hari yang sama, saya juga menerima pesan melalui WhatsApp dari seorang profesor di kampus tempat saya mengajar saat ini. Beliau menyapa dan mengabarkan bahwa hingga kini masih belum menemukan mahasiswa yang dapat membantu program yang sedang kami rencanakan, yaitu PKM (Pengabdian Kepada Masyarakat).

Beliau juga menyampaikan bahwa sedang mencari sekitar dua puluh referensi jurnal sebagai persyaratan penelitian, sementara saat ini baru menemukan tujuh jurnal.

Saya sebenarnya ingin membantu, tetapi untuk sementara belum bisa banyak terlibat karena masih memiliki beberapa pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, termasuk menulis artikel untuk buku bersama.

Sementara itu, percakapan di grup sahabat “Wonderful Malang” masih membahas rencana perjalanan bersama. Ada rencana berkunjung ke Lombok pada bulan April, bahkan muncul ide tambahan untuk pergi ke Dieng.

Saya hanya mengingatkan agar kami semua memperhatikan beberapa hal penting sebelum membuat keputusan: kondisi cuaca, kesehatan masing-masing, serta kesiapan keuangan.

Apalagi jika perjalanan ke Lombok dilakukan dengan kapal laut, tentu perlu mengetahui bagaimana kondisi cuaca saat itu.

Pada akhirnya, semua rencana tetap saya serahkan kepada Allah SWT.

Manusia boleh merencanakan berbagai hal, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan-Nya.

 

Self Reminder

“Belajar dari ketulusan seorang guru,
menghargai setiap peran yang dijalani dengan ikhlas,
dan menyerahkan setiap rencana kepada Allah SWT.”

“Kita boleh merencanakan banyak hal dalam hidup,
tetapi ketenangan datang saat kita percaya
bahwa Allah mengetahui yang terbaik.”

Jonggol, Sabtu, 7 Maret 2026

Nani Kusmiyati
Pecinta Literasi

Tinggalkan Balasan