Day 18 Masjid, Ruang Ibadah dan Kebaikan

Catatan Ramadhan

Ramadhan9 Dilihat

pexels-chattrapalsingh-2989625

pexels-chattrapalsingh-2989625

Ramadhan: Hari-Hari yang Menenangkan Hati

Day 18 — Masjid, Ruang Ibadah dan Kebaikan

Sahur hari ini terasa sederhana namun penuh rasa syukur. Masih ada satu porsi nasi Briyani dan ayam goreng yang kami beli saat berbuka puasa kemarin, cukup untuk putra saya.

Sementara itu saya memasak sedikit nasi baru sebelum waktu sahur tiba, karena nasi yang lama sudah terlalu lembek untuk dimakan lagi.

Sebagai teman nasi putih, saya membuat dadar telur dengan irisan bawang merah dan cabai untuk saya sendiri. Untuk putra saya, saya membuat dadar telur dengan bumbu jadi secukupnya dan sedikit garam agar rasanya lebih sederhana sesuai seleranya.

Bersyukur kami masih bisa menjalani sahur bersama di hari ke-18 Ramadhan, walaupun hanya berdua. Yang terpenting bagi saya adalah dapat menjalaninya dengan ikhlas dan dalam keadaan sehat.

Hari ini pikiran saya juga teringat pada masjid sebagai pusat kebangkitan spiritual dan sosial. Selain menjadi tempat ibadah, masjid juga dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat, seperti seminar, workshop, pembelajaran keagamaan, maupun kegiatan positif lainnya bagi masyarakat.

Saya teringat pada Masjid Istiqlal di Jakarta. Ketika masih muda, saya pernah melaksanakan sholat dan mengikuti berbagai peringatan keagamaan di sana pada bulan Ramadhan.

Berikutnya ketika saya menjadi senior dalam usia maupun pangkat, pernah membawa delegasi internasional ke Masjid Istiqlal untuk tour. Setelah berkeliling melihat bangunan dan berbagai fasilitas masjid, kami mengadakan pertemuan kecil yang kemudian dilanjutkan dengan makan siang di area masjid. Pengalaman tersebut membuat saya semakin menyadari bahwa masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang pertemuan yang mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang dan negara.

Masjid-masjid di Indonesia sebenarnya memiliki fasilitas yang sangat lengkap dan berpotensi menjadi pusat kegiatan umat.

Saat ini yang menjadi salah satu keinginan saya adalah berkunjung ke Masjid Sejuta Pemuda di Sukabumi. Saya sering mengikuti tayangan kegiatan masjid tersebut melalui Facebook atau TikTok.

Dari berbagai informasi yang saya lihat, masjid tersebut terbuka bagi siapa saja yang ingin datang. Bahkan disediakan tempat beristirahat dan minuman gratis bagi para pengunjung. Bagi para pendatang dari luar daerah maupun turis asing, mereka tidak perlu khawatir mencari penginapan karena beberapa fasilitas telah disediakan.

Hal yang sering membuat saya bertanya-tanya adalah siapa yang membiayai semua fasilitas tersebut. Jika benar semuanya disediakan secara gratis, tentu itu merupakan bentuk kebaikan yang sangat besar bagi banyak orang.

Dalam hati saya berharap, semoga pada awal bulan April nanti saya dapat berkunjung langsung ke Masjid Sejuta Pemuda tersebut.

Pagi ini hujan turun cukup deras sejak pagi hingga menjelang siang. Saya membuka pintu beranda, membiarkan semilir angin menyentuh kulit.

Jalanan tampak sepi. Hanya terlihat seorang wanita pemulung berjalan sambil membawa karung putih yang mungkin berisi botol-botol bekas. Ia berjalan cukup cepat di tengah hujan, tanpa berteduh.

Pemandangan sederhana itu membuat hati saya terdiam sejenak. Setiap orang menjalani kehidupannya dengan cara yang berbeda, dengan perjuangannya masing-masing.

Ramadhan sering kali membuat kita lebih peka melihat kehidupan di sekitar kita.

Self Reminder

Mensyukuri kebersamaan yang sederhana,
melihat masjid sebagai ruang kebaikan bagi banyak orang,
dan belajar peka terhadap kehidupan di sekitar.

“Ramadhan mengajarkan kita untuk tidak hanya melihat kehidupan dari dalam rumah,
tetapi juga dari langkah-langkah kecil manusia di luar sana.”

Jonggol, 8 Maret 2026

Nani Kusmiyati
Pecinta Literasi

Tinggalkan Balasan