Gaya Dahlan Iskan dan Thamrin Dahlan Berliterasi, Ini Rahasia Suksesnya!

#kisahbangnurterbit

Penulis Nur Terbit di markas YPTD jelang rapat (foto dok pribadi)
Penulis Nur Terbit di markas YPTD jelang rapat (foto dok pribadi)

Ini Rahasia Sukses Dahlan Iskan – Thamrin Dahlan Berliterasi – Catatan : Nur Terbit

Tiba-tiba handphone saya menerima pesan WhatsApp. Datang dari Pak Thamrin Dahlan. “Bang Nur Ikutan yok memberi komentar di portal Disway.id Tulisan Dahlan Iskan. Pak Taufik, Ibu Nani, Pak Sutiono dan Pak Hendro Santoso sudah bergabung”.

Setelah membaca pesan tersebut, saya kemudian membuka portal yang dimaksud Pak TD — kami dan teman-teman biasa menyapa demikian kepada Pak Thamrin Dahlan.

Ternyata benar. Di sana ada tulisan berjudul “Panglima Merah”. Ditulis oleh pemilik portalnya langsung: Dahlan Iskan. Saya awalnya belum mengerti ke mana arah tulisan tersebut. Ada panglima tapi koq merah? Ternyata itu sebutan seorang panglima di lingkungan masyarakat Dayak.

Menurut cerita Pak Dahlan Iskan, Sabtu sore itu dia bersama Wapres Gibran Rakabuming Raka baru saja menghadiri ulang tahun ke-45 Panglima Jilah di Desa Sambora, dua jam bermobil dari Pontianak. Acara Pak Dahlan sendiri, olah raga lari di Kabupaten Kubu Raya, tempat Bandara Supadio berada.

“Tidak banyak yang tahu latar belakang Panglima Jilah. Arti Jilah adalah merah. Apa yang dikatakan Panglima Jilah sangat dituruti pengikutnya. Pengikut Panglima Jilah disebut Pasukan Merah. Anggotanya lebih dari 300.000 orang. Sampai pun di Serawak dan Brunei,” tulis Pak Dahlan.

Dahlan Iskan sendiri, saya kenal adalah mantan wartawan “Majalah Tempo”, pernah ditugaskan Tempo ke Surabaya Jawa Timur memimpin surat kabar “Jawa Pos”. Kemudian jadi pejabat penting di PLN dan Kementrian BUMN.

Terkait Panglima Merah seperti yang ditulis Pak Dahlan, saya teringat di Jakarta dulu pernah heboh dengan “Kapak Merah”, “Kebaya Merah” bahkan ada surat kabar terbit dengan nama “Lampu Merah”. Yang disebut terakhir pasti Abang Dahlan Iskan kenal hehe…

“Kapak Merah” sering bertindak kasar dan memaksa korbannya dengan ancaman kapak berwarna merah. Satunya lagi “Kebaya Merah”, lebih lembut dan cenderung menggoda: dia berkebaya merah.

Tapi bukan itu yang ingin saya komentari dari tulisan Pak Dahlan Iskan yang akrab disapa “Abah” ini. Saya akan bercerita tentang Pontianak, lebih luas lagi Kalimantan Barat (Kalbar) dari mana kisah “Panglima Merah” yang ditulis Abah Dahlan Iskan.

Ketika saya masih aktif sebagai wartawan dari surat kabar sore Harian Terbit (Pos Kota Grup milik almarhum Haji Harmoko), saya beberapa kali datang ke Kalimantan Barat, khususnya Pontianak dan Singkawang bahkan sempat sampai ke Kucing, perbatasan Malaysia-Kalbar.

Itu karena pernah berpos liputan wartawan unit perhubungan di Departemen Perhubungan (kini Kementerian Perhubungan).

Untuk bidang maritim, kami sering ditugaskan bersama teman-teman mengunjungi kegiatan bongkar-muat di pelabuhan di bawah PT Pelindo (Pelabuhan Indonesia) II Pusat di Tanjung Priok Jakarta Utara. Salah satu pelabuhan yang sering dikunjungi adalah Pelabuhan Pontianak Kalbar dan pelabuhan di sekitar arah Singkawang.

Kunjungan makin sering ke Kalbar setelah ada relasi lama diangkat jadi Kakanwil Deppen (sekarang Kominfo) di Kalbar, sebelumnya Kakanwil Deppen DKI Jakarta. Kami diajak ke daerah pelosok masuk ke perkampungan suku Dayak Kalimantan.

Kami juga pernah ke satu bukit di daerah sekitar Singkawang ketika bukit tersebut diresmikan dengan nama “Bukit Soeharto” – nama Presiden RI yang memerintah saat itu. Pulangnya kami mampir ke Singkawang melihat dari dekat perkampungan Amoy dan etnis Cina.

Sebagian dari penulis buku anggota YPTD (foto dok YPTD/Nur Terbit)
Sebagian dari penulis buku anggota YPTD (foto dok YPTD/Nur Terbit)

Setelah menulis komentar di atas, Pak Thamrin Dahlan mengucapkan “Selamat Bergabung Bang Nur Alim (nama asli saya). Pakai nama Terbit untuk mengingatkan diri sebagai wartawan senior yang selalu dikejar kejar death line. Hehehe”.

Sekedar diketahui, Pak Dahlan Iskan sendiri sebelum jadi Dirut PLN dan Menteri BUMN, adalah seorang wartawan Majalah Tempo di Pontianak Kalimantan Barat. Makanya sangat mendalami Kalbar ketika beliau menulis di Disway dengan judul “Pahlawan Merah” tentang kisah Jagoan suku Dayak Kalimantan.

Di artikel beliau itulah saya komentari, setelah diajak Pak Thamrin ikut mengisi kolom komentar beliau. Saya tidak tahu siapa itu “Pahlawan Merah” di Kalbar yang dimaksud. Saya hanya menulis kenangan saya waktu beberapa kali liputan sebagai wartawan di Kalbar, terutama Pontianak, Singkawang dan Kucing perbatasan Kalbar-Malaysia. Alhamdulillah kaget juga koq bisa terterpilih oleh Pak Dahlan Iskan dari 200-an komentar yang ada.

Selanjutnya, Pak Dahlan Iskan dari wartwan Tempo di Pontianak, terus ditarik ke kantor pusat Tempo di Jakarta. Selanjutnya beliau ditempatkan di Surabaya Jawa Timur. Beliau dipercaya dengan penugasan ke Surabaya jadi “nakhoda” surat kabar Jawa Pos, koran daerah di Surabaya tapi langsung oplah koran tersebut melambung tinggi jadi koran nasional, bahkan membesar dan beranak-pianak melahirkan koran Radar Grup di tiap daerah diantaranya Radar Bekasi dan lain-lain.

Terus dikembangkan lagi di era digital dengan membangun jaringan seluruh Indonesia melalui JPNN (Jawa Pos News Network). Memang Pak Dahlan Iskan, salah satu mantan wartawan diantara jutaan wartawan di Indonesia yang hebat, sukses dan berhasil di dunia pers. Keren….

“Luar biasa. Terutama Bang Nur Terbit baru pertama koment ternyata Pak Dahlan Iskan sangat terkesan. Kata Pak Taufik, maklum sama sama wartawan bangkotan,” tulis Pak Thamrin Dahlan di website terbitkan.id

Kami semua memang penulis dari berbagai genre artikel, termasuk di antaranya adalah para Kompasianer — penulis di blog keroyokan Kompasiana, milik Kompas Grup.

Lewat bantuan Pak Thamrin Dahlan, kami para penulis kemudian dikumpulkan dalam satu komunitas penulis YPTD (Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan), yang juga sekaligus penerbit buku. Maka jadi pulalah kami sebagai penulis buku.

Hingga tahun 2025 ini sudah ratusan buku diterbitkan oleh YPTD. Buku-buku karangan dari kami semua. Nah, begitulah cerita ringan Bang Nur Terbit dari sisi lain dunia literasi. Kali ini tentang tiga nama: Thamrin Dahlan, Dahlan Iskan dan Disway seperti sudah diukas di atas. Semoga bermanfaat.

Salam : Nur Terbit.

Catatan: Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.

Tinggalkan Balasan