Rela Jalan Kaki Agar Bisa Nonton Televisi, Menuju TV Digital (1) — Oleh Nur Terbit — bagian pertama dari empat tulisan.
Ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) Mandai, umur saya baru 12 tahun di era 1970-an. Itulah pertama kali saya menonton siaran televisi di kampung saya di Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jauh sebelum daerah ini masuk bergabung dengan Kota Makassar karena pemekaran wilayah.
Sekitar 25 kilometer dari tempat tinggal saya, berdiri tegak tiang pemancar TVRI Stasiun Ujung Pandang (kini Makassar). Direkturnya ketika itu Haji Muhammad Azis Husein, ayah dari penyanyi Ismi Azis.
Waktu itu, baru ada satu siaran televisi. Yaitu Televisi Republik Indonesia (TVRI). Masih dalam siaran hitam putih dan ada iklan “Siaran Niaga”-nya. Warga masyarakat yang memiliki pesawat televisi pun, masih langka.
Saking langkanya, jumlah pesawat televisi masih bisa dihitung dengan jari. Baru ada satu dua rumah yang memutar siaran televisi. Ya, televisi ketika itu, boleh dibilang barang langka. Penerangan listrik juga belum ada. Hanya lampu petromaks di rumah penduduk.
Di wilayah kecamatan tempat tinggal kami saja, hanya ada beberapa orang yang punya televisi. Salah satunya keluarga Pak Benyamin Tangkesalu (Pak Tangke) almarhum. Dia perwira Angkatan Udara dari Lanud Hasanuddin.
Orang cukup berada, asli orang Toraja dan pemilik hotel “Misiliana” di kampungnya Rantepao. Di Mandai beliau punya tanah berhektar-hektar. Beberapa petak sawah yang Pak Tangke beli, adalah milik kakek-nenek kami. Uangnya untuk ongkos naik haji. Ketika itu masih naik kapal laut, atau istilah populernya: Haji Laut.
Untuk memutar televisi, menggunakan mesin dissel, sekaligus penerangan rumah karena waktu itu belum ada penerangan listrik dari PLN.
Saya termasuk beruntung bertetangga dengan keluarga perwira tersebut. Setiap hari bermain dengan anak-anaknya yang sebaya dengan saya. Itu sebabnya, saya bisa numpang nonton televisi jika malam hari. Tentu saja, jika esok harinya tidak ada PR dari sekolah, atau kebetulan malam Minggu.
Selain di rumah perwira Angkatan Udara yang cukup berada itu, kami dan anak-anak kampung cukup tertolong karena tinggal tak jauh dari komplek militer.
Tepatnya komplek Angkatan Udara Lanud Hasanuddin. Kami tinggal di pemukiman warga. Jaraknya sekitar 3 kilo meter di luar komplek.
Di satu bangunan pos penjagaan menghadap lapangan luas, dipasang kotak televisi. Tempat warga menonton secara gratis. Penontonnya tertib, sopan-sopan, sebab tak jauh dari situ terdapat rumah dinas para perwira. Termasuk rumah yang ditempati penguasa komplek: Komandan Pangkalan Angkatan Udara Lanud Hasanuddin.
Hampir setiap malam, kami anak-anak kampung berjalan kaki sejauh 3 kilometer — “konvoi” dari rumah ke komplek militer ini menonton acara siaran televisi. Ketika siaran televisi pun berakhir, kamipun kembali berjalan kaki bergerobol bak karnaval yang baru pulang dari lomba Agustusan.
Teman saya Imran Nasution mengaku juga baru nanton TV tahun 1970 masih hitam putih, satu-satunya siaran cuma TVRI. “Itupun bisa kita tonton di toko penjual TV karena belum banyak orang yang bisa beli TV hahaha….”
Ada cerita lucu waktu saya masih remaja. Saya pernah ikut audisi di TVRI Makassar. Acara “Kenalan Baru” ala “Indonesian Idol” — ajang pencarian bakat dalam bidang menyanyi, tapi tidak lolos.
Yang lulus dan lolos tampil adalah anak-anak penyanyi daerah di Makassar yang memang sudah sering juara Pop Singer Radio & Televisi. Tapi saya bersyukur, tokh bisa tampil di layar kaca meski itu hitam putih hahaha….
Sekali waktu pernah juga tampil bersama teman satu sekolah, ikut acara “Cerdas Cermat” dalam versi hitam putih di TVRI Ujung Pandang (sekarang Makassar), cuma dapat juara harapan. Pengalaman tak terlupakan hehehe…
Perjalanan Stasiun TVRI
Televisi Republik Indonesia (TVRI) berdiri pada 24 Agustus 1962 (berdasarkan SK Menpen RI No.20/SK/VII/61) ditandai dengan siaran perdana Asian Games ke IV di Stadion Utama Gelanggang Olah Raga Bung Karno.
Pembangunan infrastruktur yang disiapkan oleh Pemerintah kala itu kawasan kompleks olahraga Senayan (Kampung Senayan, Petunduan, Kebun Kelapa dan Bendungan Hilir) serta pembangunan jalan baru yaitu Jalan M.H. Thamrin, Gatot Subroto, Jembatan Semanggi, hingga TVRI guna menunjang kebutuhan penyiaran turnamen.
Persiapannya singkat sekali. Kehadiran TVRI disiapkan dalam waktu kurang dari sepuluh bulan. Menempati gedung yang semula dihajatkan sebagai Kampus Akademi Penerangan – Departemen Penerangan RI, di Gerbang Pemuda – Senayan Jakarta.
Dari gedung ini, program siaran TVRI disiapkan, dikemas dan dipancarluaskan memakai jaringan teresterial.
Kemudian, pembangunan tahap berikut di luar Jawa, meliputi Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Masih hitam putih, belum ada televisi swasta.
Dalam kurun waktu seperempat abad, infrastruktur penyiaran televisi sudah tersebar hampir di seluruh penjuru Nusantara. Salah satunya nikmati siarannya di Maros Sulsel. Ketika itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), umur saya baru 12 tahun di era 1970-an.
Nah, itulah pertama kali saya menonton siaran televisi di kampung saya di Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sekitar 20 kilometer arah Utara Kota Makassar, tepatnya tak jauh dari bandara militer Lanud Hasanuddin. Atau tidak begitu jauh dari bandara komersial Sultan Hasanuddin.
Secara kronologis status TVRI Tahun 1963 berbentuk Yayasan Televisi Republik Indonesia (TVRI) berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 215 Tahun 1963 tentang Pembentukan Yayasan Televisi Republik Indonesia. TVRI adalah stasiun televisi tertua di Indonesia.
Memasuki era reformasi, status hukum TVRI mengambang. Tahun 1976 TVRI berubah status menjadi UPT (Unit Pelaksana Teknis) dibawah Departemen Penerangan.
Tahun 2000 status TVRI berubah menjadi PERJAN (Perusahaan Jawatan). Yakni perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan penyiaran televisi sesuai dengan prinsip-prinsip televisi publik, independen, netral, mandiri.
Dengan terbitnya PP Nomor 64 Tahun 2001 Pembinaan Perjan TVRI dari Departemen Keuangan dialihkan kepada Menteri Negara BUMN. Status TVRI berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT) TVRI di bawah pengawasan Departemen Keuangan RI dan Kantor Menteri Negara BUMN.
Sejak tahun 2005 hingga kini, Status TVRI berubah menjadi Lembaga Penyiaran Publik. Memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa yang siarannya menjangkau seluruh wilayah Indonesia.
Tahun 1990-2005 adalah era TVRI yang memonopoli penyiaran usai, ditandai pelonggaran izin penyelenggaraan penyiaran televisi swasta dari Departemen Penerangan. Di awal 1990-an secara bersamaan turut hadir stasiun televisi swasta.
Mengingat peristiwa di era 1970-an itu, saya sering tertawa sendiri. Betapa mahalnya ya tontonan televisi ketika itu.
Saya rela jalan kaki ke Lanud Hasanuddin, atau numpang di rumah tetangga agar bisa nonton televisi.
Siapa menyangka kalau John Logie Baird, penemu televisi asal Skotlandia itu, bisa juga dinikmati karyanya bagi anak kampung seperti saya dan teman-teman (bersambung).
Salam,
Nur Terbit
#NurTerbit #KMAA18 #TVDigital














