Budaya Membaca Lahirkan Kalimat Yang Indah

Terbaru349 Dilihat

Oleh Nuraini Ahwan

Membaca adalah modal membuat kalimat demi kalimat,
Membaca tulisan teman dalam grup yang diposting atau ditulis dalam blog, bisa menjadi ide untuk menulis. Menulis tentang apa yang dirasakan, dialami pada saat akan memulai menulis.

Kebuntuan ide menghinggapi seorang saya yang pemula. Dikatakan kebuntuan sebenarnya tidak juga, banyak yang akan dituliskan, yang terlintas dalam pikiran, namun hanya diam di kepala. Menurut tulisan Bapak Ngainun Naim, sudah kita tulis semua tetapi masih di simpan di kepala karena menurut beliau, sepanjang hari sebenarnya kita sudah menulis.
Menurut saya, yang sulit adalah mengawali kalimat dalam bentuk tulisan yang bisa dibaca oleh orang lain yang susah.

Saya kembali membaca tulisan teman dalam grup, dengan membuka blog salah seorang teman grup. Semula saya penasaran dengan blog tersebut. Siapakah yang punya blog dengan nama blog; http://spirit-literasi.blogspot.com/2020/06/tulisan-indah-dan-kekayaan-bacaan.html?m=1 ? Ternyata blog tersebut milik orang hebat. Bapak Ngainun Naim. Saya selalu mampir di blog beliau. Merekam, menyimak dan diam-diam menimba ilmu dari tulisan beliau. Ehh..ma.af pak, tanpa sepengetahuan Bapak, saya banyak belajar dari tulisan Bapak. Membangkitkan motivasi saya, membangkitkan minat saya dan menambah ilmu saya untuk menulis. Tulisan Bapak selalu menginspirasi.

Pagi tadi saya membuka blog beliau , http://spiritliterasi.blogspot.com/2020/06/tulisan-indah-dan-kekayaan-bacaan.html?m=1
Judul tulisan Bapak Ngainun Naim “Tulisan Indah dan Kekayaan Bacaan.”
Dari tulisan ini saya mendapat asupan nutrisi semangat dari beliau. Saya membaca dari awal sampai akhir. Kalimat demi kalimat, saya pahami maknanya, saya mengangguk-angguk membenarkan isi tulisan itu seraya menyalahkan diri karena merasa sok sibuk.

Dalam pemikiran saya bahwa beliau saja yang sudah hebat mewajibkan dirinya membaca setiap hari. Membaca minimal 10 lembar setiap hari. Sepadat apapun kegiatan beliau, membaca selalu beliau lakukan, bahkan pernah sampai buku terjatuh ketika beliau membaca karena membacanya menjelang tidur. Paginya beliau baru melihat buku berserakan di bawah kasur.

Menurut beliau, membaca setiap hari beliau lakukan terkait dengan dunia literasi adalah membaca membuat beliau memiliki modal untuk membuat kalimat demi kalimat.
Lebih lanjut, Bapak Ngainun Naim memaparkan dalam tulisan beliau bahwa menulis itu harus ada yang ditulis. Tanpa kekayaan bacaan, pengalaman, dan renungan maka tulisan yang kita buat akan sulit terwujud. Jika pun mampu membuat kalimat, biasanya kurang indah, sulit dipahami, dan membosankan.

Tulisan sebenarnya merupakan akumulasi dari bacaan demi bacaan yang kita baca. Kebiasaan membaca membuat kita mampu menyusun kalimat demi kalimat. Banyak membaca menjadikan kita  mampu menyusun kalimat yang indah.
Begitu penuturan  dalam tulisan yang saya baca pada blog beliau pagi tadi.

Saya langsung introspeksi terhadap bagaimana diri saya dengan dunia literasi. Saya tinggalkan komentar pada blog  bahwa tulisan beliau menginspirasi saya. Saya, kalau membaca bawaannya ngantuk saja. Yang saya baca saat ini adalah tulisan teman-teman dalam grup dan sedikit sekali membaca buku buku lain.

Saya meyakini, kurang membaca membuat saya miskin kalimat, membuat saya tersendat-sendat dalam menulis. Membuat saya fakir diksi dan tersengal-sengal dalam mengolah kata.
Terima kasih Bapak Ngainun Naim, atas pompaan semangat literasi ini. Tepat namanya blog, Spirit-literasi.

Lombok, 1 Juni 2020
Selamat Hari Lahir Pancasila.

Tinggalkan Balasan