

MENULIS LAGI YUK!
OKI SIWI
KTA PGRI 09030602530
Menulis karena harus menulis. Dipaksa? Iya. Awal perkenalan dengan tulis menulis pastinya karena diberi tugas oleh bapak atau ibu guru di sekolah. Tugas untuk membuat karangan atau membuat rangkuman. Pelajaran bahasa Indonesia biasanya akrab dengan kegiatan ini. Menulis makalah, karya tulis, tugas akhir, syarat untuk kenaikan pangkat atau kelulusan. Namun seiring dengan berjalannya waktu hasrat diri akan mulai menyaring siapa yang bertahan untuk lanjut menulis sesuai dengan minat, bakat, panggilan jiwa, siapa yang terhempas dan lupa akan menulis.
Menulis memang perlu niat. Kebanyakan akan mundur jika bukan karena kewajiban atau persyaratan. Namun ada juga yang merasakan kehampaan jika tidak menulis. Kepuasan hati yang tidak bisa dikatakan jika telah berhasil menuangkan semua ide dan rasa yang ada dikepala menjadi tulisan. Seperti terapi yang membebaskan resah dan gelisah jiwa dengan untaian huruf serta kata yang tersurat. Energi yang tercurah menghasilkan karya tulisan seperti tidak terasa mengalir begitu saja tanpa lelah.
Menulis merupakan salah satu media berekspresi, marah, sedih, senang dapat kita tulis. Seni tulis menulis memberikan ruang untuk menyampaikan fakta, cerita, protes dan khayalan dengan berbagai pilihan gaya bahasa. Bisa dengan kiasan atau sindiran, puisi atau prosa. Beraneka cara menulis dengan tatanan baku karya ilmiah yang metodologis atau ringan jenaka dengan anekdot-anekdot lucu yang menggelitik. Menulis dapat dipelajari, yang terpenting menulis dapat dilatih. Menyukai tulis menulis adalah modal dasar untuk dapat menghasilkan sebuah karya tulisan. Menulis membebaskan jiwa. Memberikan nafas yang kadang tersendat karena batasan norma.
Menulis bisa juga berbahaya karena tempat dan kata yang tidak bijaksana. Menulis status pada media sosial sudah sering kali menjadi bumerang bagi si penulis. Membawa bencana karena dianggap melanggar hukum. Menulis sekarang dapat membuat kita masuk penjara karena ada Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang mengaturnya. Tidak perlu takut jika memang kita tidak bersalah. Namun begitu berhati-hati harus selalu kita utamakan. Jangan sampai tulisan kita menjadikan masalah untuk diri sendiri. Berfikirlah dua kali untuk menuliskan sesuatu di media sosial, penting atau tidak hal yang ingin kita tulis ini. Jangan menulis yang tidak baik sampai kita terperosok dengan jarimu harimaumu!
Menulis haruslah menyenangkan. Tulislah hal-hal kecil yang membangkitkan semangat, memberikan motivasi. Media sosial adalah jejak digital yang dapat dilacak dan harus kita pertanggungjawabkan. Hindari menulis saat sedang emosi di media sosial. Biasakan untuk selalu berprasangka baik kepada orang lain. Jangan menulis untuk menyakiti. Jadikan menulis sebagai nilai tambah diri yang positif. Keterampilan yang meningkatkan harkat dan martabat diri dengan karya. Nulis lagi yuk! Biar sehat jiwa dan raga kita.
Jakarta, 15 Februari 2021.











