
Seorang teman menodong saya untuk menulis kisah bagaimana saya membersamai suami dalam keterpurukan atau di masa-masa tersulit selama berumah tangga yang kami hadapi. Tapi rasanya sulit sekali menuliskannya, pasalnya daripada suami, jutsru saya yang seringkali merasa berada diambang keterpurukan.
Lagipula tidak mungkin setiap keterpurukan harus kita koar-koarkan. Biar apa coba?, Biar seluruh dunia tahu dan berempati kepada kita atau berharap cerita keterpurukan kita viral dan kita menjadi terkenal. Hmm…
“Life is never flat”, begitupun dengan kehidupan berumah tangga, jalannya tidak akan pernah datar. Terkadang harus mendaki dan sesekali menurun curam. Kadang lurus tapi didepan penuh liku-liku. Begitulah, setiap rumah tangga pasti punya battle fieldnya sendiri yang untuk melewatinya kadang harus terluka, tertatih-tatih hingga menguras air mata.
Berat memang untuk ikhlas menghadapi ujian apalagi terkait kehidupan rumah tangga, baik dengan suami ataupun istri karena itu menyangkut masalah hati, tapi yakinlah bahwa takdir yang diberikan Allah pasti sanggup untuk kita hadapi. Ada banyak hikmah dibalik ujian itu sebagai bekal kita ke depan nanti.
Karena tidak mungkin hidup manusia dipenuhi kesenangan setiap saat. Lalu darimana kita akan belajar menjadi tegar dan sabar ketika menghadapi masalah besar. Bukankah kita akan semakin kuat setelah mendapat ujian?
Saya selalu meyakini, setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Saya percaya bahwa pada akhirnya kebahagiaan sejati dan kokohnya rumah tangga adalah buah dari tempaan dan ujian. Buah dari proses belajar yang tidak mudah.
Karena tidak ada satu manusiapun yang tidak terbentuk dari ujian yang meruntuhkan kepercayaan diri, waktu yang serasa lambat yang menggusarkan, serta pelbagai macam sakit hati. Namun tanpa kekecewaan, orang tidak akan pernah belajar, tanpa kecewa orang akan terus berharap pada manusia yang cenderung menyakitinya, tanpa kecewa orang tidak tahu mana salah dan mana yang benar, tanpa kekecewaan orang tidak pernah tahu jika pilihan yang dulu sudah dimentahkan adalah sebuah pilihan yang tepat.
Kita juga tak boleh lupa bahwa masih banyak orang-orang di sekitar kita yang memiliki masalah yang bisa jadi jauh lebih berat dan sulit dari masalah yang kita hadapi. Terakhir yang harus selalu kita ingat Allah SWT tak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya.
Suamiku, dirimu adalah jawaban dari do’a yang kurapal berkali-kali. Terimakasih atas segala kesabaran, terimakasih telah menjadi bahu ternyaman untukku bersandar, terimakasih telah menjadi tulang punggung yang ikhlas meski berkali-kali patah. Semoga Tuhan selalu membersamai hidup kita dalam cinta dan kebajikan.








aamiin,semoga semua uian dapat kita lalui dengan baik
Aamiin