Bangkitlah anakku Hari esok masih ada

Terbaru535 Dilihat

27. PUISIMU 11

​​​Serpihan

Peluru dilontarkan

Penyakti dimasukkan

Pintu-pintu siap dibuka

Aku tak perduli lagi akan kenyataan yang melandaku,

Setiap emosi melahirkn perbuatan,

Setiap kenyataan melahirkan emosi,

Aku hanya bisa diam dan bersabar,

Dalam menjalani kenyataan……………

Dalam melakoni sandiwara,

Sandiwara yang tak pernah akan ada putusnya,

Dalam naungan malam dan gelapnya kehidupan maya,

Aku tak mampu lagi menatap matahari,

Hanya bisa menatap rembulan,

Rasa malu mulai muncul dan aku mulai menuai kehidupan,

Semoga saja tak jauh dari kenyataan…

PUISIMU 12

​​​Puisi Pribadi

Hampir termakan emosi,

Hampir terbelenggu pada situasi,

Hampir termaki karena amarah,

Tapi semua dapat kujalani dengan lancar dan terukir di otakku dengan manis,

Tanpa ada satu tembokpun yang menghalangi di tengah padang pasir yang suram sunyi,

Aku berdiri sendiri di tengah gurun pasir yang suram

Mencari jati diri di tengah ombak yang terjal

Memberi kehidupan

Dan menuai kesengsaraan

Melakukan apa yang tak seharusnya kulakukan

Memberi apa yang tak seharusnya kuberi

Menanggung apa yang tak seharusnya kutanggung

Merapikan apa yang tak seharusnya kurapikan

Merangkul apa yang tak seharusnya kurangkul

Aku si manusia mistery

Sudah cukup merasakan perih..

Yang sangat mati tak terperi… hhh

Aku tak takut dengan keadaan dan cinta……..

Aku tak sudi dengan kebobrokan sesaat………..

Aku tak takut dengan keragaman……….

Aku tak takut dengan penonton yang bersorak……..

….. Biarkan saja semua bekerja dengan sendirinya.

PUISIMU 13

Entahlah apa yang terjadi bila terus-terusan begini…………

Sudah aku perkirakan…. banyak orang terdekat yang terpengaruh, sehingga aku tak dapat berkata lagi………….

Berbagai macam kebobrokan birahi dunia, aku merasa lelah dengan semua yang berbau peniruan dan ditiru

Rasanya ingin bebas seperti dulu lagi, dan meninggalkan segala kesombongan di hati yang bersarang sangat dalam dan sulit dilihat.

Pernah terjadi suatu hal yang unik, aku melihat diriku seperti bunga yang sudah layu, sangat layu terlihat dari pakaian dan wajahku.

Tapi kutekankan to myself bahwa semuanya pasti akan musnah. Semua ilmu pengetahuan dan teknologi makin canggih dan gadis-gadis menjadi semakin brutal

Laki-laki jual mahal semuanya bersatu menjadi soap jaman

Aku berbicara pada diriku sendri mengapa aku begini, mengapa aku begini…….

Mengapa aku selalu merasa dikuntit, mengapa aku merasa akulah juru selamat

Tapi selalu kesiangan, semua penderitaan itu pasti akan ada hikmah

Rasanya aku ingin menjadi diriku sendiri lagi

Rasanya aku sudah sangat muak seperti dibaca pikirannya

Rasanya semua menunggu tulisanku

Rasanya semua berpaling dan menggerutuku dengan ketidaksenangannya

Rasanya setiap apa yang aku pikirkan selalu terbaca orang dan dicontoh

Rasanya permainan ini selalu ada pada waktu aku ingin bersyukur dan tiba-tiba menguap

Tapi tampaknya aku tahu rahasianya mungkin aura tegangku terdengar sampai ke puncak himalaya/planet lain

Ingin rasanya bebas dari segala pikiran bobrok, tapi sebelum itu harus kupelajari dulu sampai tuntas setuntas-tuntasnya, sampai sangat tuntas amiin ya Allah SWT.

​​​​​​​Tak perlu dibaca (Kahfi)

Tinggalkan Balasan