
Hari Museum Nasional diperingati setiap tanggal 12 Oktober. Sebagai wujud dukungan saya terhadap hari Museum di Indonesia, saya akan mengulas tentang Museum Jenderal Besar AH Nasution.
Provinsi DKI Jakarta adalah salah satu daerah tujuan wisata di Indonesia yang begitu banyak memiliki objek wisata. Beberapa objek wisata di DKI Jakarta antara lain wisata alam (Pulau Pramuka, Pulau Onrust, Ancol Beach Pool, Taman Honda Tebet, Taman Waduk Pluit, Taman Situ Lembang, Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Taman Margasatwa Ragunan, Sea World, Taman Bunga Wiladatika Cibubur, Taman Menteng, Taman Cattleya), wisata peninggalan sejarah (Taman Suropati, Lapangan Banteng, Monumen Nasional), dan wisata budaya (Setu Babakan, Taman Mini Indonesia Indah).
Selain objek wisata alam, wisata peninggalan sejarah, dan wisata budaya, masih ada lagi objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, yaitu museum. Beberapa museum yang terdapat di DKI Jakarta antara lain Museum Nasional, Museum Bank Indonesia, Museum Wayang, Museum Sejarah Fatahillah, Museum Tekstil, Museum Bank Mandiri, Museum Sumpah Pemuda, Museum Satria Mandala, Museum Jenderal Besar AH Nasution, Museum Bahari, Museum Arsip Nasional, Museum Transportasi, Museum Purnabhakti, dan Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
Salah satu objek wisata museum yang menjadi andalan di DKI Jakarta adalah “Museum Jenderal Besar AH Nasution”. “Museum Jenderal Besar AH Nasution” adalah salah satu objek wisata sejarah yang menjadi saksi bisu tentang kisah tragis peristiwa G-30S/PKI.
Museum Abdul Haris Nasution atau tepatnya museum Sasmitaloka Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution adalah salah satu museum pahlawan nasional yang terletak di jalan Teuku Umar No. 40, Jakarta Pusat, DKI Jaya, Indonesia. Museum ini terbuka untuk umum dari hari selasa hingga hari minggu, dari pukul 08:00 hingga pukul 14:00. Setiap hari senin, museum ini ditutup untuk umum. Museum ini semula adalah kediaman pribadi dari pak Nasution yang ditempati bersama dengan keluarganya sejak menjabat sebagai KASAD tahun 1949 hingga wafatnya pada tanggal 6 September 2000.
Di tempat ini, Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution telah menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negara. Di tempat ini pula pada tanggal 1 Oktober 1965 telah terjadi peristiwa dramatis yang hampir merenggut nyawa Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution.
Pasukan Tjakrabirawa G-30S/PKI berupaya menculik dan membunuh Jenderal Nasution, puji syukur hal itu gagal dilakukan. Namun dalam peristiwa tersebut, putri Jenderal Nasution, Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya, Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean gugur.
Museum Nasional Jenderal Besar Dr. AH Nasution diresmikan pada tanggal 3 Desember 2008 oleh Presiden Susilo Bambang Yuhoyono. Museum seluas 2.000 meter persegi tersebut, merupakan prasasti hidup dan kehidupan Jenderal Besar AH Nasution dan keluarga. Museum ini juga menyimpan banyak peninggalan bersejarah seperti koleksi buku, pakaian, senjata, foto, hingga perabotan yang masih dipertahankan.
Pada saat memasuki museum tersebut, pengunjung bisa dikejutkan dengan keberadaan diorama mengenai penyerangan oleh Tjakrabirawa kepada Jenderal Besar A.H Nasution. Diorama dalam museum tersebut berukuran sebesar orang dewasa dengan berbagai ekspresi.
Pengunjung dapat melihat diorama tentara Tjakrabirawa dengan ekspresi bengis yang mendobrak paksa pintu kamar Jenderal A.H Nasution. Saat memasuki kamar tidur Jenderal Nasution, disitu masih terdapat lubang-lubang yang merupakan hasil tembakan peluru tentara Tjakrabirawa yang masih dipertahankan. Jumlah diorama pasukan Tjakrabirawa yang ada di museum tersebut persis sama jumlahnya dengan tentara Tjakrabirawa yang masuk ke rumah Jenderal Besar AH Nasution.

Diorama Ade Irma Suryani yang berlumuran darah setelah ditembak pasukan Tjakrabirawa dan digendong oleh ibunya (Johana Sunarti Nasution) juga digambarkan sesuai kejadian saat itu. Terlihat patung pasukan Cakrabirawa mengarahkan senjata kea rah isteri Nasution yang sedang meggendong Ade Irma yang sudah tertembak.
Menyaksikan diorama tersebut, kita bisa merasakan suasana mencekam saat tragedi malam tanggal 30 September menjelang subuh tanggal 1 Oktober 1965 itu terjadi. Semua isi dalam museum Jenderal Besar AH Nasution, masih asli seperti saat keluarga Jenderal AH Nasution tinggal disitu.

Jadi, kalau kita mau belajar dan memupuk nilai kejuangan dari Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution, datanglah ke Museum Jenderal Besar AH Nasution yang merupakan prasasti hidup dan kehidupan Jenderal Besar AH Nasution dan keluarga. Kita bisa membayangkan lintasan dan jejak pengabdian Jenderal Besar DR. Abdul Haris Nasution menghasilkan banyak karya juang yang dipersembahkan bagi kemajuan bangsa dan negara, di tempat yang sebenarnya.













