Celoteh Anak Melayu Pesisir Pulau
” S I N D I R A N “
Dua hari yang lalu
Tiada terdegar hiruk pikuk
Seperti malam tiada bunyi cengkrik
Sepi,sepi sekali
Esok harinya ,berubah musnah menjadi wabah
Dikunci rapat gembok baja tetap goyah
Mencengkam teriak ketakutan
Semua makhluk bertanya tanya
Mencari jawaban murkanya
Apa salahku..
Apa dosaku..
Cengkrik yang tadi ribut berpauat paut, saut menyaut, sepi tak bernyanyi
Takut dalam landaan kabut berlapis maut
Semua manjadi ribut
Bertanya kembali
Apa salahku….
Jawaban masih belum tuntas
Satu persatu nyawa dicabut dari jasadnya
Yang tadinya merasa kokoh,kuat,nyatanya rapuh
Tetap tersungkur dalam ketakutan panjang
Tak pilih tua keriput atupun muda,bayi kecil munggil masih bau kencur tiada dosa
Ikut bersama dicabut nyawanya
Aku bertanya kembali
Ada apa ya ?
Ini rupanya sindiran halus
Untuk makhluk penghuni bumi
Uutuk makhluk perusak bumi
Eh…rupanya dia ,juga makhluk halus mencabut nyawa
Karena lari dari mawas diri
Akhirnya turun wabah melanda negeri
Semua makhluk kecil,besar pontang panting ketakutan
Tapi yang kecil ini berani,karena dia pembunuh bayaran
Aku bertanya kembali
Sipa yang membayarnya
Rupa rupanya penguasa langit dan bumi,yang tak mampu dilihat,terlihat makhluk penghuni bumi
Dia ada tapi tak berupa
Akhirnya ke kanan salah,ke kiri juga salah
Jadi semua serba salah
Eh….masih juga belum sadar
Dari tidur yang berlarutan dalam kegelapan
Eh….masih juga anggkuh,sombong,tak mau sadarkan diri
Dan bahkan tak tau malu,muka tebal selimut keji
Bahwa kematian sudah dekat menghampiri,sudah di ujung jari jemari
Aku terus, terus bertanya
Apa ya sebabnya ?
Rupanya kita lupa, kitalah yang mengundang murkanya
Karena tangan, tangan kita panjang,kotor terus berpura pura
Tak sadar bahwa kita tiada rupanya
Tak sadar bahwa kita harus selalu terjaga
Karya : Raja zainol afandi,S.Pd.SD








