Menulis Profil Pak TD, Dia Itu Ulama, Usia Lanjut Masih Aktif (1)

Menulis Profil Pak TD, Dia Itu
Ulama, Usia Lanjut Masih Aktif (1)

Oleh : Nur Terbit, Bagian Pertama dari Tiga Tulisan

Pak TD — sapaan akrab Pak Thamrin Dahlan, adalah potret manusia yang tak pernah mau diam. Terus berkarya. Berjuang demi dunia literasi, bahkan mendirikan penerbitan buku (YPTD).

Meski sudah purnabhakti alias pensiun dari anggota kepolisian, tapi Pak TD masih mengajar sebagai dosen (20 tahun sudah dijalani), menulis artikel dan juga buku (jelang 40 buku).

“Pak Thamrin Dahlan itu, sebenarnya sudah termasuk ulama,” kata Omjay, atau Wijaya Kusumah, serius. “Tahu gak apa itu ulama? singkatan dari Usia Lanjut Masih Aktif, hahaha….,” kali ini bercanda, dan kami semua tertawa.

Tulisan ini semula saya beri judul “Thamrin Dahlan : Pensiunan Polisi, Penulis 39 Buku dan 20 Tahun Mengajar Mata Kuliah Pancasila”. Semacam mini biografi.

Kebetulan, bersamaan ada lomba essay teladan aparatur yang digelar BPIP dan tantangan lomba menulis 40 hari tanpa jeda dari Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD). Lomba menulis essai BPIP tidak mesti dimuat di media, hanya ngirim artikel berupa MS Word ke panitia.  Sedang di YPTD harus dimuat di website.

Lomba essay untuk wartawan dan masyarakat umum tersebut, digelar oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), memperingati HUT RI. Tema : Teladan Aparatur Sipil Negara, TNI – Polri.

Lomba Nur Terbit
Lomba menulis essay BPIP (foto dok Nur Terbit)

Mungkin belum rezeki, tulisan ini hanya sampai pada level hanya “ikut meramaikan” — dari 800-an naskah yang masuk ke panitia hingga pengumuman pemenang, Selasa 31 Agustus 2021.

Dewan jurinya antara lain Prof Dr Jimly Asshiddiqie, mantan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dan kini Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP), dan Helmy Yahya Si Raja Quiz, didikan Ani Sumadi, sekaligus mantan Dirut TVRI yang kini asyik ber-podcast di channel YouTube-nya.

Nah, bagaimana saya mempersiapkan tulisan mini biografi Pak TD ini? Antara lain membaca literatur, karya-karya tulisan beliau, selain tentu wawancara. Terkadang kirim daftar pertanyaan via What’sAap lalu dijawab Pak TD. Seperti di bawah ini :

*****

“Menulislah terus, biarlah tulisanmu itu mengikuti takdirnya, biarlah tulisan itu membela dirinya sendiri” (Buya Hamka).

Boleh jadi, Profesor Buya Hamka memang adalah guru imajnatif yang memberikan semangat bagi Kombes Pol (Purn) H. Thamrin Dahlan, SKM, M.Si. “Buya Hamka sangat berpengaruh dalam diri penulis,” kata Pak TD, panggilan akrab saya kepada Pak Thamrin Dahlan dari sesama penulis.

Kepada saya di suatu pertemuan santai, Pak TD mengakui kalau pesan Buya Hamka sangat berkesan dan tertinggal dalam  pikirannya. Seolah sudah menyatu dengan kehidupannya sehari-hari.

“Memang, pesan Buya Hamka inilah yang menjadi penyemangat dalam menulis dan menerbitkan buku sebagai salah satu alibi bahwa buku adalah bukti tak terbantahkan hadirnya seorang anak manusia di bumi ini.

Buku sejatinya Mahkota Penulis,” kata Kompasianer – sebutan bagi penulis Kompasiana – yang juga staf pengajar di beberapa perguruan tinggi ini.
Sebagai purnawirawan Polri, tentu Pak TD adalah sosok unik dan langka.

Betapa tidak, hingga tulisan ini saya ketik, beliau ternyata cukup produktif dalam hal menulis artikel. Bahkan dari kumpulan tulisannya yang terserak di berbagai media, seperti Kompasiana dan blog pribadi itu, sedikitnya sudah ada 39 buku berhasil dia terbitkan.

Yang pasti sesuai pengakuannya kepada saya, Pak TD mulai Agustus 2010 aktif menulis di media sosial dan telah memposting sebanyak 3.500 artikel.  Sebagian besar tulisan sudah diterbitkan sehingga menjadi 21 buku.

Buku yang sedang proses cetak  merupakan buku ke 39 berjudul “Bunga Rampai Tiga Sembilan”.

“Alhamdulillah berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa serta Shalawat Nabi Muhammad SAW, inspirasi menulis terus mengalir, minimal satu artikel satu hari. Tentu semua inspirasi bisa terwujud dalam bentuk tulisan karena  terdorong oleh keinginan kuat (motivasi) berbagi kebaikan untuk kemaslahatan umat dengan tetap berpedoman pada motto menulis : ‘PenaSehat, PenaKawan dan PenaSaran’, katanya.

TALENTA DARI IBUNDA

 

Bisa jadi talenta menulis diturunkan dari Ibundanya, almarhumah Hj Kamsiah binti Sutan Mahmud (1914-2004).  “Mak”, demikian anak-anaknya memanggilnya, memang sangat rajin menulis surat untuk ke -7 anak anaknya di rantau.  Tulisan tangan Mak menggunakan ejaan lama, terkadang Arab Melayu, merupakan penyemangat bagi putera-putrinya dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

“Teriring doa kehadirat Allah SWT, semoga mendapatkan karunia sehat walafiat sehingga mampu mewujudkan cita cita tahun 2021   menerbitkan 10 buku dengan harapan semoga menjelang usia 70 (Tahun 2022) mampu menerbitkan 50 buku,” kata Pak TD, mengenang pengaruh “Mak” dalam kehidupan tulis menulis selanjutnya (bersambung ke bagian ke-2)

Salam Literasi

#NurTerbit #KMAA15 #MenulisProfil

Tinggalkan Balasan