Abraham Raubun
3 M kini sudah menjadi 5 M, tetapi sebaiknya di jadikan 6 M. Apa alasan di balik menambahkan satu M lagi? Ini bukan M singkatan dari miliar seperti yang dialokasikan negara buat pembelian vaksin dan pelaksanaan vaksinasi, meski masih ada kaitannya dengan penangannan Covid-19.
Perjuangan melawan Covid-19 masih belum usai. Perjalanan untuk menuju era new normal masih terbilang panjang sambil menunggu hasil kerja vaksin yang lebih meyakinkan. Pemberian vaksin hendaknya jangan sampai menjadi satu-satunya harapan dan tumpuan ataupun alat pamungkas untuk mengeradikasi virus ini. Protokol kesehatan hasih tetap harus dijaga ketat.
Imunitas tubuh yang berguna sebagai perisai pelindung harus tetap didukung dengan tindakan preventif lain lewat protokol Kesehatan yang telah ditetapkan dan wajib diterapkan. Protokol Kesehatan yang sudah ditetapkan dengan semboyan 3 M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir serta menjaga jarak, nampaknya juga belum mumpuni menggiring kasus-kasus kejadian ke tingkat minimum yang dianjurkan. Alih-alih turun, jumlah orang-orang yang terpapar dari hari ke hari semakin naik, bahkan bertengger pada angka belasan ribu.
Klaster-klaster baru bermunculan beranjak dari pesta, silaturahmi keluarga, obyek wisata, kulineran, mobilitas yang tinggi, yang kesemuanya menjadi biang kerumunan warga. Pasalnya mungkin juga tidak dapat dicegah karena rasa jenuh dan putus asa yang menumpuk dan mendesak dalam dada para mahluk sosial yang tidak tahan untuk hidup menyendiri dan selalu ingin menyeruak masuk dalam kumpulan sesamanya manusia.
Tak ayal hal-hal membuat yang berwenang dan bertanggungjawab atas kesejahteraan dan hajat orang banyak segera mengambil dan meningkatkan tindakan pencegahan. Protokol Kesehatan 3M ditingkatkan dengan mendapat imbuhan 2M. Semula hanya memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, kita menjadi memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas. Pertimbangannya mungkin karena 3M tidak mempan jangan-jangan ini karena ulah 2M yang dijelaskan belakangan menjadi biang keroknya. Kalaulah memang demikian halnya, maka pendekatan 5M diharapkan dapat menjadi jawaban yang mampu menghambat cepatnya penularan legion Corona-19 ini.
Pendekatan 5M kini semakin melengkapi kisi-kisi untuk membentengi diri dari serangan virus Corona dengan nomor punggung-19 ini. Tetapi nanti dulu rasa-rasanya ada satu hal lagi yang ketinggalan. Penyebarluasan rumus 5M ini sedang giat-giatnya dilakukan di seantero Kawasan negeri. Tetapi mungkin terlupakan, anjuran untuk mengkonsumsi gzi seimbang untuk memperoleh asupan zat gizi yang punya peran dalam meningkatkan imunitas tubuh. Nah disini ada persoalan tersembunyi, karena dampak ikutan Covid-19 ini juga mempengaruhi kondisi ekonomi yang dapat berujung pada lemahnya ketahanan pangan keluarga. Faktor yang memengaruhi juga banyak, disamping kemampuan keluarga menyediakan menu makanan bergizi seimbang, juga pengetahuan anggota keluarga terutama ibu dalam hal memilih, mengolah dan mengatur menu makanan yang siap mengungkit daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit termasuk akibat virus Corona ini.
Menyadari hal itu, nampaknya perlu disegerakan juga untuk menambah 1 M lagi. M yang satu ini memang tidak dapat hanya menjadi jargon yang digembar-gemborkan, namun harus ada tindakan kongkrit dalam wujud dukungan bagi semua golongan rentan yang didalamnya ada ibu hamil, anak balita, remaja perempuan, pasangan usia subur. Kesemua golongan ini mempunyai kebutuhan khusus dan resiko. Jika kebutuhan tidak terpenuhi makan resiko muncul mendatangi.
Indonesia sebelum dilanda pandemi termasuk negara yang berbeban cukup berat dalam mengatasi masalah gizi. Masalah kurang gizi kini tidak lagi berrtumpu pada masalah zat gizi makro yaitu protein dan energi, melainkan sudah bergeser pada tumpuan kurangnya zat-zat gizi mikro yaitu vitamin dan mineral seperti vitamin A, Iodium, dan zat besi. Jadilah beban ganda yang tidak mudah untuk ditangani. Kekurangan asupan zat-zat gizi mikro ini dalam kurun waktu lama membawa dampak yang lebih besar pada kualitas sumber daya manusia di masa depan. Selain fisik juga intelektualitas akan terhambat sehingga akan sulit menuju Indonesia dengan SDM unggul yang mampu bersaing dalam era digitalisasi yang semakin cangginh ini. Bagi anak perempuan sebagai calon ibu dan ibu hamil, jika kekurangan gizi sama juga dengan memproduksi sumberdaya manusia dengan kualitas KW.
Semoga hal-hal ini menjadi pangkal pemikiran untuk mencegah dampak lebih parah pandemi ini di masa yang akan datang. Salah satu cara tetap gigih memberikan pencerahan lewat penambahan 1M lagi yang disertai dengan tindakan kongkrit melalui berbagai program bantuan sosial yang sudah ada, sehingga tidak saja bantuan itu hanya menjadi PLO (penangkal Lapar Orang), tetapi sekaligus menyediakan sumber asupan gizi yang seimbang sebagai investasi di masa yang akan datang. Semoga.









