Legenda “Sangkuriang Kabeurangan” mengisahkan asal usul gunung Tangkuban Parahu yang terletak dalam wilayah Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang dan Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.
Gunung itu terbentuk akibat kemarahan Sangkuriang yang gagal memenuhi permintaan putri Dayang Sumbi yang sebenarnys adalah ibu kandungnya sendiri. Karena awet muda dan cantik, Sangkuriang pun jatuh cinta dan melamarnya.
Untuk menghindari cinta terlarang ini, Putri Dayang Sumbi mengajukan syarat agar Sangkuriang menyelesaikan satu tugas yang muskil. Ia harus membuat perahu dan membendung sungai dalam semalam. Pekerjaan itu harus selesai sebelum ayam berkokok.
Sangkuriang pun mengerah pasukan jin untuk segera membendung sungai dan membuat perahu. Namun Sangkuriang gagal karena diakali Dayang Sumbi yang mengajak para wanita memukul lesung penumbuk padi seolah hari telah pagi. Hal ini membangunkan ayam jantan dan berkokok seakan menandakan fajar akan segera terbit.
Sangkuriang yang mengira ia telah gagal pun murka lalu perahu yang belum selesai itu ditendangnya. Jauh melayang dan jatuh di wilayah antara Subang dan Lembang di lokasi gunung itu berada sekarang.
Kegagalan Sangkuriang dalam menyelesaikan tugas tersebut menyebabkan perahu yang ia buat dan ditendangnya itu dipercaya menjadi Gunung Tangkuban Perahu.
Kini gunung Tangkuban Parahu menjadi salah satu destinasi wisata di Utara kota Bandung yang ramai dikunjungi wisatawan.
Dulu semasa di SMA 3 Bandung bersama beberapa teman ketika hari libur kami sering melakukan kegiatan “cross-country” dari Bandung ke Lembang. Jarak rumah kami di Bandung ke Tangkuban Parahu sekitar 25 Km. Namun melalui jalan pintas jaraknya hanya sekitar 12 km yang kami tempuh melewati beberapa kampung dan ladang atau kebun dalam waktu sekitar 2.5 jam saja.
Bekal yang kami bawa berupa nasi timbel, ikan asin goreng, tahu atau tempe goreng dan sambal oncom. Itu sudah cukup karena ketika sampai di sekitar Kawah Ratu di Tangkuban Parahu, kami akan memetik daun Cantigi sebagai lalapan.
Daun. Cantigi terutama pucuknya yang muda, dapat dimakan sebagai lalapan.
Rasanya sedikit asam dan segar, bisa juga membantu menyegarkan tenggorokan saat haus dalam perjalanan. Buahnya ada sedikit rasa manis dan sedikit sepat.
Daun Cantigi memiliki kandungan zat gizi antara lain antosianin, klorofil, fenol, saponin, steroid, tanin, triterpenoid, flavonoid, dan bersifat antioksidan.
Ciri khas tanaman Cantigi
adalah pucuknya berwarna merah keunguan. Selain itu, tanaman ini juga menghasilkan buah- buah kecil berwarna merah atau ungu kehitaman saat matang yang menambah daya tarik pohon Cantigi.
Daun Cantigi dipercaya juga memiliki berbagai manfaat, seperti digunakan sebagai obat demam dan penyegar badan Buahnya pun dapat dikonsumsi sebagai penambah energi.
Cantigi, atau dikenal juga dengan nama lain Manarasa, merupakan tanaman endemik Indonesia. Tanaman ini sering ditemukan di area kawah pegunungan, di tanah yang mengandung belerang. Digolongkan sebagai tanaman perdu atau terrestrial, dan khas karena selalu menghijau sepanjang tahun. (Abraham Raubun, B.Sc, S.Ikom)




