BERSIKAP BAGAI SAMURAI BERPIKIR BAGAI NINJA

Terbaru24 Dilihat

Meski Samurai dan Ninja keduanya sama-sama terkenal dalam sejarah Jepang, tetapi memiliki peran, nilai, dan cara hidup yang sangat berbeda.

Kata “samurai” berasal dari kata “saburau” yang berarti “melayani.” Peran utamanya sebagai prajurit resmi bersenjata Katana. Mereka setia melayani tuannya kaum feodal (Daimyo), para bangsawan dan tuan tanah. Mengutamakan nilai kehormatan dan menjunjung tinggi loyalitas, disiplin, serta
keberanian moral. Bertarung dengan cara terbuka.

Berbeda dengan samurai yang bertempur terbuka demi kehormatan, ninja atau Shinobi kelompok khusus bekerja secara rahasia demi keberhasilan misi. Dalam sejarah Jepang dikenal memiliki tugas sebagai mata-mata, penyusupan benteng, pengumpulan informasi, sabotase, pengintaian, penyamaran, perang gerilya. Mengutamakan kesenyapan, kelincahan, kecerdikan, serta
kemampuan bertahan hidup.

Ninja muncul sekitar abad ke-14 hingga ke-15, terutama pada masa perang saudara Jepang di Periode Sengoku.
Gambaran ninja berpakaian hitam sebenarnya lebih banyak berasal dari teater Jepang.
Dalam kenyataannya ninja sering menyamar sebagai petani, pedagang, atau biksu,
mereka berusaha tampak biasa agar tidak menarik perhatian.

Beberapa samurai memandang metode ninja kurang terhormat karena menggunakan tipu daya dan serangan diam-diam. Namun dalam peperangan, jasa ninja sering sangat dibutuhkan.

Pelajaran yang dapat dipetik dari sejarah ninja menunjukkan bahwa dalam kehidupan, kekuatan tidak selalu tampil mencolok. Keberhasilan terkadang lahir dari:
kemampuan membaca situasi,
kesabaran, strategi, bekerja senyap tanpa mencari pujian.

Ninja mengajarkan bahwa kecerdikan sering sama pentingnya dengan kekuatan.
Karena itu bersikap bagai samurai, berpikir bagai ninja bijak untuk diteladani.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan