DENGAN SIAPA KITA BERJALAN

Terbaru3 Dilihat

Sebagai mahluk sosial manusia hidup membutuhkan orang lain. Tidak heran jika berada dalam kelompok. Bergaul dengan yang berperan sama untuk seiring setujuan.
Bahkan sering seseorang menonjol dan mencuat menjadi pemimpin dalam kelompok. Namun ada kata bijak mengingatkan: “lebih baik menjadi ekor Singa daripada menjadi kepala rubah atau serigala”. Maknanya lebih baik menjadi bagian kecil dari kelompok yang kuat dan hebat daripada menjadi pemimpin kelompok yang lemah atau kerdil. Intinya cukup dalam dan menyentuh persoalan pilihan hidup, kualitas lingkungan, serta integritas diri.

Sederhananya dapat dimaknai “ekor singa” melambangkan posisi kecil dalam kelompok yang kuat, mulia, dan berprinsip. Sementara “kepala rubah atau serigala melambangkan posisi tertinggi dalam lingkungan yang licik, oportunis, atau kurang bermoral.

Dalam kehidupan nyata, ini bisa jadi pengingat bahwa
hati-hati memilih lingkungan.
Tentu kutipan ini juga perlu dilihat secara seimbang. Tidak selalu buruk menjadi pemimpin (“kepala”), selama nilai dan lingkungannya sehat. Lebih baik ada dalam lingkungan yang sehat dan berintegritas, meski mungkin masih menjadi “no body” bukan siapa-siapa diawal.

Selain itu kutipan ini juga memesankan kerendahan hati. Menjadi “ekor singa” berarti siap belajar, berkembang, dan ditempa oleh lingkungan yang lebih baik. Sebaliknya, menjadi “kepala rubah” bisa menjerumuskan pada rasa puas diri dalam lingkungan yang sebenarnya tidak mendorong pertumbuhan. Ini
bukan menolak kepemimpinan, melainkan mengutamakan kualitas nilai dibanding posisi.
“Dengan siapa saya berjalan?” daripada sekadar “Saya berada di posisi apa?”.itu menjadi refleksi diri.
(Abraham Raubun. B.Sc, S Ikom)

 

Tinggalkan Balasan