MENEGAKKAN BENANG BASAH

Terbaru15 Dilihat

Ada adagium berbunyi: “Ruat coelum, fiat iustitia,- “Biarlah langit runtuh tetapi keadilan ditegakkan. Suatu Ungkapan berasal dari bahasa Latin, populer sebagai prinsip dasar penegakan hukum yang tidak memihak.

Pemenuhan hak seseorang tanpa diskriminasi, bertujuan untuk mencapai keseimbangan dalam kehidupan sosial, hukum, dan moral.

Namun menegakkan keadilan tak dapat dipungkiri tidak mudah dan tak sederhana. Terkadang ibarat menegakkan
“Menegakkan benang basah”. Pepatah ini menyuguhkan makna mendalam.

Ada kalanya dalam hidup, kita berdiri di hadapan sesuatu yang rapuh—terlalu lemah untuk ditegakkan, terlalu goyah untuk dipertahankan. Ibarat benang basah, ia lunglai, tak punya daya, bahkan seolah menertawakan usaha siapa pun yang mencoba menegakkannya. Namun justru di situlah, manusia diuji: apakah ia akan menyerah pada kenyataan, atau tetap berusaha memberi bentuk pada sesuatu yang hampir tak berbentuk.

“Menegakkan benang basah” sering dipahami sebagai usaha sia-sia. Pekerjaan yang seakan sejak awal sudah ditakdirkan gagal. Penilaian ini tidak sepenuhnya keliru. Hidup memang mengajarkan untuk realistis—bahwa tidak semua hal layak diperjuangkan, dan tidak semua keadaan bisa dipaksakan berubah. Namun, jika semua diukur hanya dengan kemungkinan berhasil atau tidak, maka banyak nilai luhur akan gugur sebelum sempat diperjuangkan.

Pepatah ‘Menegakkan benang basah” pengingat bahwa tidak semua perjuangan dinilai dari hasilnya. Ada perjuangan yang nilainya justru terletak pada keberanian untuk tetap setia, ketika segala sesuatu tampak tidak berpihak.

Banyak hal ketap kali tampak seperti “benang basah”.Namun ini bisa jadi bukanlah kebenaran yang lemah, melainkan dukungan yang belum cukup. Kebenaran bisa saja berdiri sendiri, tanpa kekuasaan, tanpa suara mayoritas, bahkan tanpa data yang lengkap pada awalnya. Dalam situasi seperti itu, mempertahankan prinsip terasa seperti memegang sesuatu yang terus melorot dari genggaman. Melelahkan, dan kadang membuat seseorang mempertanyakan: apakah ini perjuangan yang bijak, atau sekadar keras kepala?

Di sinilah diperlukan kejujuran pada diri sendiri. Tidak semua keteguhan adalah kebajikan. Ada kalanya bertahan bukan karena benar, tetapi karena enggan mengakui bahwa perlu berubah. Ada kalanya berdalih dibaluk apa yang disebut prinsip, padahal itu ego yang terselubung. Maka menegakkan benang basah menuntut lebih dari sekadar keberanian—ia menuntut kejernihan hati untuk membedakan mana yang layak diperjuangkan, dan mana yang sebaiknya dilepaskan.

“Benang basah” bisa berubah menjadi simbol ujian integritas. Apakah seseorang tetap berdiri pada yang benar meski tidak ada yang mendukung? Apakah tetap menyuarakan yang jujur meski suara tenggelam dalam kebisingan? Sekalipun.langit runtuh, keadilan tetap harus ditegaskan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan