MENGANGKAT MINAT BACA ANAK DI ERA MEDIA SOSIAL

Terbaru9 Dilihat

Di era media sosial kini, informasi semakin melimpah, namun hasil penelitian menunjukkan nampaknya kemampuan anak-anak membaca dengan pemahaman justru menipis.

Menarik jika menyimak data dari Programme for International Student Assessment (PISA). PISA menyodorkan satu kenyataan yang patut direnungkan: sekitar 75% siswa Indonesia usia 15 tahun belum mencapai Level 2 dalam literasi membaca. Ini bukan sekadar angka statistik, melainkan cermin dari bagaimana generasi muda Indonesia berhadapan dengan informasi, memahaminya atau sekadar melewatinya begitu saja.

Level 2 dalam PISA yaitu tingkat minimum dalam hal membaca. Itu tingkat terendah atau batas minimal untuk mampu memahami ide utama, menghubungkan informasi sederhana, dan menarik kesimpulan dasar.

Sebagian besar anak Indonesia belum mencapai titik ini. Menurut data Skor penilaian terus menurun sejak tahun 2015. Data menunjukkan anak-anak yang mencapai level 2 hanya 25% jauh di bawah Singapura yang mencapai Level 2 atau lebih tinggi yaitu sebesar 89%.

Menyimak informasi PISA ini muncul pertanyaan yang bukan lagi “apakah mereka bisa membaca?”, tetapi “apakah mereka benar-benar memahami apa yang mereka baca?”

Membaca tanpa memahami
hidup di zaman modern ini menjadi aktivitas yang terus berlangsung. Ironisnya, pemahaman justru menurun. Anak-anak dan remaja hari ini tidak kekurangan teks. Mereka membaca setiap hari: caption, komentar, headline, notifikasi. Tetapi yang terjadi seringkali adalah membaca yang dangkal, sekilas, cepat, dan segera dilupakan.

Membaca bukan lagi proses merenung, melainkan aktivitas “Scroolling” atau menggulir layar hp. Dampaknya ketika pemahaman tidak terbentuk, informasi tidak menjadi pengetahuan. Ia hanya menjadi potongan-potongan informasi yang berserakan, tanpa makna yang utuh.

Media sosial bisa menjadi lautan Informasi yang dangkal. Ia menghadirkan paradoks yaitu pernyataan, situasi, atau argumen yang tampak bertentangan, absurd, atau melawan logika umum, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran atau poin yang valid.

Di satu sisi, informasi tersedia tanpa batas. Di sisi lain, kedalaman pemahaman justru semakin menipis. Judul-judul sensasional lebih menarik daripada isi. Visual lebih cepat ditangkap daripada teks panjang. Terlebih opini sering disajikan seolah fakta.

Terpaan arus informasi seperti itu, menjadikan mereka yang tidak memiliki kemampuan membaca kritis akan mudah terseret. Banyak yang membaca judul, lalu merasa sudah mengetahui keseluruhan cerita. Tidak jarang pula satu informasi dipercaya hanya karena sering muncul, bukan karena kebenarannya telah diuji. Di sinilah literasi membaca menjadi benteng. Tanpa itu, media sosial bukan lagi sumber pengetahuan, melainkan ruang yang rawan membentuk persepsi yang keliru.

Kelemahan dalam membaca bukan hanya berdampak pada akademik, tetapi juga pada cara seseorang membentuk keyakinan. Informasi jika tidak dipahami dengan baik mudah berubah menjadi kesimpulan yang salah. Kesimpulan yang salah, jika diulang dan diperkuat oleh lingkungan digital, bisa berubah menjadi keyakinan. Inilah yang membuat seseorang terutama anak-anak mudah terpengaruh, terprovokasi, dan sulit menerima sudut pandang lain. Banyak informasi, tetapi kurang kemampuan untuk mengolahnya.

Ada hal yang lebih mengkhawatirkan, rendahnya literasi membaca dan pola konsumsi media sosial itu saling memperkuat. Kemampuan membaca yang lemah membuat seseorang cenderung memilih konten yang ringan dan cepat. Sementara itu, kebiasaan mengonsumsi konten instan semakin mengikis kemampuan untuk membaca secara mendalam. Terbentuklah lingkaran yang perlahan menurunkan daya pikir kritis.
Jika dibiarkan, tidak hanya menghadapi generasi yang kurang membaca, tetapi generasi yang kesulitan memahami.

Membaca seharusnya bukan sekadar aktivitas, melainkan proses membangun makna. Ia membutuhkan waktu, perhatian, dan keterlibatan pikiran. Dalam dunia yang serba cepat, kemampuan untuk berhenti sejenak dan memahami menjadi semakin berharga.

Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi penting. Membaca perlu dihidupkan kembali bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai kebutuhan. Anak-anak perlu diajak tidak hanya membaca, tetapi juga bertanya, berdiskusi, dan meragukan informasi.

Di tengah derasnya arus media sosial, kemampuan membaca yang baik bukan lagi sekadar keunggulan—ia adalah perlindungan.

Terpaan banjir informasi mungkin tidak bisa dihentikan. Namun mempersiapkan generasi muda untuk tidak tenggelam di dalamnya bisa dilakukan. Karena masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak informasi yang dimiliki, tetapi oleh seberapa dalam informasi itu dipahami. Semua itu berawal dari satu hal sederhana yang kini semakin langka: membaca dengan sungguh-sungguh.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan