NEGERI BERDINDING EMAS, HATI BERDINDING KAYU

Terbaru3 Dilihat

Riuh pekik bercampur serapah dari mulut-mulut anak negeri yang turun kejalan. Kesal dan amarah tersembur tidak hanya lewat mulut dan bibir. Nyata terpapar lewat kaki dan tangan menerpa berbagai sasaran.

Panas hati yang membara mengalahkan teriknya panas matahari di mana-mana. Kertak gigi yang geram menghambur nafsu menerjang semua yang menghadang.

Keos..itu …… apakah hanya tercetus sebagai buntut dari tingkah polah eforia menyambut hadiah negara atas kedudukan yang mengatasnamakan rakyat jelata. Lalu meletus disulut selipnya lidah melontar kata tanpa peduli rasa terhadap mereka yang telah lama terhimpit dan terlilit derita.

Ataukah sakitnya luka menahun yang mengiris hati dan menggerus kehidupan dari hari kehari meski perlahan tapi pasti. Kondisi yang menghimpit anak negeri yang menyesak akibat sikap arogansi mereka yang berkedudukan tinggi tapi lupa diri.

Kata bijak menabur pesan
Apalah arti jabatan tanpa kepedulian pada rakyat yang membutuhkan. Padahal sejatinya setiap orang yang bekerja wajib mendapat upah. Namun jika tak bekerja lalu mendapat upah dan tanda jasa rasanya tanpa nalar yang bijaksana. Hanya akan menebar kegelapan menutupi asa.

Rasa-rasanya ketika negeri ini masih berdinding kayu, penghuninya berhati emas. Namun ketika negeri ini sudah berdinding emas, anak negerinya berhati kayu.

Apakah ini makna merdeka. Membuka peluang berperilaku sesukanya bagi mereka yang kemaruk harta. Hidup dalam bangunan bagai istana. Tak peduli pada mereka yang hina papa di luar sana.

Memang tak guna mengutuk kegelapan, lebih bijak menyalakan lilin. Namun kini bukan lilin yang menyala tetapi api yang membara. Perlahan merambah ke seluruh pelosok nusantara. Marahlah….tapi jangan murka…jangan biarkan angkara bertahta dalam rongga dada.

Dan ingat pesan bapak bangsa “perjuanganmu memang lebih berat dihadapi karena melawan
bangsa sendiri”. Jawablah orang bodoh dengan kebodohannya. Jawablah orang pintar dengan kepintarannya.

Reaksi masa yang ada sejatinya bukan menjawab orang bodoh melainkan bereaksi terhadap orang bebal. Orang bebal itu tak akan pernah mau mendengar masukan yang diberikan.
(Abraham Raubun. B.Sc, S.Ikom)

Tinggalkan Balasan